Sunday, February 7, 2010

Semarang part 2

Dua hari satu malem di Semarang, saatnya pulang lagi ke Cilacap. Pulang naek taksi dari rumah Eyang sampai ke Banyumanik (kalo gak salah) buat nunggu bis yang bawa gw sama mama pulang ke Cilacap.

Ternyata bis yang gw naikin udah lumyan keisi satu-satu. Jadi gw gak isa duduk bareng mama. Yang ada tinggal bangku belakang sendiri. Jadilah gw duduk di situ. Sampai di Ungaran ternyata ujan deres. Habis itu gw gak perhatian sama jalan karna sesuai kebiasaan gw klo di bis pasti tidur.

Gw baru isa pindah ke kursi yang rada depan setelah di purworejo, waktu di tempat peristirahatan. Di depan gw duduk seorang anak laki-laki kecil, perkiraan kelas 1-2 sd. Dia bareng seorang cewek usia sekitar 23 th an. Gw pikir tadinya si cewek itu adalah kakak dari si anak lelaki kecil itu. Perkiraan gw itu berdasarkan tingkah si anak itu. Dengan entengnya tangan si lelaki kecil itu memukul kepala si perempuan saat si perempuan mengatainya ngapak.

Namun tiba-tiba si lelaki kecil itu berkata dalam bahasa jawa yang masih ngapak "Yung, aku mengko ngaji ya." (Bu, nanti aku berangkat mengaji ya). "Yung" disini berasal dari kata "Biyung" yang artinya Ibu. Yang gw ga habis pikir jika dia itu anak dari perempuan itu, kenapa dia berani memukul kepala ibunya dengan gampangnya. Dan kenapa si Ibu gak menegur anaknya yang bertindak kurang pantas buat anak seusianya?

Pendapat akhir gw : Si Ibu selama ini jauh dari anaknya dan selama ini si anak diasuh keluarganya. Kenyataan yang mendukung : bahasa jawa si Ibu yang sudah tidak terlalu ngapak, dan tingkah si anak yang tidak mencerminkan sikap seorang anak pada ibunya.

Dari situ gw ambil pelajaran ternyata seorang anak memang sangat membutahkan orang tuanya dalam perkembangan pribadi dan mentalnya. Untug aja si anak kecil ini bukan termasuk anak yang rewel yang membuat orang lain jengah dengan sikapnya.

Semarang part 1

Liburan ini bisa dibilang gw isi dengan acara berkunjung. Gw pulang ke Cilacap 1 minggu setelah liburan akhir semester dimulai. Dua hari di Cilacap, gw sama mama pergi ke Semarang naik bus. Seinget gw ini adalah kali kedua gw ke Semarang. Pertama kali ke Semarang waktu gw masih kecil, sd mungkin.

Sedikit kenangan yang gw inget dari rumah Eyang di Semarang adalah salah satu pak dhe yang waktu itu berambut panjang untuk ukuran laki2 (yang sampai saat ini sering ngingetin waktu kecil gw selalu bawa2 kacu buat ngelap ingus). Rasa bersalah itu masih ada. Rasa bersalah karna sempat menganggapnya perempuan. Waktu itu aku berkata dalam hati "kayaknya Eyang Su punya 2 anak laki2 deh, Mas Oni sama Mas Oki. Nah trus cewek ini siapa? Apa anaknya Eyang Su? Jangan2 aku salah inget bahwa yang namanya Oni itu perempuan?" Syukurlah kata2 itu gak pernah terucap karna mama bilang "Wah rambutmu gondrong On kaya cewe, jangan2 dikampus ada yang panggil mbak Oni ya?" Aku kecil pun kembali ke jalan yang benar tanpa harus mempermalukan diri di hadapan keluarga Eyang Su dengan memanggilnya Mbak Oni :)

Kenangan lainnya (yang ini gw inget gara2 selalu di ingatkan juga) bahwa gw dulu suka naik turun tangga. Rumah di Semarang emang di tingkat, kamar ada di atas. Waktu ngeliat tangga itu gw mikir, apa ia dulu gw suka naik turun tangga? Gw sekarang lebih memilih untuk tetap di bawah ataupun di atas ketimbang harus bolak balik naik turun. Disampng karna capek naik turun, gw juga takut jatoh dari tangga.

Ternyata di rumah Eyang masih banyak pedangang keliling lewat. Lima menit sekali pasti ada yang lewat. Entah itu odong-odong atau penjual makanan apapun. Jadi inget waktu ditratir kedua Pak dhe makan es krim yang ga abis-abis :) Waktu itu gw ga inget ada buku2 yang begitu menarik buat dibaca. Apa karena gw yang belum tertarik sama buku atau karna alasan keterbatasan ingatan gw sendiri juga ga paham.

Tapi yang jelas kemaren di Semarang gw dimanjakan dengan "perpustakaan" di kamar atas.

Monday, January 11, 2010

Setujukah Anda

Waktu beresin kamar hari ini, satu kertas jatuh dari rak buku gw yang ternyata kertas jawaban ujian mid semester untuk mata kuliah manajemen. Ngeliat nilai yang cuman 60 itu gw kembali inget dan kecewa dapet nilai segitu.

Ada 1 soal dalam ujian yang bikin gw gak terima dapet nilai segitu. Pertanyaan itu berbunyi "setujukah anda bila....berikan alasan untuk jawaban anda"

Gw menafsirkan pertanyaan tersebut adalah pertanyaan pendapat, yang mana kita tidak bisa menyalahkan begitu saja pendapat seseorang. Yang bisa kita salahkan adalah alasan dari jawaban yang diberikan.

Sejauh yang isa gw pikir alasan itu salah jika :
1. Tidak menjelaskan jawaban ataupun bertentangan dengan jawaban yang diberikan.
2. Melanggar hukum.
Mungkin masih banyak hal yang isa bikin alasan itu salah.

Namun, kembali lagi ke masalah, yang salah bukan pendapatnya. Orang bebas berpendapat apalagi setelah diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat. Lalu mengapa kita harus menyalahkan pendapatnya? So, setujukah anda dengan pendapat saya?

Sunday, December 27, 2009

Satu Bekal Buat Tahun Baru

Tiga minggu yang lalu gw kecelakaan lalu lintas. Gw diserempet mobil dari belakang. Walaupun saat itu gw naek motor pelan-pelan, tetep aja gw jatoh lecet-lecet, memar yang sampe saat ini pun lukanya masih ada yang belum kering.

Saat kecelakaan gw emang bilang it's ok, gw masih isa jalan. Tapi gw gak pernah duga bahwa luka yang gw rasain saat itu belum seberapa. Sakitnya baru terasa 1 minggu setelahnya dimana gw sempet ga isa jalan dan terpaksa pake tongkat buat jalan. Kuliah pun ijin akibat kecelakaan itu. Gw rugi besar.

Gw ngumpat, maki-maki si supir mobil yang nyerempet gw setelah gw ngerasain rasanya ga bisa jalan. Semua rencana gw di akhir tahun buyar gara-gara keadaan gw. Gw gak ikhlas dengan musibah ini. Sambil senyum gw inget apa yang udah mereka bilang dan mereka kasih buat ganti kerugian gw ini. Ga ada kata "maaf" karna udah nabrak gw. Walaupun gw tahu alamat mereka gw ga mau buat nuntut kerugian gw, biaya pengobatan pasca kecelakaan itu, ganti rugi kacamata gw yang pecah. Nggak, gw cuman pengen liat sejauh mana kesadaran mereka.

Sampai tadi siang, gw cerita masalah ini ke sobat gw. Dia (sambil emosi) bilang "klo gw, dari awal gw gak bakal terima klo gw disrempet. Enak aja gw udah luka-luka, sakit badan gw! Lu tahu sendiri gw orangnya gak terimaan!"

Di situ gw sadar bahwa gw sendiri pun pendendam. Walaupun gak sependendam temen kecil gw ini, gw tetep punya sikap pendendam. Entah gimana caranya gw pengen banget ngilangin rasa itu. Gw pengen nerima apa yang ada sekarang tanpa menyesalkan yang udah terjadi. Ini emang bukan sepenuhnya karna ulah gw. Tapi ini sebuah masalah buat gw. Gimana caranya gw bisa tetep fun dengan keadaan yang maksa gw buat ngerubah semua rencanya fun di akhir tahun.

Gimana caranya gw buat gak nge"brengsek"in keadaan. Keknya emang itu pe-er gw saat ini buat awal tahun. Gw emang biasa mengkambinghitamkan keadaan, tapi gw gak sadar ternyata kebiasaan buruk gw itu udah terlalu menjadi. Yang terpenting sekarang ini bukan siapa yang patut dipersalahkan, tapi apa yang isa dilakukan buat membenahi keadaan.

Moga makin hari gw isa makin bijak dalam menjalani hidup.

Wednesday, November 18, 2009

14 November 2009

Satu jiwa kembali lahir ke bumi ini. Satu laki-laki suci dari rahim sang ibu dilahirkan hari itu. Aku bukan ibunya dan takkan sanggup menjadi ibunya.

Hari itu sahabat terbaikku resmi menjadi ibu dari putra pertamanya. Dia menjadi seorang wanita yang sempurna hari itu. Sempurna dengan keluarganya. Walaupun tak melihat wajahnya, aku yakin dia takkan bisa menyembunyikan senyum manisnya.

Aku tersenyum disini setelah mengucapkan selamat dan doa untuk mereka lewat telepon. Kamu membuatku menjadi orang tua dengan panggilan "tante", dan menyakinkanku bahwa aku sudah menjadi orang tua juga sepertimu. Kamu selalu mengajarkan dan menyadarkanku atas hal-hal yang terkadang ku lupakan dalam hidupku.

Selamat sobat atas kelahiran si kecil mu.

Musim Hujan Waktu Itu

Jogja hujan hari ini. Hujan yang cukup deras hingga menahanku di kampus. Ingatanku melayang saat aku kecil dimana aku menyukai hujan. Hujan itu menyenangkan. Dingin itu membuatku nyaman.

Wajarnya anak kecil, aku pun senang bermain-main di bawah terpaan hujan. Sebagai orang tua tentu melarang anaknya untuk bermain-main di bawah air hujan yang bisa membuatnya demam. Suatu ketika aku diperbolehkan untuk "mandi" di bawah air hujan.

Seingatku hujan sudah beberapa hari turun di kota kecilku tanpa mempersilakan matahari menyapa sedetik pun. Aku bosan karena harus terus berada di rumah. Aku ingin keluar bermain-main dengan air yang turun dari langit itu.

Akhirnya aku mendapat kesempatan itu. Aku bisa mandi di bawah genteng yang membuat air hujan turun lebih deras lagi. Serasa mandi di bawah air terjun. Walaupun tak terlalu lama aku senang bisa menyapa hujan waktu itu. Walaupun harus mandi lagi, aku senang bisa sediki bermain dengan hujan.

Sekarang, aku hanya bisa menikmati hujan dari dalam kamarku. Memandang air yang turun dari langit membuat kegaduhan tersendiri. Mencium bau debu yang tersiram air saat hujan mulai turun. Tetapi rasa itu tetap ada. Rasa ingin berdiri di bawah hujan deras sambil merasakan dinginnya air langit.

Wednesday, November 4, 2009

Saya Sudah Berdiri...

Tadi gw sama temen2 kost pergi buat foto kost. Sebenernya ini bukan agenda kost tahunan, cuman pas ada duit aja. Nah kebetulan pas foto gw kebagian di belakang. Udah kecil debelakang nyempil pula.

Sang fotografer bilang ke gw "mbaknya yang pake baju item itu pindah agak kesamping berdiri aja mbak.." Waktu itu posisi gw emang udah berdiri. Dengan nurutnya gw pindah rada ke samping. Trus si fotografer masih ngatur2 yang lain, pas liat gw lagi dia bilang "mbaknya berdiri apa duduk?" dengan lugunya gw jawab "saya berdiri kok..."

Jelas aja anak2 kost pada ketawa denger jawaban lugu gw....akhirnya gw foto pake bajikan bantal kecil jadi badan gw rada nampak....huhuhuhu...