Apa yang bakalan kamu lakukan ketika bertemu dengan seseorang yang kamu kagumi? teriak histeris, ngejar dia minta tanda tangan, atau mungkin foto bareng?
Kalau saya...saya juga tak pernah memikirkan apa yang saya akan lakukan ketika bertemu dengan orang yang saya kagumi. Tapi itu terjadi pagi ini.
Lepas berenang saya makan di salah satu tempat makan dan bertemu dengan seseorang yang saya kagumi. Apa yang saya lakukan? saya hanya menyapanya menyebutkan nama dan berjabat tangan. Sekedar basa-basi dia bertanya : "sudah selesai makan?" Saya hanya menjawab "baru pesan" sambil tersenyum lalu berlalu ke meja saya.
Simple, tapi tak sesuai yang saya harapkan. Setelah kejadian singkat itu saya berandai-andai jika saja saya tadi sempat mengobrol atau apapun yang membuat saya bisa mengenal lebih dekat dirinya, pasti menyenangkan. Tetapi apa yang telah saya lakukan tidak bisa membuat dia bahkan mengingat wajah saya nantinya.
Kami begitu berbeda melihat satu sama lain. Buat saya, dia adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang saya kagumi, sedangkan buat dia saya hanyalah orang asing yang kebetulan mengenalnya.
So, ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu kagumi, apa yang akan kamu lakukan? Karena apapun yang kadang terlintas dipikiranmu tidak selalu sejalan dengan apa yang kamu lakukan saat situasi itu datang padamu.
Wednesday, June 29, 2011
Friday, June 17, 2011
Budayakan Sopan Yuk
Kejadian kemarin di salah satu tempat makan membuat saya menjadi ingat tentang nasihat mama untuk bersikap sopan dimanapun.
1. Kalo ada orang lain lagi duduk dan saya harus lewat di depannya, saya harus berkata permisi.
2 Ketika saya ingin mengambil sesuatu di depan orang lain saya juga harus berkata permisi dan menyapa entah itu, pak, bu, mbak, mas, oom, tante dan sebagainya.
Selain itu cerita dari seorang kakak angakatan saat awal datang ke Jogja juga selalu mengingatkan saya untuk menjaga kesopanan jika berbicara dengan orang lain.
Bukan saya gila hormat atau apapun sebutannya, saya hanya merasa masih ada norma kesopanan yang berlaku di masyarakat Indonesia. Atau mungkin saya yang terlalu berposistif thinking bahwa semua penduduk Indonesia masih ingat sopan santun dan adabnya. Tapi ternyata kemarin saya menemukan seorang perempuan Indonesia yang tiba-tiba mengambil sesuatu dari depan saya tanpa mengucapkan permisi atau apapun.
Entah saya yang sedang sensitif atau ada kesalahan lain pada otak saya, saya merasa jengah dengan sikapnya. Setidaknya jagalah kesopanan di tempat umum.
1. Kalo ada orang lain lagi duduk dan saya harus lewat di depannya, saya harus berkata permisi.
2 Ketika saya ingin mengambil sesuatu di depan orang lain saya juga harus berkata permisi dan menyapa entah itu, pak, bu, mbak, mas, oom, tante dan sebagainya.
Selain itu cerita dari seorang kakak angakatan saat awal datang ke Jogja juga selalu mengingatkan saya untuk menjaga kesopanan jika berbicara dengan orang lain.
Bukan saya gila hormat atau apapun sebutannya, saya hanya merasa masih ada norma kesopanan yang berlaku di masyarakat Indonesia. Atau mungkin saya yang terlalu berposistif thinking bahwa semua penduduk Indonesia masih ingat sopan santun dan adabnya. Tapi ternyata kemarin saya menemukan seorang perempuan Indonesia yang tiba-tiba mengambil sesuatu dari depan saya tanpa mengucapkan permisi atau apapun.
Entah saya yang sedang sensitif atau ada kesalahan lain pada otak saya, saya merasa jengah dengan sikapnya. Setidaknya jagalah kesopanan di tempat umum.
Friday, May 20, 2011
14 mei
Sudah lama aku tak menulis. Bahkan sekedar mengotori buku catatan kecil yang kupunya. Entahlah, bukan tak ada yang ingin ku katakan untuk ku ingat nantinya, hanya mungkin aku masih tak tau pasti apa yang kuinginkan.
Aku ingin bisa kembali berpuisi, sekedar mengatakan sesuatu dengan lebih indah. Hanya akhir-akhir ini aku merasa hambar, perasaanku nyaris mati.
Ada satu cerita yang terjadi beberapa hari ini. Sesuatu yang sebenarnya ingin aku tuliskan, ingin aku ceritakan. Masih kembali tentang dia.
2 Minggu yang lalu ketika aku datang ke rumahnya ada sedikit harapanku untuk bisa melihatnya lagi 1 minggu kemudian. Harapan yang aku tau itu kosong. Saat itu aku sadar sepenuhnya aku tak pernah jadi bagian dari hidupnya, sedangkan dia, aku yang memaksanya masuk dalam hidupku.
Pertemuan kami tak pernah lama, setidaknya bagiku waktu berjalan terlalu cepat. Saat terakhir aku berkata padanya "So, haruskah sekarang atau aku bilang happy b'day minggu depan?"
Sambil tersenyum kamu bilang "jangan bikin aku inget tentang itu."
Hari ini, nyaris 1 minggu lepas dari ulang tahunmu. Sesuai janjiku, aku tak mengingatkanmu tentang bertambahnya usiamu. Aku tak pernah mengucapkannya karna aku tak pernah berani.
AKu tak pernah lagi bisa menuliskan kata2 puitis atau sesuatu yang indah. Bagiku saat ini keindahan, ketenangan ada padamu. Betapa kata-katamu terlalu mempengaruhi hidupku. Aku mulai takut tentang itu.
And finaly, Selamat hari lahir lebih 1 minggu. Good luck.
Aku ingin bisa kembali berpuisi, sekedar mengatakan sesuatu dengan lebih indah. Hanya akhir-akhir ini aku merasa hambar, perasaanku nyaris mati.
Ada satu cerita yang terjadi beberapa hari ini. Sesuatu yang sebenarnya ingin aku tuliskan, ingin aku ceritakan. Masih kembali tentang dia.
2 Minggu yang lalu ketika aku datang ke rumahnya ada sedikit harapanku untuk bisa melihatnya lagi 1 minggu kemudian. Harapan yang aku tau itu kosong. Saat itu aku sadar sepenuhnya aku tak pernah jadi bagian dari hidupnya, sedangkan dia, aku yang memaksanya masuk dalam hidupku.
Pertemuan kami tak pernah lama, setidaknya bagiku waktu berjalan terlalu cepat. Saat terakhir aku berkata padanya "So, haruskah sekarang atau aku bilang happy b'day minggu depan?"
Sambil tersenyum kamu bilang "jangan bikin aku inget tentang itu."
Hari ini, nyaris 1 minggu lepas dari ulang tahunmu. Sesuai janjiku, aku tak mengingatkanmu tentang bertambahnya usiamu. Aku tak pernah mengucapkannya karna aku tak pernah berani.
AKu tak pernah lagi bisa menuliskan kata2 puitis atau sesuatu yang indah. Bagiku saat ini keindahan, ketenangan ada padamu. Betapa kata-katamu terlalu mempengaruhi hidupku. Aku mulai takut tentang itu.
And finaly, Selamat hari lahir lebih 1 minggu. Good luck.
Tuesday, March 15, 2011
Komunikasi
Gw pikir salah satu masalah dalam hidup gw adalah komunikasi. Lebih tepatnya menjadi komunikator yang baik. Kadang, apa yang gw maksud dan apa yang temen gw tangkap dari cerita gw itu sangat berbeda. Setidaknya gw masih bisa meluruskan apa yang gw maksud di saat yang tepat.
Sebenernya ada oleh-oleh dari workshop yang gw ikutin kemaren, sedikit tips buat jadi komunikator yang baik :
1. Runtut. Kalo cerita itu harus runtut dan jelas, jadinya orang gak nebak-nebak apa yang gw mau ceritain, apa yang mau gw sampein. Contoh : "tadi sore, waktu gw praktek prokom di kampus, sekitar jam 3an tiba-tiba aja perut gw mules. Padahal praktikum itu masih 1 jam lagi. Gw udah panik gimana caranya kabur dari kampus. Untungnya aja gak berapa lama praktikumnya udahan. Lega deh gw." Kata-kata terakhir merupakan tambahan komentar gw biar suasanya lebih berasa. Jangan pernah cerita setengah-setengah, misalnya gini "tadi pagi di bis gw ketemu gebetan gw. Ya lu tau kan gmn gw kalo ketemu dia. lu mudeng kan maksud gw?"
2. Nyantai. Kalo ngomong itu nyantai aja, jangan kek dikejar setan. Karena cara kerja otak itu lebih cepet daripada apa yang isa mulut ucapin. Otak kita dah mikir mpe 4 kata, tapi mulut kita isa cuman ngomong 2 kata. Jadi nyantai aja, karna kalo engga sering blibet ngomongnya.
3. Sering latian. well, kalo ini sih bisa di praktekin ke temen-temen. Liat seberapa banyak mereka nangkep apa yang kita maksud dari cerita kita.
Lepas itu, ada juga sebenernya masalah teknis, kek intonasi, pelafalan. Tapi yang gw maksud komunikasi yang baik di sini dalam artian orang ngerti apa yang kita maksud, bukan komunikasi buat public.
Tambahan lagi dari gw, gunakan bahasa percakapan manusia. Kalo lo mau ngomong, pake bahasa percakapan jangan pake bahasa buku, karna itu bakal terkesan kaku dan aneh. Jangan pake istilah-istilah aneh yang belum tentu orang ngerti maksudnya.
Well, ini bukan gw mau menggurui atau apapun, hanya sekedar sharing dari apa yang gw dapet di workshop kemaren. Kalo emang ada yang sering dibilang "maksud lo apa sih?" sama temen-temennya waktu lagi cerita, mungkin ini isa jadi salah satu jalan to be better.
Jangan pernah ngukur sampai batas mana kemampuan kita, tapi cobalah untuk mengembangkan kemampuan itu hingga tanpa disadari kita bisa melakukan apa yang semula kita pikir tak mampu kita lakukan. Mengembangkan diri tak harus selalu sesuai dengan bidang yang kita tekuni saat ini.
Sebenernya ada oleh-oleh dari workshop yang gw ikutin kemaren, sedikit tips buat jadi komunikator yang baik :
1. Runtut. Kalo cerita itu harus runtut dan jelas, jadinya orang gak nebak-nebak apa yang gw mau ceritain, apa yang mau gw sampein. Contoh : "tadi sore, waktu gw praktek prokom di kampus, sekitar jam 3an tiba-tiba aja perut gw mules. Padahal praktikum itu masih 1 jam lagi. Gw udah panik gimana caranya kabur dari kampus. Untungnya aja gak berapa lama praktikumnya udahan. Lega deh gw." Kata-kata terakhir merupakan tambahan komentar gw biar suasanya lebih berasa. Jangan pernah cerita setengah-setengah, misalnya gini "tadi pagi di bis gw ketemu gebetan gw. Ya lu tau kan gmn gw kalo ketemu dia. lu mudeng kan maksud gw?"
2. Nyantai. Kalo ngomong itu nyantai aja, jangan kek dikejar setan. Karena cara kerja otak itu lebih cepet daripada apa yang isa mulut ucapin. Otak kita dah mikir mpe 4 kata, tapi mulut kita isa cuman ngomong 2 kata. Jadi nyantai aja, karna kalo engga sering blibet ngomongnya.
3. Sering latian. well, kalo ini sih bisa di praktekin ke temen-temen. Liat seberapa banyak mereka nangkep apa yang kita maksud dari cerita kita.
Lepas itu, ada juga sebenernya masalah teknis, kek intonasi, pelafalan. Tapi yang gw maksud komunikasi yang baik di sini dalam artian orang ngerti apa yang kita maksud, bukan komunikasi buat public.
Tambahan lagi dari gw, gunakan bahasa percakapan manusia. Kalo lo mau ngomong, pake bahasa percakapan jangan pake bahasa buku, karna itu bakal terkesan kaku dan aneh. Jangan pake istilah-istilah aneh yang belum tentu orang ngerti maksudnya.
Well, ini bukan gw mau menggurui atau apapun, hanya sekedar sharing dari apa yang gw dapet di workshop kemaren. Kalo emang ada yang sering dibilang "maksud lo apa sih?" sama temen-temennya waktu lagi cerita, mungkin ini isa jadi salah satu jalan to be better.
Jangan pernah ngukur sampai batas mana kemampuan kita, tapi cobalah untuk mengembangkan kemampuan itu hingga tanpa disadari kita bisa melakukan apa yang semula kita pikir tak mampu kita lakukan. Mengembangkan diri tak harus selalu sesuai dengan bidang yang kita tekuni saat ini.
Sunday, February 6, 2011
Suatu ketika selepas hujan
Senyum kecilku tak bisa kusembunyikan ketika aku lihat kamu. Tak pernah ada yang lucu dari dirimu, hanya sosok unikmu yang buat aku tersenyum. Hanya sesuatu dalam dirimu yang bisa kembangkan senyumku.
Kebiasaanmu, bisikan tiap kata-katamu, senyummu, aromamu, jalan pikiranmu. Suatu ketika aku datang, kamu persiapkan tempatku duduk. Sungguh unik melihatmu bekerja, seperti aku takkan pernah melihatnya di lain tempat selain dirimu. Dan saat kamu bilang "sstt, jangan ketawa" membuat senyumku makin mengembang menjadi tawa.
Salah satu alasan kenapa bersamamu menjadi saat-saat yang paling menyenangkan dalam hidupku. Salah satu alasan mengapa hujan selalu mengingatkanku pada dirimu.
Kebiasaanmu, bisikan tiap kata-katamu, senyummu, aromamu, jalan pikiranmu. Suatu ketika aku datang, kamu persiapkan tempatku duduk. Sungguh unik melihatmu bekerja, seperti aku takkan pernah melihatnya di lain tempat selain dirimu. Dan saat kamu bilang "sstt, jangan ketawa" membuat senyumku makin mengembang menjadi tawa.
Salah satu alasan kenapa bersamamu menjadi saat-saat yang paling menyenangkan dalam hidupku. Salah satu alasan mengapa hujan selalu mengingatkanku pada dirimu.
Monday, January 17, 2011
Mencari Hok Gie yang Lain
Seorang temen bilang ke gw tadi siang "keknya susah cari cowok buat lu. Cari hok Gie yang lain."
Gw emang banyak terinspirasi sesosok orang yang bernama Hok Gie. Entah kenapa jadi seolah-olah gw suka dengan sosok cowok yang punya jalan pikiran seperti hok gie. Bukan jalannya yang sama tapi cara berfikirnya.
Sosok Hok Gie pertama kali gw kenal dari film yang dibintangi Nicholas Saputra. Enggak tau karena kepiawaian Mas Nico berakting atau karena emang gw terkesan sama perjuangan, semangat, romantisme yang dimiliki sosok Hok Gie yang idealis jadilah gw mencari sosok yang menurut gw punya beberapa sifat kek gitu.
Lainnya, mungkin karena sifat keras kepala gw yang engga ketulungan bikin gw jadi terlalu idealis. Atau mungkin karna gw memimpikan orang yang isa ngendaliin ego gw, tanpa gw ngerasa diajari. Jadi gw bisa berubah lebih dewasa bukan karna paksaan tapi emang gw sadar kalo gw emang harus berubah.
Selalu ada komentar menarik waktu gw mengeluh tentang cowok.
"Makanya jangan cari cowok, cari cewek."
"Nah, lu kan udah kek cowok. Yang namanya jodoh itu biasanya saling ngimbangi. Brarti ntar jodoh lu cowok yang kek cewek."
Padahal Hok Gie ataupun Mas Nico di mata gw itu cowok banget. Kalo standar itu ketinggian, gw masih punya isa bertoleransi. Syaratnya cuman : dia bisa bikin gw terkesan dengan jalan pikirannya.
Gw emang banyak terinspirasi sesosok orang yang bernama Hok Gie. Entah kenapa jadi seolah-olah gw suka dengan sosok cowok yang punya jalan pikiran seperti hok gie. Bukan jalannya yang sama tapi cara berfikirnya.
Sosok Hok Gie pertama kali gw kenal dari film yang dibintangi Nicholas Saputra. Enggak tau karena kepiawaian Mas Nico berakting atau karena emang gw terkesan sama perjuangan, semangat, romantisme yang dimiliki sosok Hok Gie yang idealis jadilah gw mencari sosok yang menurut gw punya beberapa sifat kek gitu.
Lainnya, mungkin karena sifat keras kepala gw yang engga ketulungan bikin gw jadi terlalu idealis. Atau mungkin karna gw memimpikan orang yang isa ngendaliin ego gw, tanpa gw ngerasa diajari. Jadi gw bisa berubah lebih dewasa bukan karna paksaan tapi emang gw sadar kalo gw emang harus berubah.
Selalu ada komentar menarik waktu gw mengeluh tentang cowok.
"Makanya jangan cari cowok, cari cewek."
"Nah, lu kan udah kek cowok. Yang namanya jodoh itu biasanya saling ngimbangi. Brarti ntar jodoh lu cowok yang kek cewek."
Padahal Hok Gie ataupun Mas Nico di mata gw itu cowok banget. Kalo standar itu ketinggian, gw masih punya isa bertoleransi. Syaratnya cuman : dia bisa bikin gw terkesan dengan jalan pikirannya.
Pintu Istimewa Buat Rumah Unikku
Lama aku tak melihat ke dalam rumahku. Rumah yang porak porada, tanpa pintu. Sudah tak ada lagi pintu di rumahku sejak aku kehilangan kuncinya. Aku tak lagi mencari dan memikirkan kunci itu. Aku membiarkan rumahku terbengkalai tanpa pintu. Aku sengaja membongkar pintu lama dan berharap ada satu pintu baru yang akan menutupnya, menjaga isi rumahku.
Sekarang, rumah tanpa pintu itu punya penghuni baru. Sayangnya dia tak tau apa yang harus dilakukannya dengan rumahku. Aku berharap dia bisa membenahi sedikit ini dan sedikit itu di rumahku. Sepertinya aku harus bersabar untuk itu. Dia harus biasa dengan rumah itu jika mau tinggal. Kalaupun tidak toh rumah itu tak lagi berpintu, dia bisa pergi kapan saja.
Sebenarnya bukan aku tak ingin memperbaiki rumahku sendiri. Aku pernah melihat pintu yang unik yang kurasa akan cocok menjaga rumahku. Barang unik tentulah mahal harganya. Rumah pun harus sesuai untuk pintu itu. Sedikit-sedikit aku menata rumah itu agar tampilan, isi dan pintunya serasi. Tapi kapan ya, aku bisa dapat pintu itu.
Pilihan kedua, aku harus menemukan pintu lain yang cocok untuk rumah unikku. Mungkin dengan harga yang sedikit lebih murah, walaupun tak sesempurna pintu yang satu itu.
Dari teras rumahku, aku masih memandang harap satu pintu istimewa itu, sembari mengawasi penghuni barunya. Aku tak mau rumahku hancur berantakan karenanya.
Sekarang, rumah tanpa pintu itu punya penghuni baru. Sayangnya dia tak tau apa yang harus dilakukannya dengan rumahku. Aku berharap dia bisa membenahi sedikit ini dan sedikit itu di rumahku. Sepertinya aku harus bersabar untuk itu. Dia harus biasa dengan rumah itu jika mau tinggal. Kalaupun tidak toh rumah itu tak lagi berpintu, dia bisa pergi kapan saja.
Sebenarnya bukan aku tak ingin memperbaiki rumahku sendiri. Aku pernah melihat pintu yang unik yang kurasa akan cocok menjaga rumahku. Barang unik tentulah mahal harganya. Rumah pun harus sesuai untuk pintu itu. Sedikit-sedikit aku menata rumah itu agar tampilan, isi dan pintunya serasi. Tapi kapan ya, aku bisa dapat pintu itu.
Pilihan kedua, aku harus menemukan pintu lain yang cocok untuk rumah unikku. Mungkin dengan harga yang sedikit lebih murah, walaupun tak sesempurna pintu yang satu itu.
Dari teras rumahku, aku masih memandang harap satu pintu istimewa itu, sembari mengawasi penghuni barunya. Aku tak mau rumahku hancur berantakan karenanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)