Aku takkan pernah mengerti kapan aku akan mencapai langit tertinggi. Begitu banyak hal yang terlewatkan dalam hidupku. Aku terlalu berkutat dengan satu hal yang tak pernah pasti, tapi adakah yang pasti di dunia ini. Kupikir semuanya tak pernah ada yang statis, aku pikir semuanya berjalan pada porosnya masing-masing dan dipengaruhi oleh gaya2 yang ada di sekitarnya.
Aku masih saja sibuk di porosku tanpa mau tau apa yang terjadi luar sana. Semuanya membuatku membentuk suatu karakter kolot pada diriku. Walaupun aku mencoba membuka diri terhadap dunia luar, aku tetap merasa takut untuk mencoba meraihnya. Aku seseorang yang sangat takut untuk merasa kehilangan. Tapi aku tak pernah akan merasa kehilangan kalau aku tak pernah marasa memiliki. Sialnya aku tak tau batas memiliki dan tak memiliki. Terkadang aku baru sadar memiliki sesuatu ketika aku kehilangannya. Lainnya, aku merasa kehilangan sesuatu tanpa aku benar-benar memiliki itu. Perasaan, kadang aku benci memiliki perasaan. Itu suatu beban jika aku terluka karenanya.
Aku menengadah mencoba melihat dunia luar. Aku begitu terkesima melihatnya. Aku belajar dari porosku, belajar tentang dunia di luar sana. Tapi aku takut suatu saat aku takkan bisa melihat semua itu dikala porosku membawaku ke tempat lain. Aku tak mau kehilangan. Tapi akupun tak kuasa membawa itu semua berotasi padaku. Mereka punya jalur dan porosnya sendiri. Aku hanya sekedar berhenti, melihat, mengagumi dan belajar atas apa yang kulihat.
Mungkin aku kurang ikhlas. Mungkin aku melupakan langit di atasku. Aku masih harus mencapai langit tertinggi dengan banyak pengorbanan. Dan pengorbanan itu terkadang harus kehilangan. Tapi aku berharap dan berdoa aku tak kehilangan pegangan hidupku.
No comments:
Post a Comment