Thursday, August 16, 2018

Senyum Tulus dari Natsepa


Ada satu saat dimana saya berkesempatan menginjakan kaki di tanah Ambon. Indonesia bagian timur memang menyimpan sesuatu yang lain dari pada yang biasa saya dapat di tempat biasa saya tinggal. Panasnya luar biasa menyengat. Alamnya luar biasa memikat. Dalam kesempatan perjalanan wisata dinas ke Ambon kemarin saya sempat mampir sebentar ke Pantai Natsepa.

Sampai di sana, saya disambut senyum anak-anak usia sekolah yang menjajakan dagangannya berupa pisang dan sukun goreng. Saya sudah lupa berapa harga tiap buahnya, tetapi yang saya ingat tidak mahal, karena sukun dan pisang masih mudah ditemui di sana.


by Huisvanvie

Namun, yang paling saya ingat adalah senyum bahagia mereka ketika dagangannya laris. Dan ketika kami memintanya mengambil lagi dagangannya untuk kami bungkus, dia berlari dengan semangat dan ceria. Dan, sebari bercanda memberi tahu temannya "andai kamu datang lebih awal, daganganmu juga bakal laris seperti daganganku. Kakak-kakak ini beli banyak."

Senyuman itu sedikit dari senyuman indah yang saya jumpai di tengah senyum basa basi orang-orang. Konon, itu adalah senyum tulus yang hanya bisa hadir dari hati yang juga masih tulus.

Tuesday, January 2, 2018

Happy New Year 2018

Hurraaaayyy... Satu tahun telah berlalu.. dan parahnya saya sudah jarang sekali menulis di tahun lalu.

Harapan untuk tahun ini semoga setiap hari bisa menulis, walaupun isinya cuma cerita sampah di kantor (ini usulan si Mas yang sebel denger saya uring2an terus), atau hal2 menyenangkan yang terjadi di hidup saya, hehehe...

Setikdaknya, selama 1 tahun ke depan (semoga) blog ini ramai dengan tulisan saya lagi. Happy New Year, semoga tahun ini berjalan lebih baik setiap harinya dan semoga hari-hari kita menyenangkan..

Wednesday, November 22, 2017

Cerita Tentang Teman

Teman bisa jadi siapa saja. Teman bisa datang dari mana saja. Pertemanan bisa terjadi kapan saja. Saya punya sedikit cerita tentang teman. 

Saya "bertemu" dengannya sekitar tahun 2010. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa (yang nyaris abadi) sedangkan dia sudah bekerja. Saya "bertemu" dengannya dalam satu forum chatting. Kala itu Yahoo Messenger masih menyediakan fasilitas room untuk sekedar mengobrol dengan siapa saja yang kebetulan sedang online dan masuk ke forum yang sama. Dari situ obrolan berlanjut tentang siapa saya dan siapa dia, apa yang kami kerjakan saat itu. Pertemanan berlanjut dengan pertemanan di facebook.

Hari berganti. Kami mulai meninggalkan forum tersebut dan mulai sibuk dengan urusan masing-masing yang lebih penting daripada sekedar mengobrol. Tiga tahun lalu, saya kembali bertemu dengannya. Kala itu kebetulan saya sedang online di facebook begitupun dengannya. Lama tak mengobrol, kami pun bertukar kabar. Kala itu, saya sudah lulus dan masih On Job Training di Lampung. Sedangkan dia sedang melanjutkan kuliahnya setelah mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya. Saya sudah hijrah ke Jakarta kemudian untuk sementara waktu harus tinggal di Lampung, sedangkan dia masih betah tinggal di Bandung. Janji untuk bertemu mulai terucap saat itu. "Kalau sudah pulang ke Jakarta, kapan-kapan main ke Bandung" atau "kalau saya sudah di Jakarta, kapan-kapan mailah ke Jakarta."

Waktu berlalu hingga akhirnya masa On Job Training saya berakhir dan dia selesai sekolah. Saya sudah kembali ke Jakarta dan dia sudah kembali bekerja dan masih betah di Bandung. Padahal saat itu saya sudah sering bolak balik ke Bandung, karena kebetulan kantor saya ada yang di Bandung. Baru satu tahun belakangan ini kami bertukar nomor HP. Janji-janji bertemu pun berulang diucapkan. Saya bolak-balik ke Bandung tapi tak juga punya kesempatan bertemu dengannya secara langsung, bukan lewat FB, line ataupun whatsapp. 

Akhirnya, setelah sekian kali gagal, baru hari ini saya bertemu dengannya secara langsung. Janji bertemu di tempat nongkrong yang oke berujung di warung makan Ampera (tempatnya juga nggak kalah asyik!). Tak apalah kami banyak mengobrol tadi. Sedikit mengenang masa lalu saat masih sama-sama suka ngobrol ngalor ngidul dengan orang entah siapa hingga cerita tentang hari ini cukuplah untuk "perkenalan" kami di dunia nyata. 

Akhirnya, setelah 7 tahun, saya bisa bertemu dengannya. 

Hai teman, salam kenal dari termanmu yang cerewet ini.




Bandung, 22 November 2017

Buat Nia, sukses untuk semua progress tulisannya :)

Wednesday, May 18, 2016

Surat Untuk Jono

Hai Jono, untuk kesekian kalinya aku mengirimu kabar.

Bertanya tentang kabarmu ku rasa tak lagi perlu, karena aku tahu, aku mendengar cerita tentangmu kini. Kamu banyak kehilangan orang-orang baik di sekitarmu. Aku, tak bisa berkata apapun, karena ku rasa sekedar kata-kata tak akan cukup mengobati lukamu.

Di sisi lain, aku akan sedikit bercerita tentangku. Tentangku yang tak pernah kau dengar dari mulut siapapun. Aku tak pernah berkata dengan benar-bener jujur padamu. Ada hal lain yang aku sembunyikan darimu, sama seperti kau menyembunyikan hal lain dariku. Di sini, aku akan mengatakan itu, karena aku tahu aku tak akan bisa menghadapimu ketika kau tahu hal ini.

Aku tetaplah seorang perempuan. Aku tahu kau lebih mengerti sifatku daripada siapapun termasuk diriku. Maafkan aku atas kekuranganku itu. Aku merasa aku tak akan pernah bisa sepenuhnya masuk dalam hidupmu. Kamu memiliki duniamu sendiri, tanpa aku. Selama kita berpisah, aku tak pernah tau sedikitpun tentang kamu. Berbeda dengan mereka yang ada di duniamu. Percaya padaku, bukan aku menarik diri, aku hanya tak ada di dalam kenanganmu, dan aku merasa kamu masih hidup dalam kenangan itu. 

Aku tak bisa mengungkapkan itu karena aku berjanji aku akan selalu ada untukmu. Hanya saja aku berada di luar lingkaran itu. Aku tak bisa menjagamu dalam lingkaran itu. Aku hanya ada di kehidupanmu yang lain. Aku tak pernah bermaksud memaksamu keluar, kemudian mengoyak lingkaran itu. Mengertilah, ketidakmampuanku untuk menjagamu. Dan itu melukaiku.  

Dan aku tak kuasa mengatakan ini karena aku tak pernah mau membebanimu, seperti yang kurasa selama ini aku lakukan padamu. Bersabarlah padaku.



Yuka

Monday, February 22, 2016

Cowok Pinter VS Cewek Pinter

Ada satu hal yang aku pelajari akhir-akhir ini. Oke sebenarnya ini adalah kasus yang umum dan sepertinya mulai di-iya-kan oleh hampir semua kaum adam, "Cewek itu adalah makhluk paling ribet sedunia". Mau tau ribetnya cewek? Banyak! Banyak banget malah. Aku sebagai cewek merasa ribet juga? Hmm aku jawab, kadang iya! Ribet kan kalau mikirin aku maunya seperti apa, tapi usaha yang aku jalankan untuk menjadi seperti yang aku inginkan malah berbuah sebaliknya. Setiap cewek itu pengen terlihat sempurna, cantik apalagi di depan cowoknya. Itu salah satu yang bikin cewek itu ribet. Mereka (kadang termasuk aku sendiri) sibuk memikirkan apa yang dia ingin orang lain lihat dari dirinya.

Hasil perenungan aku beberapa hari ini menyimpulkan bahwa cewek itu suka cowok yang pinter. Pernah gak sih kita (sebagai cewek) dan kalian (sebagai cowok) tanya ke cewek, kenapa dia suka ama seorang cowok. Jawabannya, biasanya selain baik pasti ada pinternya. Entah pinter itu dalam kategori apa. 

Tapi emang bener, menurut analisis yang aku lakukan terhadap diri sendiri dan beberapa sosok cewek baik di kantor ataupun di rumah, cowok pinter itu menarik. Pinter disini bisa macem-macem. Pinter dalam artian sesungguhnya di bidang akademis misalnya, atau pinter ngibul dan pinter bikin cewek sakit hati :P (yang disebutkan terakhir hanya ada pada kasus tertentu).

Jadi nih, saran aja buat para cowok yang sedang mencari cewek, jadilah cowok yang pinter. Walaupun kalian itu cuman pinter ngibul, karena percayalah sesungguhnya cewek itu mudah di jatuhkan hatinya oleh lelaki yang pintar, pintar menjatuhkan hati wanita tentunya. 

Karena tulisanku ini, aku gak pernah bermaksud bilang bahwa cewek itu gampang di kibulin ya. Cewek juga punya kepintarannya sendiri. Pintar dandan, jadi cowoknya betah lama-lama makan malem berdua. Pinter ngerayu, jadi cowoknya gak sadar berapa banyak duit di dompetnya berpindah tangan ke si cewek, (yaps, dua kepintaran ini sayangnya ga pernah ada di diriku :P) Pinter masak, jadi cowoknya bisa ngirit selalu makan masakan si cewek. Tapi ada juga cewek yang pinter bikin cowoknya nyaman dan akhirnya sering jadi tempat curhat dan kemudian mereka pun terjebak dalam zona pertemanan saja, tapi 'gak semua. Dalam cerita pasti ada happy endingnya sendiri-sendiri, meskipun tidak semua cerita ber-ending happy.  

Well, inilah yang aku lakukan di tengah kebosanan rutinitas kantor yang itu-itu aja :P
Semoga mencerahkan :D

Lantai 3 suatu gedung yang tidak terlalu tinggi di Jakarta Selatan
Saat makan siang.

Friday, February 19, 2016

Hai Hai Apa Kabar

Hai hai apa kabar? Hampir satu tahun tidak berjumpa. Hampir satu tahun tidak memposting apa-apa di sini. Hampir satu tahun yang....yah mungkin sudah banyak yang berubah dengan aku.

Bagaimana kabarmu?
Kabarku? Ah iya, aku masih tetap ada di Jakarta dan mungkin membusuk di kota ini. Mungkin agak kejam kata-kataku. Iya memang, aku masih memandang sinis kehidupan di sini, tetapi jangan salah aku adalah salah satu makhluk yang kusinisi sendiri. Mungkin aku sudah berubah menjadi orang-orang kota yang cuek dan tak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekitarnya, dengan kata lain "yang penting gue..." lanjutkan sendiri lah kata-katanya.

Lama tak menulis
Tidak, jangan salah. Aku banyak menulis. Banyak draft yang aku hasilkan selama hampir setahun ini. Tetapi sepertinya aku sedang kehilangan separuh diriku untuk menulis. Aku seperti bukan aku. Seperti ada yang salah dengan diriku. Ah betul, mungkin bisa dibilang aku sedang berperang dengan diriku sendiri, menentukan sikap seperti apa yang akan aku ambil. Akan menjadi siapa aku nantinya dengan sikap itu. Maklumlah, usiaku sudah tidak semuda dulu dimana belum terlalu banyak pengalaman yang aku dapatkan sehingga jendela pikiranku lebih sempit dari diriku kini. Bukan berarti kali ini pengalamanku sudah banyak, ya. No. Aku yakin masih banyak hal di luar sana yang belum aku tahu dan belum aku coba, jalanku masih panjang kawan. Masih banyak bahan tulisan yang belum temukan, masih banyak kehidupan yang bisa aku jadikan bahan untuk tulisanku.

Menyimpan cerita
Aku menyimpan beberapa cerita sebenarnya. Hanya aku belum yakin aku harus menuliskan seperti apa. Tidak semua cerita itu aku alami sendiri, ada banyak cerita yang menurutku menarik untuk aku ceritakan, untuk menjadi catatan dalam hidupku. Sebagai pengingatku bahwa hidup itu tidak datar-datar saja.

Sementara.
Kali ini aku hanya sempat berbagi kabar, bukan berarti aku berhenti menulis. Sabarlah menanti. Aku hanya bisa menjanjikan aku akan menulis lagi tentunya, walaupun hanya satu huruf saja. Jadi, seperti biasa aku akan bilang, sampai nanti dan tunggulah ceritaku selanjutnya, karena aku akan terus bercerita.


Salah satu gedung yang 'enggak tinggi di Jakarta, Lantai 3, sebelum Jumatan
19 Februari 2016

Monday, April 27, 2015

Original Donutz by Me

"Bulet-bulet bolong tengahe...namanya kue donat" Masih inget dengan sepenggal lagu yang pernah dibawakan Joshua ini? Yaps kue donat.

Donat Bikinan Mamah dan Aku
Kemarin, aku iseng-iseng nyobain bikin kue yang menurut ingatan saya bikinnya lama dan bikin pegel tangan. Resep tentulah berasal dari koki paling hebat sepanjang masa, Mamah. Iseng waktu liburan long weekend awal bulan ini, aku praktek bikin kue donat di rumah. Gak tanggung-tanggung bikin lah 1 kali resep, yaitu sebanyak 1 kg tepung terigu. Hoohoho... Jujur, waktu di rumah lebih banyak Mamah yang bikin sih dari pada aku. Aku cuman bantu nguleni adonan yang berat itu. Itupun nguleninya dibantu Mamah juga hahahaha.... Gak sampai 30 menit, adonan donat pun jadi sudah. Sudah kalis, tinggal di diamkan bentar dan di bentuk bulet-bulet bolong tengahe.

Original Donutz by Me

Weekend kemarin, aku iseng bikin donatku sendiri di Jakarta. Aku buat 1/2 resep kali ini. Hasilnya? Gak kalah lah sama bikinan mamah di rumah, plus bonus tangan pegel-pegel hahaha... Tapi setidaknya aku seneng lah. Temen-temen kost yang nyobain donatnya bilang enak..hahaha (boleh lah ya berbangga hati dikiiiitttt, but thank's mamah).

So, karena kemarin banyak yang minta resepnya, ini aku kasi resep plus tips-tipsnya...hehehe (seenggaknya biar tanggannya ga terlalu pegel pas nguleni)

Walopun gedenya beda, rasa tetep sama
Bahan (untuk 1 resep) :
- Tepung terigu 1 kg (yang protein tinggi, contoh :  cakra)
- Kentang Kukus 1/2 kg ( ini kentangnya di tumbuk, tapi kemarin aku hancurin pake garpu)
- Pengembang 1 bungkus/11 gr (contoh : fermipan)
- Air 200cc (sekitar 1 gelas belimbing)
- Margarin 1 bungkus ( sekitar 200gr)
- Telor 3 butir
- Gula halus buat taburan
- Minyak untuk menggoreng

Cara membuat :
- Siapin wadah yang cukup lebar (ini berguna biar pas nguleni gak terlalu pegel tangannya)
- Campur air dan pengembang ( larutin dulu biar jadi 1)
- Masukin tepung terigu dan campuran air + pengembang. Aduk aduk sampai agak rata (pake tangan ya, donat itu tanpa mixer kawan ;) )
- Masukan telur, kentang kukus yang ditumbung  dan margarin. Biar donatnya agak gurih boleh di kasi gula halus sedikit dan garam.
- Uleni terus sampai adonan bercampur dan kalis. Cara nguleninya di aduk-aduk ya, jangan di remas-remas.
- Setelah adonan kalis, tutup wadah yang berisi adonan dengan kain basah. Tunggu 30 hingga 60 menit supaya adonan mengembang. (Pengalaman sih, gak sampai 30 menit adonan udah mengembang)
- Setelah adonan mengembang, bentuk sesuai selera dan tinggal di goreng.
- Setelah di tiriskan beri taburan gula halus, atau bisa juga di kasi topping coklat.

Dan terakhir, selamat mencoba dan berkarya ;)