Friday, April 24, 2009

Bergedup Kembali

Deguban itu kembali ketika muncul suara-suara. Suara yang dapat memacu dia untuk berlari lebih cepat. Bukan, bukan suara, hanya sosok yang mambuatku bagaikan mendengar suaranya lagi. Segala nasehat dan candanya. Tapi sosok itu berbeda dengan sosok lama.

Sosok lama tak lagi bisa membangunkan deguban itu. Seberapun kerasnya aku mencoba membangunkan dengan sosoknya. Aku tak lagi terluka mengingatnya, tak lagi lemas seketika.

Akhir-akhir ini banyak kejadian yang mebuat dia kembali berdegub dan membuatku lemas. Nafas panjang tak cukup untuk membuatnya tenang kembali. Aku mencoba berpaling sejenak berharap mengalihkan perhatian deguban itu, tetapi dia tetap menjadi penghianat. Penghianat yang menimbulkan segala kekacauan dalam sistem tubuhku.

Dia tak mau tau kapan dia akan terbangun dan berdegub, kapan dia akan tertidur. Dia tak peduli pada apa yang ku perbuat. Jika memang sistemku membangunkannya maka dia akan bergedub dan membuat semua sistemku hampir mati. Kadang dia menorehkan luka-luka yang membuat aku ngilu.

Kesal dengan deguban itu. Aku mencoba untuk berlari meninggalkannya. Tapi ternyata semakin cepat aku berlari sepakin cepat dia bergedup. Harus aku sadari dia adalah satu kesatuan dalam hidupku. Tapi aku hanya ingin bisa sedikit meninabobokannya, agar tak membuatku ngilu lagi. Setelah lelah, aku hanya bisa tersenyum memandangnya, dan senyuman itu akan menguatkan lagi deguban itu.

No comments: