Jogjakarta, 10 Juli 2008
Aku patah hati untuk yang kesekian kalinya oleh orang yang sama. Ya, orang itu. Orang yang selalu aku pikirkan, ironisnya dia yang selalu membuatku marah dan kehilangan akal sehatku.
Sampai kapan aku harus memaafkan dirimu atas segala hal yang telah kau lakukan, hal yang di luar kemauanmu menyakitkan diriku. Sampai kapan aku bisa tetap tersenyum dalam menghadapimu? Sampai kapan aku bisa bertahan.
Terkadang aku mulai ragu dengan anganku untuk memilihmu sebagai temanku. Teman selamanya dimana aku bisa menumpahkan semua rasaku padamu. Namun terkadanga ada satu kekuatan yang meakinkanku bahwa memang kamu satu-satunya teman terbaik yang nantinya akan ku dapatkan sebagai permintaanku.
Sekali waktu aku berusaha untuk tetap bertahan dengan semua yang ada. Ok, hari ini aku akan katakana selamat tinggal, tapi besok, nanti atau bahkan 1 detik setalah aku mengucapkan itu, aku akan berkata aku tak mampu melupakanmu. Dan aku memang tak mau melupakanmu. Walau akhirnya memang kamu bukan untukku, tapi kamu dalah kenangan terindah, satu kenangan yang pernah ku dapat sebagai bukti bahwa hatiku masih bisa hidup untuk bisa merasakan pahit. Sampai saat itu aku merasa cukup bijak bahwa membunuh perasaan dan membarkannya melupkan suatu kenangan yang terpahit pun adalah tindakan yang bodoh yang nantinya akan menikam diriku dari belakang, karena aku sadar bahwa sesering apapun aku mencoba melupakanmu, maka sesering itu pula aku mengingatmu dan tenggelam pada masa laluku.
No comments:
Post a Comment