Tuesday, April 20, 2010

Smallpox

Baru kali ini gw kena cacar. Penyakit yang temen-temen gw bilang "penyakit SD", karna biasanya penyakit ini nyerang anak2 SD.

Sebenernya cacar bukan penyakit yang "menyakitkan" tapi cukup menyengsarakan. Gw masih isa lari-lari walaupun di awal sakit ini gw sempet demam dan puyeng yang kalo jalan kek orang mabok. Kepala rasanya berat. Tapi setelah 3 hari demam tinggi, demamnya turun dan sebenernya gw masih isa lari-lari dan terlihat sangat sehat kalo gak liat benjolan-benjolan kecil (kira-kira segede kacang ijo) berisi air yang tumbuh di muka gw.

Kebetulan cacar gw ini tumbuh di muka, kepala dan badan gw. Paling banyak di kepala sama di muka yang bikin muka gw mirip banget kek nenek sihir. Di kepala bikin gw gak isa tidur. Kalopun tidur berasa bantalnya gak rata (dalam bahasa jawa grenjul-grenjul).

Dokter bilang gw gak boleh ngampus dolo, gak boleh keluar-keluar dulu. Boleh mandi asal jangan di kletekin cacarnya, biar lepas ndiri. Gw mulai kena cacar hari Selasa minggu lalu dan sekarang udah selasa lagi. Satu minggu full gw gak keluar-keluar. Adalah rekor terbesar gw gak keluar maen ataupun sekolah bahkan ngalahin waktu gw dulu kena gejala tifus waktu SD.

Huff...kangen maen-maen lagi. Kangen jalan-jalan sama si oren lagi. Kangen nikmatin angin dari atas motor lagi. Kangen keluar dari kosan....aaarrrhhhhh....

Wednesday, April 7, 2010

Saya, Aku, Gue, Inyong

"Kenapa sekarang ini banyak orang non Jakarta yang ngomong pake gue elu, walaupun ngomongnya masih medok jawa. Gue elu itu biar orang Betawi aja yang pake."

Dimana salahnya seseorang yang menggunakan kata gue-elu untuk menyatakan aku-kamu dalam percakapan sehari-hari jika seandainya dia bukan orang Jakarta atau tinggal di Jakarta? Memang terdengar sangat aneh di kuping jika ada seseorang dengan medok jawanya atau ngapaknya menggunakan gue-elu dalam percakapan. Tapi dimana salahnya?

Dengan alasan apapun, tak pernah ada salahnya seseorang memakai bahasa apapun dalam percakapan asalkan yang diajak bercakap-cakap mengerti. Bahasa adalah media berkomunikasi. Komunikasi yang baik adalah komunikasi bisa dimengerti satu sama lain. Bukan masalah bahasa apa yang digunakan dalam percakapan tersebut.

Gw adalah salah satu pengguna bahasa "gue-elu". Terbukti kebanyakan dari tulisan gw menggunakan kata gw untuk menunjukkan kata ganti orang pertama, bukan aku, saya, beta atau inyong. Gw bukan orang Betawi, tidak tinggal di Jakarta. Bahasa daerah gw adalah Inyong. Gw lahir di kota yang menggunakan "bahasa ngapak" dalam kesehariannya.

Gw gak malu pake bahasa ngapak. Gw memilih kata "gw" disini karena gw pikir kata itu adalah kata yang paling mewakili apa yang aku, sebagai seorang individu, rasakan saat menulis atau mengalami peristiwa atau memikirkan sesuatu hal, bukan aku, saya atau inyong.

Ketika temen gw bilang "gw-elu buat orang Jakarta aja," diri gw berontak. Kenapa mesti dibedakan begitu? Kenapa mesti dikhususkan begitu? Kalau iya, "Inyong Siaran" tidak akan pernah ada di Jogjakarta. Lagu "Okelah kalau begitu" tidak akan pernah populer.

Yang gw sayangin terkadang orang yang bicara dengan bahasa yang bukan bahasa induknya terkesan dibuat-buat. Kadang gw mikir dia nge-sok. Kesan lain dia merendahkan bahasa itu.

Tulisan ini sama sekali gak bermaksud menyinggung sara atau sejenisnya. Hanya unek-unek yang keluar dari beberapa patah kata yang sempat terucap dari bibir seorang teman semalam.

Sunday, March 14, 2010

Cerita Hari Ini

Siang tadi seorang temen mbacain note ke gw. Dia tanya apa sih maksud dari note itu. Note itu bercerita tentang mencintai semampunya. Buat gw mencintai semampunya itu beda dari mencintai seadanya. Kalo semampunya, dia pasti akan berusaha mempertahankan cintanya, kalo perlu sampai mati. Kalo seadanya, ada ya syukur, enggak ada ya cari yang lain. Saat ini buat gw, mungkin masih berlaku seadanya.

Tapi kalo seadanya, kenapa gw gak isa lepas dari satu orang? Temen lain bilang gw menyangkal suka sama orang lain. Gw gak menyangkal, tapi karena sistem hidup gw lebih berpegang sama logika ketimbang perasaan, gw lebih memilih mengacuhkan perasaan gw dan memfokuskan hal lain yang menurut gw lebih penting ketimbang urusan hati yang masih gak jelas ujung pangkalnya. Toh menikah tidak harus pacaran lebih dulu, bisa aja cuman temen suatu saat menikah?

Temen. Iya sih, itu yang penting. Tadi siang gw juga dapet sms dari temen deket gw waktu SMA. Intinya dia minta maaf kek orang yang ga bakal pernah ketemu lagi. Ternyata lagi-lagi masalah temen dan musuh. Cewek. Kenapa sih, urusan se-simple itu aja dibikin pusing? Kenapa gak di saring coba? Wajar aja bukan kalo ada yang suka sama kita, ada yang benci. Ada yang psikopat (emang berapa banyak sih psikopat di dunia?). Klo emang dia nyakitin, ya udah gak usah dipikir, cari temen lain yang lebih nyaman. Kenapa mesti ribet kalo ada yang lebih simple? Ngapain mikirin orang lain yang benci kita? Kalo dikit-dikit masukin ati, jebol juga atinya.

Apa iya cewek itu yang paling bermasalah sama yang namanya feeling? Gimana sama cowok? Apa yang bikin mereka gak segampang itu mikir yang aneh2? Bukannya hidup itu singkat dan cuman 1 kali? Kenapa gak ambil yang indah2 aja?

Thursday, February 18, 2010

Catatan Kecil part 3

Gw kecewa. Merasa bahwa sistem akademik saat ini bukan mempermudah mahasiswa untuk mengambil mata kuliah yang dapat meningkatkan kualitasnya bukan hanya sebagai mahasiswa tetapi juga calon alumni. Gw sendiri dibikin bingung dengan sistem admistrasi yang baru. Bukankah sesuatu yang baru seharusnya dapat berjalan lebih sistematis dibandingkan dengan sistem sebelumnya? Bukankah seharusnya ada antisipasi2 yang terfikirkan jika nantinya terdapat masalah pada sistem yang baru.

Sistem baru ini malah membuat semua semakin kacau. Kerja semakin tidak efisien, karena mahasiswa yang biasanya bisa mandiri dalam menentukan kelas yang akan malah menjadi semrawut karena sistem baru ini. Contoh saja : tidak ada revisi dan jadwal yang terkadang berubah membuat para mahasiswa kalang kabut karena beberapa mata kuliah yang seharusnya tidak bentrok jadwalnya menjadi bentrok. Jadwal mata kuliah pilihan yang sama dengan jadwal mata kuliah wajib mengesankan bahwa tak ada pilihan bagi mahasiswa untuk memilih mata kuliah pilihan tersebut. Intinya tak ada mata kuliah "pilihan" mahasiswa, yang ada adalah mata kuliah "pilihan" kampus.

Entahlah, gw berharap semester depan sudah ada penyesuaian terhadap sistem yang baru ini sehingga "kesemrawutan" ini dapat teratasi.

Wednesday, February 17, 2010

catatan kecil part 2

Gw cuman mahasiswa biasa yang lagi berusaha buat menjadi lebih baik. Tapi kenapa malah jurusan mempersulit gw buat dapet pendidikan yang seharusnya? Kenapa dengan sistem yang baru malah bikin mahasiswa bingung?

Dalam mata kuliah yang ditawarkan ada satu mata kuliah yang diambil hanya satu mahasiswa yaitu gw. Menurut jurusan minimal harus ada 10 mahasiswa untuk 1 matakuliah, jika tidak maka mata kuliah itu dibatalkan. Kebetulan mata kuliah yang bersangkutan adalah mata kuliah pilihan.

Ada mata kuliah pilihan lain yang hanya diambil oleh 5 mahasiswa. Karena revisi KRS(kartu rencana studi) tidak diadakan, maka mata kuliah tersebut tetap ada. Tapi gimana dengan nasib mata kuliah yang hanya mempunyai peminat 1 mahasiswa?

Gw udah berusaha untuk tanya dosen wali gw. Dari beliau gw disarankan untuk menghubungi pihak sekretaris jurusan. Gw pun menghubungi sekretaris jurusan. Jawaban yang gw dapet sungguh tidak memuaskan. "Saya belum mengecek ke pengajaran sehingga saya belum bisa memberikan jawaban apa-apa."

Lalu gimana dengan kuliah gw? Sungguh membingungkan sistem administrasi kali ini.

Monday, February 15, 2010

Catatan Kecil part 1

Hari ini awal gw kuliah. Gw berangkat kuliah dengan sisa-sisa semangat yang semalam gw kumpulin kembali setelah hancur berantakan dalam waktu beberapa menit. Lima belas menit sebelum perkuliahan dimualai gw udah sampai di kampus. Segala pikiran tentang peningkatan ip udah ada di otak gw. Gw yang ga mau lagi jatuh dalam kuliah gw.

Sampai di sana suasana sempat ricuh akibat pembagian kelas. Kelas yang gw ikutin ternyata di bagi menjadi 2 kelas. Sedangkan pembagian kelas bisa dilihat pada jam itu juga di pengajaran. Bayangkan hampir 100 anak (atau bahkan lebih?) membanjiri pengajaran yang kira2 hanya muat untuk berdiri 7-8 orang. Sedangkan waktu menunjukkan hampir jam 7 pagi. Hal ini tidak praktis. Kenapa pembagian kelas harus diberitahukan mendadak sebelum perkuliahan dimulai. Sangat tidak efektif.

Saat perkuliahan berlangsung. Gw berusaha buat mendengarkan apa kata dosen gw. Gw gak mau gagal lagi dalam mata kuliah ini. Tapi saat itu terdenger suara gaduh dak-duk-dak-duk palu pada dinding. Apakah jurusan akan membangun atau merombak gedung, gw sendiri kurang paham. Permasalahannya adalah mengapa suara-suara itu sampai mengganggu mahasiswa yang mau belajar untuk menjadi lebih baik akhirnya. Bagaimana jurusan dapat menjanjikan prestasi mahasiswanya akan meningkat jika mereka terganggu belajarnya dengan suara gaduh yang ditimbulkan para tukang untuk merombak gedung. Merusak konsentrasi belajar.

Hal yang sama pada kejadian jam 7 pagi terulang kembali. Kelas kembali di bagi 2 tanpa tau siapa di kelas mana, bahkan sampai beberapa orang diantara temen2 masuk ke kelas yang salah. Gw tetap di kelas itu karena kebetulan gw terdaftar di kelas itu (gw juga baru tahu bahwa gw di kelas itu setelah beberapa temen minta waktu ke dosen yang sudah mengajar buat ngecek siapa2 aja yang seharusnya ada di kelas lain) Kebetulan salah satu dosen yang mengajar pun sedang ke luar negeri tanpa meninggalkan pesan. Padahal beliau biasanya pasti menuliskan pesan untuk mahasiswanya di papan pengumuman, tapi saat itu tidak ada (entah gw yang kurang teliti melihat papan pengumuman atau memang tidak ada). Kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Sebelum kuliah setelah istirahat gw iseng2 liat nilai2 yang terpasang di papan pengumuman. Gw liat beberapa nilai dicoret dan diganti (dengan pulpen lain). Kebetulan ini adalah perubahan yang lebih baik. Hal itu menandakan bahwa jika mahasiswa tidak mau menanyakan nilainya maka nilainya akan tetap jelek, tapi jika dia mau/berani meminta keterangan atas perolehan nilainya itu maka kemungkinan nilainya akan bertambah (kebetulan salah nilai yang diganti itu adalah nilai salah satu temen gw yang sebelumnya menanyakan remidiasi ke gw). Gw gak tau apakah ini hanya kesalahan penulisan yang berdampak pada kesalahan di portal atau memang hanya salah catat.

Gw sangat mengerti tugas dosen yang bukan hanya mengoreksi ujian-ujian mahasiswanya, yang bukan hanya 30-40 orang. Gw sangat mentolerir jika ada kesalahan penulisan yang dosen lakukan dalam pemberian nilai. Seharusnya itu menjadi masalah yang perlu di carikan jalan keluarnya bagi para bapak ibu dosen kita itu. Agar mahasiswa tak lagi menjadi korban (kalau gw boleh bilang ini sebagai) kecerobohan dosen. Dosen tetaplah manusia yang punya lelah.

Catatan kecil untuk mahasiswa (termasuk saya) : "Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberi keadilan." Terkadang kita memang harus menuntut hak kita agar tak tertindas dengan kecerobohan2 orang lain.

Sunday, February 7, 2010

Semarang part 2

Dua hari satu malem di Semarang, saatnya pulang lagi ke Cilacap. Pulang naek taksi dari rumah Eyang sampai ke Banyumanik (kalo gak salah) buat nunggu bis yang bawa gw sama mama pulang ke Cilacap.

Ternyata bis yang gw naikin udah lumyan keisi satu-satu. Jadi gw gak isa duduk bareng mama. Yang ada tinggal bangku belakang sendiri. Jadilah gw duduk di situ. Sampai di Ungaran ternyata ujan deres. Habis itu gw gak perhatian sama jalan karna sesuai kebiasaan gw klo di bis pasti tidur.

Gw baru isa pindah ke kursi yang rada depan setelah di purworejo, waktu di tempat peristirahatan. Di depan gw duduk seorang anak laki-laki kecil, perkiraan kelas 1-2 sd. Dia bareng seorang cewek usia sekitar 23 th an. Gw pikir tadinya si cewek itu adalah kakak dari si anak lelaki kecil itu. Perkiraan gw itu berdasarkan tingkah si anak itu. Dengan entengnya tangan si lelaki kecil itu memukul kepala si perempuan saat si perempuan mengatainya ngapak.

Namun tiba-tiba si lelaki kecil itu berkata dalam bahasa jawa yang masih ngapak "Yung, aku mengko ngaji ya." (Bu, nanti aku berangkat mengaji ya). "Yung" disini berasal dari kata "Biyung" yang artinya Ibu. Yang gw ga habis pikir jika dia itu anak dari perempuan itu, kenapa dia berani memukul kepala ibunya dengan gampangnya. Dan kenapa si Ibu gak menegur anaknya yang bertindak kurang pantas buat anak seusianya?

Pendapat akhir gw : Si Ibu selama ini jauh dari anaknya dan selama ini si anak diasuh keluarganya. Kenyataan yang mendukung : bahasa jawa si Ibu yang sudah tidak terlalu ngapak, dan tingkah si anak yang tidak mencerminkan sikap seorang anak pada ibunya.

Dari situ gw ambil pelajaran ternyata seorang anak memang sangat membutahkan orang tuanya dalam perkembangan pribadi dan mentalnya. Untug aja si anak kecil ini bukan termasuk anak yang rewel yang membuat orang lain jengah dengan sikapnya.