Semalam aku dan dua temanku pergi ke salah satu tempat nongkrong di jalan Sudirman Jogja hanya sekedar untuk menikmati es krim sambil ngobrol. Waktu mau pulang tiba-tiba ban motor temanku bocor. Untung aja di deket situ ada tambal ban yang masih buka. Cerita pun dimulai.
Saat menunggu ban motor selesai di periksa, ada dua orang perempuan seumuran anak SMA yang datang menghampiri kami. Mereka bercerita dengan wajah bingung kalau mereka lupa membawa tas mereka setelah sholat di mesjid, lalu mereka kembali ke mesjid dan tas mereka hilang. Salah satu dari mereka tinggal di daerah seturan sedangkan yang lain di daerah tempel. Mereka punya tiket movie box dan voucer isi ulang tinta. Niat mereka menukar kedua voucer tersebut dengan sedikit uang untuk pulang dengan naik bis. Saat itu sudah pukul 9.30 malam dan aku tahu tidak ada bis lagi yang beropersi pada jam itu.
Kami sempat bertanya tentang nomor hp kedua orang tua mereka, tetapi mereka mengaku tidak hafal nomor hp kedua orang tuanya. Karena iba temanku memberi mereka uang 20 ribu untuk pulang. Saat itu akupun sudah berniat memberi mereka uang untuk pulang ke seturan naik taxi. Aku meminta temanku yang lain mengejar dua orang anak tadi untuk menambahkan uang yang diberikan temanku itu. Namun, saat dikejar ternyata temanku tahu mereka tidak cuman berdua. Mereka bersama temannya yang lain. Dari situ kami menduga kami telah di tipu.
Tak berapa lama kemudian datang serombongan orang, terdiri dari 1 laki-laki dan 5 perempuan yang menyanyi di depan kami. Tampilan mereka hampir sama dengan 2 orang yang datang sebelumnya. Kami mulai curiga ini adalah motif yang sama. Kami bertanya ada acara apa pada mereka. Awalnya mereka bercerita mereka ketinggalan bis menuju kaliurang. Kami tetap tidak percaya dan memaksa mereka berkata sejujurnya. Mereka akhirnya mengaku bahwa mereka dari sanggar teater mau menuju kaliurang. Sebelum ke kaliurang mereka harus survival bagaimana caranya mereka bertahan tanpa diberi sedikit pun uang dari senior mereka. Hal tersebut lebih masuk akal bagi kami karena kami pun pernah mengalaminya.
Cerita lucu untuk kami melihat kepolosan mereka berbohong tetapi tidak bisa menutupi kebohongannya.
Sunday, December 30, 2012
Sunday, September 30, 2012
Kamu
Hey kamu, iya kamu yang di sana. Sampai kapan sih, aku bisa ngelepasin kamu? Kok ya, kamu mau-maunya mampir ke mimpi aku? Sempet-sempetnya kamu dateng tersenyum dan menghilang.
Kamu, benar itu kamu. Aku tak salah mengenalimu. Sejauh ini memang cuma kamu yang bisa begitu padaku. Siapa, sih kamu? Kok ya mau-maunya aku mengingat semua tentangmu.
Kamu, benar itu kamu. Aku tak salah mengenalimu. Sejauh ini memang cuma kamu yang bisa begitu padaku. Siapa, sih kamu? Kok ya mau-maunya aku mengingat semua tentangmu.
Itu kamu, kamu! Kamu dan semua ceritamu itu melekat erat di otakku. Seperti kertas yang saling tertempel karena lem. Ketika aku coba melepasnya, yang terobek adalah aku.
Lagi-lagi kamu. Kok ya sempat-sempatnya malam-malam begini aku menulis hal begini tentangmu. Kok ya sempat-sempatnya aku memikirkanmu di antara tugas dan skripsi yang menunggu untuk dijamah. Tapi memang saat ini kamu yang memenuhi pikiranku.
Sudahlah, toh besok mungkin aku akan bertemu kamu. Seperti katamu, "dinikmati aja."
Lagi-lagi kamu. Kok ya sempat-sempatnya malam-malam begini aku menulis hal begini tentangmu. Kok ya sempat-sempatnya aku memikirkanmu di antara tugas dan skripsi yang menunggu untuk dijamah. Tapi memang saat ini kamu yang memenuhi pikiranku.
Sudahlah, toh besok mungkin aku akan bertemu kamu. Seperti katamu, "dinikmati aja."
Friday, February 17, 2012
It’s Called Letters
Zaman memang sudah berubah. Teknologi semakin maju yang memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan lebih cepat dan murah. Tetapi ada tak pernah ada salahnya kita mengingat zaman sebelum ada telepon seluler, blackberry, ataupun iphone. We have letters to communicate with others.
Beberapa hari yang lalu gw menemukan beberapa surat lama. Rata-rata ditulis tahun 2000. Kebanyakan dari surat itu sebenarnya adalah kartu ucapan lebaran yang dikirim beberapa teman. Yang lain adalah surat dari oom dan tante gw yang waktu itu masih kuliah di Yogyakarta. Ah, ada lagi 1 surat yang sebenarnya bukan ditujukan buat gw, tetapi buat teman duduk gw. Surat ucapan valentine. Surat itu ada di tangan gw karena temen duduk gw nitipin surat itu ke gw. Dulu, dia ngerasa bahwa surat itu adalah ‘penembakan’ secara tidak langsung. Tapi karena temen gw itu nggak suka sama si cowok, dia menolak surat itu dan nitipin ke gw.
Surat-surat itu udah ada di kantong serba guna gw selama 12 tahun. Waktu yang sangat lama buat menyimpan benda-benda kenangan. Bandingkan dengan sms atau instan message ataupun bbm. Biasanya kita menyimpan beberapa pesan yang menarik atau mungkin pesan dari beberapa orang yang kita suka. Namun, pesan itu tidak akan bertahan selama lebih dari 3 tahun. Kalaupun ada biasanya terbatas.
Beberapa surat yang gw temuin itu bikin gw sadar bahwa ada beberapa hal yang gak bisa tergantikan dari surat-menyurat.
1. Kita gak akan pernah bisa lupa siapa yang ngirim surat itu.
2. Kita akan inget apa yang pernah kita lakukan pada saat kita terima surat itu.
3. Surat itu suatu yang isa disimpen sampe bertahun-tahun.
Sebenernya masih ada lagi sih seninya dalam surat-menyurat. Gw seneng kalau tiba-tiba ada surat datang dari seorang temen lama. Setelah kirim balasan gw pasti bakal ngecek ada surat balasan lagi atau tidak.
So, gak pernah ada salahnya kita kembali pake teknologi dulu, surat-menyurat. Setidaknya di mulai dari kirim kartu ucapan. Karena sebenarnya (ini pendapat pribadi gw) kartu ucapan bakal terasa lebih mengena ketimbang sms atau bahkan instan message ataupun BBM.
Let’s write a letter :)
Beberapa hari yang lalu gw menemukan beberapa surat lama. Rata-rata ditulis tahun 2000. Kebanyakan dari surat itu sebenarnya adalah kartu ucapan lebaran yang dikirim beberapa teman. Yang lain adalah surat dari oom dan tante gw yang waktu itu masih kuliah di Yogyakarta. Ah, ada lagi 1 surat yang sebenarnya bukan ditujukan buat gw, tetapi buat teman duduk gw. Surat ucapan valentine. Surat itu ada di tangan gw karena temen duduk gw nitipin surat itu ke gw. Dulu, dia ngerasa bahwa surat itu adalah ‘penembakan’ secara tidak langsung. Tapi karena temen gw itu nggak suka sama si cowok, dia menolak surat itu dan nitipin ke gw.
Surat-surat itu udah ada di kantong serba guna gw selama 12 tahun. Waktu yang sangat lama buat menyimpan benda-benda kenangan. Bandingkan dengan sms atau instan message ataupun bbm. Biasanya kita menyimpan beberapa pesan yang menarik atau mungkin pesan dari beberapa orang yang kita suka. Namun, pesan itu tidak akan bertahan selama lebih dari 3 tahun. Kalaupun ada biasanya terbatas.
Beberapa surat yang gw temuin itu bikin gw sadar bahwa ada beberapa hal yang gak bisa tergantikan dari surat-menyurat.
1. Kita gak akan pernah bisa lupa siapa yang ngirim surat itu.
2. Kita akan inget apa yang pernah kita lakukan pada saat kita terima surat itu.
3. Surat itu suatu yang isa disimpen sampe bertahun-tahun.
Sebenernya masih ada lagi sih seninya dalam surat-menyurat. Gw seneng kalau tiba-tiba ada surat datang dari seorang temen lama. Setelah kirim balasan gw pasti bakal ngecek ada surat balasan lagi atau tidak.
So, gak pernah ada salahnya kita kembali pake teknologi dulu, surat-menyurat. Setidaknya di mulai dari kirim kartu ucapan. Karena sebenarnya (ini pendapat pribadi gw) kartu ucapan bakal terasa lebih mengena ketimbang sms atau bahkan instan message ataupun BBM.
Let’s write a letter :)
Tuesday, January 24, 2012
Gadgetsyndrom
Ada suatu fenomena yang kian menjadi di Jogja. Karena saya bukan psikolog yang tau apa nama fenomena ini, saya mengistilahkan fenomena ini dengan istilah saya sendiri, yaitu gadgetsyndrom. Kenapa gadgetsyndrom? Karena fenomena ini melanda para pengguna gadget.
Suatu ketika saat saya sedang suntuk dan butuh mengobrol bersama seorang teman, pergilah kami ke sebuah tempat makan 24 jam yang menyediakan tempat yang nyaman untuk mengobrol. Di situ kami mengobrol dari jam 9 malam hingga sekitar jam 12. Kami berdua mengobrol sembari membalas sms yang masuk ke hp masing-masing. Sebenarnya sedikit mengganggu, ketika seorang teman butuh ditemani mengobrol dan diselingi membalas sms. Ketika sms itu merupakan hal yang penting, it's ok saya bisa mengerti, tetapi jika sms itu tak ubahnya mengobrol via message. Bukankah sama juga kita harus membagi pikiran untuk 2 orang yang berbeda dengan masalah yang berbeda pula?
Kemudian saya melihat sekeliling saya. Di sofa sebelah ada 3 orang laki-laki, masih muda yang sibuk dengan gadgednya masing-masing. Anggaplah mereka si A, B, C. Si A sibuk dengan BBnya. Si B sibuk dengan HP touchscreennya dan si C sibuk dengan notebooknya. Kombinasi yang sangat luar biasa hingga membuat saya berfikir buat apa mereka hangout bareng tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Mereka tidak mengobrol tetapi sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Hal ini membuat saya bertanya apakah memang keluar bersama teman itu bukan lagi untuk mengobrol dan tertawa bersama, tetapi hanya sekedar bertemu, makan bersama sambil bersibuk ria dengan gadget masing-masing.
Jika memang begitu menurut saya tidak lagi ada gunanya makan bersama teman karena itu hanya seperti suatu rangkaian acara yang biasa disebut formalitas. Sebenarnya saya sangat menyanyangkan hal itu. Saya sangat menikmati malam yang saya habiskan dengan mengobrol dan tertawa bersama teman-teman saya. Jangan sampai hal seperti itu hilang hanya karena gadgetsyndrom yang saya sebut tadi. So, kapan lagi kita mengobrol, tertawa sembari menikmati hangatnya kopi untuk mengusir dinginnya malam? How about tonight?
Suatu ketika saat saya sedang suntuk dan butuh mengobrol bersama seorang teman, pergilah kami ke sebuah tempat makan 24 jam yang menyediakan tempat yang nyaman untuk mengobrol. Di situ kami mengobrol dari jam 9 malam hingga sekitar jam 12. Kami berdua mengobrol sembari membalas sms yang masuk ke hp masing-masing. Sebenarnya sedikit mengganggu, ketika seorang teman butuh ditemani mengobrol dan diselingi membalas sms. Ketika sms itu merupakan hal yang penting, it's ok saya bisa mengerti, tetapi jika sms itu tak ubahnya mengobrol via message. Bukankah sama juga kita harus membagi pikiran untuk 2 orang yang berbeda dengan masalah yang berbeda pula?
Kemudian saya melihat sekeliling saya. Di sofa sebelah ada 3 orang laki-laki, masih muda yang sibuk dengan gadgednya masing-masing. Anggaplah mereka si A, B, C. Si A sibuk dengan BBnya. Si B sibuk dengan HP touchscreennya dan si C sibuk dengan notebooknya. Kombinasi yang sangat luar biasa hingga membuat saya berfikir buat apa mereka hangout bareng tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Mereka tidak mengobrol tetapi sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Hal ini membuat saya bertanya apakah memang keluar bersama teman itu bukan lagi untuk mengobrol dan tertawa bersama, tetapi hanya sekedar bertemu, makan bersama sambil bersibuk ria dengan gadget masing-masing.
Jika memang begitu menurut saya tidak lagi ada gunanya makan bersama teman karena itu hanya seperti suatu rangkaian acara yang biasa disebut formalitas. Sebenarnya saya sangat menyanyangkan hal itu. Saya sangat menikmati malam yang saya habiskan dengan mengobrol dan tertawa bersama teman-teman saya. Jangan sampai hal seperti itu hilang hanya karena gadgetsyndrom yang saya sebut tadi. So, kapan lagi kita mengobrol, tertawa sembari menikmati hangatnya kopi untuk mengusir dinginnya malam? How about tonight?
Wednesday, January 11, 2012
Jambu (Janji Busuk)
Jambuuuu....Janji janjimu janji busuk..busuk..busuk....
Sepenggal lirik di atas diambil dari lagu dangdut yang pernah saya dengar di suatu tempat. Sebenarnya gak ada yang istimewa dari lagu itu ketika pertama kali saya dengar. Tetapi entah mengapa hari ini lagu itu mengingatkan saya akan suatu janji yang memang akhirnya akan membusuk.
Janji busuk itu sepertinya memang sudah menjadi trend di Indonesia. Bukan hanya oleh para perayu andal yang menjanjikan ini itu pada pasangannya, bukan hanya oleh para petinggi yang menjanjikan ini itu saat kampanye, bahkan oleh beberapa mahasiswa yang berjanji ini itu hanya untuk memuaskan ambisinya.
Tidak sebut merk, tetapi hanya kecewa saja. Bahkan seorang mahasiswa yang seharusnya masih memiliki idealisme yang tinggi mengucapkan "jambu" itu dengan gampangnya.
Akhir tahun ini, jujur saya menunggu sesuatu yang akan hadir sebagai "bingkisan akhir tahun." Saya berharap dapat menilai produk akhir tahun itu dan menjadikan produk tersebut progres dari berlangsungnya program yang dijanjikan. Namun, hingga detik ini saya belum menerima satupun produk akhir tahun itu. Sungguh mengecewakan. Tadinya saya berharap dapat mengubur kekecawaan saya sebelumnya, tetapi ternyata saya salah.
Kalau begitu pilihannya, saya lebih memilih untuk tidak mempercayai apa yang tidak saya percaya dan tidak membiarkannya merusak semua sistem yang telah saya bangun. Lebih baik tak menjanjikan apa-apa daripada kehilangan kepercayaan.
Sepenggal lirik di atas diambil dari lagu dangdut yang pernah saya dengar di suatu tempat. Sebenarnya gak ada yang istimewa dari lagu itu ketika pertama kali saya dengar. Tetapi entah mengapa hari ini lagu itu mengingatkan saya akan suatu janji yang memang akhirnya akan membusuk.
Janji busuk itu sepertinya memang sudah menjadi trend di Indonesia. Bukan hanya oleh para perayu andal yang menjanjikan ini itu pada pasangannya, bukan hanya oleh para petinggi yang menjanjikan ini itu saat kampanye, bahkan oleh beberapa mahasiswa yang berjanji ini itu hanya untuk memuaskan ambisinya.
Tidak sebut merk, tetapi hanya kecewa saja. Bahkan seorang mahasiswa yang seharusnya masih memiliki idealisme yang tinggi mengucapkan "jambu" itu dengan gampangnya.
Akhir tahun ini, jujur saya menunggu sesuatu yang akan hadir sebagai "bingkisan akhir tahun." Saya berharap dapat menilai produk akhir tahun itu dan menjadikan produk tersebut progres dari berlangsungnya program yang dijanjikan. Namun, hingga detik ini saya belum menerima satupun produk akhir tahun itu. Sungguh mengecewakan. Tadinya saya berharap dapat mengubur kekecawaan saya sebelumnya, tetapi ternyata saya salah.
Kalau begitu pilihannya, saya lebih memilih untuk tidak mempercayai apa yang tidak saya percaya dan tidak membiarkannya merusak semua sistem yang telah saya bangun. Lebih baik tak menjanjikan apa-apa daripada kehilangan kepercayaan.
Thursday, December 8, 2011
Cerita Tentang Rangin
Ceritanya semalam gw kelaparan. Kebetulan salah seorang teman yang nun jauh disana ngajak chatting. Padahal waktu itu gw lebih memilih buat tidur ketimbang chatting. Alasan lain menghindari chatting adalah biar gak ngomongin makanan dan membawangkan betapa enaknya makan makanan anget dan berkuah di malem yang dingin itu. Tapi ternyata percakapan tentang makanan gak bisa dihindari dan muncullah makanan yang udah lama gak gw makan. Rangin. Sebutan lain dari makanan ini adalah Bandros, Gandos, Serabi angin.
Ini adalah makanan yang udah lama banget gak gw makan. Terakhir gw makan rangin itu adalah masa-masa gw masih sekolah dulu, entah SMP atau SMA. Makanan ini juga jarang gw temuin di Jogja. Akhirnya, karena penasaran (atau saking putus asanya) gw googling makanan ini. Ketemu juga satu tulisan di kuniler kompasiana yang kebetulan ngasih informasi dimana tempat si rangin berada. Gw mengakhiri malem dengan berharap esok paginya bisa bangun pagi dan meluncur ke Jalan Suryodiningratan.
Jadi, pagi ini berjalan sempurna, seperti yang udah direncanain, sampai akhirnya sampai di jalan paris hujan deres. Perjalanan tetap berlanjut, gw menerobos hujan hanya berbekal atasan mantel andalan. Sampai di depan hotel Brongto Jl. Suryodiningratan ternyata bapak si penjual rangin gak ada. Sebenernya gw juga gak ngerasa heran, karena tulisan sumber informasi gw itu dibuat sekitar januari 2011, wajar kalo keadaan udah berubah dan si bapak gak jualan lagi di situ. Ditambah lagi hujan yang deras, mungkin aja bapak penjual rangin itu memutuskan untuk tidak berjualan. Hampir gw memutuskan buat puter balik dan pulang, sekilas gw liat ada penjual berteduh karena ujan di deket pos kamling bersebrangan dengan SD kanisius pugeran.
And this is it. Gw duduk menikmati 2 sisir rangin dengan keadaan celana jins basah kuyup dan badan kedinginan. Yummy. Lebih nikmat lagi kalo di nikmati sama teh anget. Gw bayangin duduk di teras rumah, nikmatin pemandangan hujan + teh anget + beberapa sisir rangin. Aish, salah satu nikmatnya hidup.
Gw sempet ngobrol sama si bapak, beliau bilang biasa jualan di depan Hotel Brongto sampai jam 8 pagi, trus biasanya muter lagi dan jualan di puskesmas Mantri Jeron sampai sekitar jam 11 siang.
Jadi, mari lestarikan makanan Indonesia :p
sumber informasi : http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/01/11/alkisah-gandos-rangin-suryodiningratan/
Ini adalah makanan yang udah lama banget gak gw makan. Terakhir gw makan rangin itu adalah masa-masa gw masih sekolah dulu, entah SMP atau SMA. Makanan ini juga jarang gw temuin di Jogja. Akhirnya, karena penasaran (atau saking putus asanya) gw googling makanan ini. Ketemu juga satu tulisan di kuniler kompasiana yang kebetulan ngasih informasi dimana tempat si rangin berada. Gw mengakhiri malem dengan berharap esok paginya bisa bangun pagi dan meluncur ke Jalan Suryodiningratan.
Jadi, pagi ini berjalan sempurna, seperti yang udah direncanain, sampai akhirnya sampai di jalan paris hujan deres. Perjalanan tetap berlanjut, gw menerobos hujan hanya berbekal atasan mantel andalan. Sampai di depan hotel Brongto Jl. Suryodiningratan ternyata bapak si penjual rangin gak ada. Sebenernya gw juga gak ngerasa heran, karena tulisan sumber informasi gw itu dibuat sekitar januari 2011, wajar kalo keadaan udah berubah dan si bapak gak jualan lagi di situ. Ditambah lagi hujan yang deras, mungkin aja bapak penjual rangin itu memutuskan untuk tidak berjualan. Hampir gw memutuskan buat puter balik dan pulang, sekilas gw liat ada penjual berteduh karena ujan di deket pos kamling bersebrangan dengan SD kanisius pugeran.
And this is it. Gw duduk menikmati 2 sisir rangin dengan keadaan celana jins basah kuyup dan badan kedinginan. Yummy. Lebih nikmat lagi kalo di nikmati sama teh anget. Gw bayangin duduk di teras rumah, nikmatin pemandangan hujan + teh anget + beberapa sisir rangin. Aish, salah satu nikmatnya hidup.
Gw sempet ngobrol sama si bapak, beliau bilang biasa jualan di depan Hotel Brongto sampai jam 8 pagi, trus biasanya muter lagi dan jualan di puskesmas Mantri Jeron sampai sekitar jam 11 siang.
Jadi, mari lestarikan makanan Indonesia :p
sumber informasi : http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/01/11/alkisah-gandos-rangin-suryodiningratan/
Saturday, November 19, 2011
Sementara
Ini lirik lagunya float yang kebetulan dinyanyiin temen gw barusan, walaupun suara rada putus2 and kresek2 gara2 koneksi parah gw, tapi paling gak bisa gw denger dan bisa sedikit meredakan kegalauan malming kelabu gw.
Thx udah mau nyanyi + maen gitar buat gw, walaupun koneksi gw parahnya ampun2an sampe2 bikin kesel. And thank's for singing this song and make me realize that we just not yet find the right person
Here's the lyrics.
Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini
Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini
Song : Sementara by Float
Thx udah mau nyanyi + maen gitar buat gw, walaupun koneksi gw parahnya ampun2an sampe2 bikin kesel. And thank's for singing this song and make me realize that we just not yet find the right person
Here's the lyrics.
Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini
Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini
Song : Sementara by Float
Subscribe to:
Posts (Atom)