Friday, October 25, 2013

Catatan Kecil (satu)

Saya tadi sempat mampir sebentar di toko buku. Sebenarnya toko buku adalah godaan terbesar saya dalam memegang uang, karena saya suka membaca novel. Hanya saja entah mengapa saya sedang malas untuk membaca novel-novel drama seperti metropop. Jujur novel itu kadang (atau bahkan selalu) sukses membuat saya galau dan mengingat-ingat lagi rasa yang sempat hadir dalam hidup saya. 

Saya sedang tidak ingin galau. Tapi saya ingin membuat orang lain galau. Bukan, saya tidak cari masalah. Saya hanya stuck dengan project pribadi saya yang gak kelar-kelar. Terkadang ganti alur yang malah membuat cerita makin rumit. Saya hanya ingin cerita itu sesimple mungkin. 

Lalu, kenapa saya membuat tulisan ini? Hanya catatan kecil bahwa saya mulai kehilangan rasa. Rasa yang mana, saya juga masih tak paham. Bukan karena tak ingin, hanya saja ada suatu yang lebih besar yang harus saya wujudkan dahulu. Mungkin memang saya harus berdamai dengan perasaan saya dan mulai menikmatinya. Mungkin. 

Setidaknya saya tidak kehilangan rasa untuk ingin menulis lagi :)

Sunday, October 13, 2013

Guci, Wisata Air Panas di Utara Jawa

Mungkin banyak yang sudah tahu keberadaan tempat wisata satu ini. Bagi yang belum tahu, Guci adalah salah satu tempat wisata air panas di Jawa Tengah, tepatnya di daerah Bojong, Tegal. 

Setelah sekian lama bolak-balik ke Tegal akhirnya saya punya kesempatan mengunjungi tempat wisata di kaki Gunung Slamet ini. Saya pergi bersama kedua orang tua saya seorang adek sepupu saya  dan Pak dhe. Cukup menyenangkan perjalanan kali ini. Ayah dan Pak Dhe saya memiliki kenangan sendiri ketika masih muda di sini. Kata mereka, dulunya Guci tak seramai sekarang. Dulu masih sepi, belum bnayak rumah penduduk. 

Jalanannya berkelak kelok dan menanjak. Di kanan kiri saya melihat banyak kebun kubis dan beberapa kebun strawberry, dataran tinggi memang cocok untuk mengembangkan kedua tanaman itu. Saya pun berniat membeli strowberry sepulangnya dari guci nanti. 

Semakin naik, saya merasakan tekanan udara yang sudah agak berbeda. Kuping saya agak tidak nyaman dengan perbedaan tekanan ini. Berkali-kali saya menelan ludah untuk menyamankan kuping saya. Namun, saya tetap memanjakan mata saya dengan melihat kebun-kebun di sepanjang jalan. 

Jalanan terlihat sepi pada awalnya, tetapi ternyata di spot parkir sudah macet. Kami agak susah mencari tempat parkir. Ini salah satu faktor yang sangat disayangkan. Terlalu banyak mobil dan kurang tersedianya lahan parkir. Yang lebih mengecewakan lagi kantor dinas pariwisata pun tidak bertindak. Saya hanya melihat segelintir orang di dalam kantor itu sedang bercakap-cakap ringan tanpa mau peduli dengan keadaan di sekitarnya yang macet, semrawut dan bisa dibilang kurang terurus. Saya menyadari mungkin itu faktor very long weekend, tetapi paling tidak ada dong sedikit pengaturan supaya terlihat lebih teratur.

Kami sampai sekitar pukul 11.00 siang. Kabut sudah mulai turun. Saya kurang bisa menikmati wisata ini karena terlalu banyak orang yang datang. Terlalu ramai, menurut saya.

Sebenarnya saya tertarik untuk menuju ke sumber air panas yang masih berbau belerang, hanya saja melihat ratusan orang yang sudah ada di sana mengurungkan niat saya untuk menuju tempat itu. Akhirnya saya hanya merendam kaki saya di pemandian air panas tertutup. Tempatnya seperti kamar mandi dengan satu bathtub setiap kamarnya. Air panas dari sumber mata air itu dialirkan lewat pipa-pipa ke bathtub itu, sehingga bathtub itu selalu penuh. Yang membuat sedikit kurang menarik, adalah airnya sudah tidak berbau belerang. Padahal saya ingin sedikit mencium bau belerang pada air itu. 

Tidak lama kami ada di pemandian tertutup itu. Kabut sudah semakin tebal, udara makin dingin dan gerimis juga mulai turun. Pulangnya saya sempatkan membeli sedikit manisan cermai, makanan yang menurut saya jarang saya temui akhir-akhir ini. Perjalanan pulang saya masih merasa kurang puas untuk mengeksplor guci. 

Menurut saya guci adalah salah satu tempat yang menyenangkan untuk melakukan perkumpulan keluarga, misalnya. Sayang saat itu pemilihan waktunya kurang tepat, sehingga kami tidak terlalu bisa menikmati guci. Mungkin suatu saat kami bisa mengambil libur dari pekerjaan kami dan meluangkan waktu bersama keluarga untuk menikmati tempat-tempat wisata seperti ini. Saya memang berharap untuk itu.

Monday, July 1, 2013

Kita

Indah ketika kata “Kita” terucap dari mulutmu. Seolah mengandung suatu magic, satu kata itu cukup membuat penabuh genderang ini bersemangat. Tidakkah kau dengar betapa kuatnya dia berdebar sayang?

Kita adalah aku dan kamu . Aku dan kamu pernah punya masa lalu. Aku dan kamu pernah merasa di sakiti. Aku dan kamu pernah menyakiti. Aku pernah menyakitimu, kamu pun pernah menyakitiku. Lalu mengapa kita masih mengulanginya lagi dan lagi, sayang?

Kita mempunyai banyak persamaan. Kita sama-sama manusia. Kita sama-sama punya perasaan. Terkadang kita punya pikiran yang sama. Kata-kata kita pun terkadang sama. Kita sama-sama pernah bimbang dengan perasaan kita. Jika begitu samanya kita, kenapa kita tidak bisa memahami satu sama lain, sayang?

Kita berbeda satu sama lain. Aku dengan segala keegoisanku dan kamu dengan segala pembenaranmu. Aku mencoba untuk mengerti pembenaranmu. Aku tahu kamu paham keegoisanku. Lalu, mengapa kita tidak pernah mencoba untuk menjadikannya satu?


Terlalu banyak pertanyaan tentang kita. Bagaimanakah kita nanti? Bisakah kita bertahan dengan semuanya? Seperti apa awal baru untuk kita? Dan sebagainya. Tidakkah kau lelah dengan semua itu. Ya, aku lelah. Bukan berarti aku tak lagi ingin, aku hanya lelah bertanya. Bertanya tentang kita, pada diriku sendiri.

Jakarta Kali Kedua

Subuh, saat kota ini mulai menggeliat hidup. Ah, aku lupa kota ini tak pernah mati. Dia hidup 24 jam sehari. Kali ini aku datang lebih berani dari sebelumnya, hanya saja aku masih menyimpan ketakutan yang sama.

Fajar di kota ini tidak lebih baik dari kotaku. Bau sampah sudah tercium bahkan saat fajar. Aku menyadarinya karena aku yang menghabiskan waktu sambil mengamati fajar tiba di kota ini dan detilnya. Beberapa ekor nyamuk juga meramaikan pagiku di kota ini. Nyamuk-nyamuk sebesar nyamuk kebun mengerubutiku ketika aku masih mengetik ceritaku.Tak beda banyak dari ingatanku di siang hari, kota ini sama sibuknya. Entah itu siang atau malam bahkan ketika matahari baru akan menampakkan diri. 

Aku duduk dilantai tak jauh dari tempat penurunan penumpang. Bersamaku ada beberapa orang yg tidur beralaskan koran. Sekedar melepaskan lelah setelah perjalanan jauh ataupun menunggu matahari agak tinggi untuk melanjutkan perjalananan lagi.

Kereta lain datang membawa orang-orang dengan berbagai tujuan ke kota ini. Bau parfum bercampur keringat tercium juga olehku. Beberapa orang bergegas keluar dari stasiun sambil membawa tas, ransel, koper dan beberapa kardus. Sisanya berjalan santai sambil memandang orang-orang yang tidur di lantai itu. Wajah mereka seolah bertanya mengapa kami memilih beristirahat dan tidur di lantai daripada langsung keluar dari stasiun dan mencari penginapan atau pulang ke rumah. Walaupun sempat merasa aneh dengan pandangan mereka aku toh tetap acuh dan menuliskan ceritaku sambil merebahkan badanku berbantal tas ranselku. Sepertinya keacuhkan penduduk kota ini mulai menular padaku. 

Kali ini aku lebih siap. Lebih siap untuk menaklukan kota ini. Untuk merasakan panasnya kota ini. Aku mulai terbiasa dengan bising bus, metromini dan bau sampah di kota ini. Aku sepertinya tidak akan sekaget dahulu. 

Langit mulai terang. Orang-orang mulai terbangun dan mempersiapkan perjalanan selanjutnya. Ranselku pun sudah tergendong di bahu, aku pun akan melanjutkan perjalanan singkatku ini.



__Stasiun Pasar Senen, 28 Juni 2013__

Tuesday, May 28, 2013

Orang-orang di Kereta

Suatu hari ketika aku duduk di dalam suatu gerbong kereta ekonomi yang membawaku pergi meraih mimpiku. Aku duduk bersama 5 penumpang lainnya. Tiga orang yang duduk di hadapanku adalah seorang ibu, gadis sebayaku dan juga seorang remaja putri. Dua orang lagi di sampingku adalah sepasang kekasih.

Ku perkirakan Sang Ibu berusia lebih dari 50 tahun. Karena beliau yang pertama duduk di kursi depanku, aku sempat mengobrol sedikit dengannya. Beliau bercerita ini pertama kalinya beliau meninggalkan kota ini. Beliau pergi untuk menemui anak lelaki tunggalnya yang sudah 4 tahun menikah dan baru dikaruniai seorang putri. 
"Nak, nanti Ibu dikasih tahu ya, kalau sudah sampai di Stasiun Cirebon."
Aku hanya tersenyum mengiyakan permintaan Sang Ibu. Kemudian beliau bercerita tentang Rudi, anak lelaki tunggalnya itu dan juga Ratih, istrinya.
"Sebetulnya ibu kurang suka dengan Ratih. Karena hidup berkecukupan dia jadi agak manja, kurang prihatin. Awalnya Ibu agak khawatir, tapi mau gimana lagi, lah Rudi wes kadung tresno. Apapun Ibu lakukan asalkan Rudi bahagia."

Tak berapa lama kereta mulai penuh dengan orang-orang yang akan pergi meninggalkan kota ini. Kemudian perlahan roda kereta mulai berputar meninggalkan stasiun. Di sampingku, Si Remaja Putri mulai sibuk dengan gadgetnya. Kebiasaan anak muda jaman sekarang. Smartphone-nya tak henti berdenting menandakan beberapa notifikasi yang masuk. 

"Adek mau kemana?" Sapaku pada Si Remaja Putri.
"Ke Purwokerto, Kak." Aku sebetulnya agak risih kalau dipanggil dengan sebutan kakak. Kurang akrab di telingaku. Dari sapaannya padaku aku bisa menebak dia adalah mahasiswi baru di kota ini.
"Kuliah di sini?" Tanyaku dan dijawab hanya mengangguk.
"Ambil jurusan apa?" Lanjutku.
"Komunikasi." Kemudian dia kembali sibuk dengan gadgetnya.

Kereta makin menjauh dari kotaku, tetapi belum juga mendekat ke kota tujuan. Satu-satu para penumpang terlelap. Sang Ibu di sebelahku juga sudah terlelap jauh ke alam mimpi. Sementara Si Remaja Putri telah turun beberapa saat yang lalu tanpa permisi. Gadis yang sebaya denganku masih tetap duduk menghadap jendela. Entah tertidur atau hanya memandang kosong pohon-pohon yang seolah bergerak mundur seiring laju kereta. 

Kemudian kereta berhenti beberapa saat di Stasiun Prupuk. Sepasang kekasih itu terbangun. Si laki-laki berpamitan sebentar keluar hendak merokok. Lalu si wanita tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya dan bertanya beberapa pertanyaan basa-basi. 
"Mau kemana, Mbak?" Tanyaku.
"Ini, mau ke rumah Mas saya. Dia ngajak saya untuk ketemu sama orang tuanya. Kalau Mbak sendiri?" Jawabnya ramah.
"Oh, Saya ke Jakarta, untuk lanjut ke tempat lain. Panggilan kerjaan." Kataku.
"Wah, sepertinya menyenangkan. Saya gak pernah boleh kerja jauh-jauh dari orang tua saya. Makanya kuper. Ini aja kalau gak diajak Mase saya gak bakal pergi sejauh ini," katanya. "Saya sebenernya takut, Mbak ketemu sama orang tuanya Mas Arno. Saya takut gak disukai. Ini pertama kalinya buat saya ketemu sama orang tuanya pacar saya. Orang jauh lagi," Lanjutnya.
"Oh, gitu ya, Mbak. Saya malah belum pernah tuh," kataku sambil tersenyum. Pikiranku kemudian melayang sesaat. Wajahnya kembali terbayang. Wajahnya yang aku rindukan, tapi bahkan hingga aku meninggalkan kotaku dia tak juga memunculkan dirinya sekedar berkata "selamat tinggal."
"Mbak sepertinya kerjanya jauh ya? Saya kadang pengen seperti Mbak, bisa kemana-mana," katanya.
"Gimana kalo gak usah panggil 'mbak', panggil aja namaku, Dewi. Kerjaanku itu main. Cari duit buat keluarga, sisanya di pake main-main. Yah, mumpung masih sendiri," kataku tersenyum. 
"Namaku Ayu. Tapi tetep aku pengen seperti kamu, Wi. Aku dan Mas Arno kerja di satu perusahaan dan perusahaan tidak memperkenankan suami istri bekerja di sana. Salah satu dari kami harus keluar. Sepertinya aku yang harus keluar. Mas Arno pernah bilang dia gak mau aku kerja nanti setelah kami menikah."

Kemudian Mas Arno masuk ke dalam kereta, seketika itu percakapan terhenti. Kami sibuk dengan urusan kami lagi. Aku mulai mendengarkan musik, dan kedua pasangan itu mulai mengobrol lagi. Mendekati Stasiun Cirebon aku membangunkan Sang Ibu perlahan. Membantunya untuk menurunkan beberapa tasnya. Sampai di Stasiun Cirebon Sang Ibu dan kedua pasangan itu turun.  

Kereta makin mendekati tujuan akhirnya. Kini tinggal aku dan Si Gadis yang sedari tadi duduk menatap keluar jendela. Kemudian dia menatapku dan tersenyum. "Mbak mau kemana?" Dia bertanya padaku.

"Jakarta. Kalau Mbak sendiri?" Tanyaku balik padanya.
"Saya mau pulang, Mbak. Ke rumah orang tua saya. Tapi saya khawatir. Saya takut. Saya sudah melakukan kesalahan besar," dia berbicara setengah melamun. 
"Setiap orang punya kesalahan, Mbak." Jawabku berusaha sekedar menghiburnya.
"Dulu, saya kabur dengan orang yang saya cinta. Laki-laki itu yang sekarang mencampakkan saya. Orang tua saya tak pernah setuju saya berhubungan dengannya. Jadinya saya kabur, Mbak. Sekarang saya tahu apa kekhawatiran orang tua saya. Saya menyesal, tapi waktu tak pernah berputar kembali kan? Saya bingung, saya harus kemana lagi. Satu-satunya harapan dari saya adalah saya pulang dan minta maaf sama orang tua saya walaupun saya takut sekali." Ceritanya seperti menahan rasa pedih yang dalam. 

Aku diam mendengar ceritanya.  Aku mendengar ceritanya sambil merenungkan kisahku. Aku iri padanya. Dia sangat berani menerima kesalahannya dan mungkin menanggung akibat dari kesalahannya. Akankah orang tuanya memaafkannya? Aku yakin mereka memaafkannya. Tak ada orang tua yang tak sayang dengan anaknya. Ibuku pernah bercerita, sebesar apapun kesalahan seorang anak, orang tua pasti akan dengan tangan terbuka memaafkannya dan menerimanya kembali. 

Wajah orang tuaku terkenang. Aku pergi hanya dengan restu orang tuaku. Aku mulai membayangkan wajah orang tuaku ketika nantinya mereka menyambutku pulang. Akankah mereka bahagia? Akankah mereka memaafkan segala kesalahan dan ketidakpedulianku pada mereka? Lalu aku mengingat remaja putri di sebelahku. 

Seorang remaja putri yang sangat tidak peduli sekitarnya. Aku pun pernah begitu. Tak peduli dengan sekitarku. Aku berjalan terus tanpa mempedulikan apa kata orang. Apa yang aku mau lakukan akan aku lakukan. Orang-orang di sekitarku hanyalah sebuah peramai dalam hidupku. Tokoh utama dalam hidupku adalah aku. Dulu, jika aku tak menyukai seseorang aku akan berkata tidak padanya. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya. 

Aku pergi tanpa sedikit pun melihat wajah orang itu. Fikiranku mulai terpenuhi olehnya. Dimana dia sekarang? Masihkah dia akan menungguku seperti yang pernah dia isyaratkan? Aku telah lama tak mendengar suaranya. Aku telah lama tak melihat senyumnya. Aku kemudian teringat Ayu. 

Dia bersama kekasihnya akan meminta restu pada orang tua si lelaki. Lalu akankah ada waktuku untuk merasakan apa yang Ayu rasakan? Kekhawatiran dia, rasa senangnya, rasa gugupnya. Aku iri pada Ayu. Dia telah sampai di titik itu.  

Kemudian wajah Sang Ibu di sebelahku terkenang. Seorang ibu yang sangat bahagia karena akan menemui cucu pertamanya. Walaupun awalnya kurang menyukai Si menantu tetapi toh dia tetap merasakan kebahagiaan atas kelahiran cucu pertamanya. Wajah ibuku kembali terkenang. Walaupun bukan anak tunggal, aku adalah satu-satunya anak perempuan dengan dua kakak lelaki. Sudahkah Ibu berharap aku segera mengkahiri masa lajangku?

Keretaku kali ini membawa banyak cerita, membawa banyak harapan, membawa banyak pelajaran. Keretaku mulai melambat dan sampai akhirnya berhenti di tujuan akhirnya. Pada akhirnya akupun akan berhenti di tujuan akhirku, hanya saja aku masih mencarinya.


Tuesday, May 21, 2013

Bivak and Be F*cked

Today, in my English course we had to make a group of 3 and discussed about obligation and permission of our English Course. We must create the name of our English Course the rule for teachers and students. Today i was in group with Bondan and Karin.

Then, Karin said that the name of our English Course must be BVK. Suddenly I said how if the name of our English Course is BIVAK, and it was approve.

The lecturer said that each group must tell about their English Course. And viola, when Baron said that our English Course name was Bivak they all think that it was  be f*cked.


Moral message : Bivak and be f*cked has a different meaning even sounded almost same

Apa Artinya Cermin

Kenapa kita membrengsekan keadaan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan?

Aku mengingat cerita tadi pagi. Seseorang berkata padaku apa artinya cermin. Cermin itu untuk memandang diri. Sebelum kita memandang orang lain, pandang diri sendiri dulu. Ketika ada seseorang yang lebih buruk dari kita, tak perlu kita merasa dia hina. Lebih baik jika bersyukur kita diberi keadaan yang lebih baik dari dirinya. 

Ketika kita kurang dari orang lain, kenapa mesti iri. Kita boleh kok untuk menirunya selama itu baik untuk diri kita. Semakin kita mengoceh buruk tentang kelebihan orang lain, semakin kita terlihat iri dan tidak mampu. Kenapa kita tidak belajar untuk menjadi lebih dan lebih baik lagi. Meniru itu bukan berarti kita harus menjadi dia. Orang diciptakan berbeda-beda sifat. Tapi tidak ada salahnya untuk berusaha menjadi lebih baik.

Kenapa harus mengumpat? Mengumpat berarti tidak mau bersaing dengan sehat. Semakin banyak mengumpat semakin terlihat tidak percaya diri. Semakin banyak mengumpat semakin terlihat kelemahannya. Semakin terlihat tidak mampu. Kenapa mesti tidak percaya diri? Toh pasti setiap manusia memiliki kelebihannya sendiri yang tak dimiliki orang lain.

Lihat lagi di cermin. Di sana ada semua tentang dirimu. Kebaikanmu, keburukanmu. Kelebihanmu, kekuranganmu. Buka lagi fikiran, lihat lagi dari lebih banyak sudut pandang, jadilah lebih baik dan lebih bijak dalam hidup.


===SEBUAH RENUNGAN===