Tadi pagi seorang teman memberikan kado kecil terbungkus kertas koran yang sudah lumayan lusuh padaku. “Titipan buatmu dari anak 2008” katanya.
“Hem, siapakah yang memberikan kado untukku pada hari yang bukan special” batinku. Selembar surat pun tertempel di atasnya. Setelah ku baca baru ku tahu siapa dan kenapa.
Wita, ingatanku pada anak ini adalah fisiknya yang tidak begitu kuat. Saat ospek beberapa kali terpaksa beristirahat di “sarang” panitia. Tapi kenapa aku? Aku hanya membantu panitia lain yang bertugas di p3k. Entah, aku tidak mau memikirkannya terlalu jauh. Apa yang dia berikan ku anggap sebagai ketulusannya berterimakasih. Dan untuk itupun aku berterimakasih padanya karena mengingatku tanpa ku harus mengingatkannya untuk ingat padaku. Satu pilihan yang dia buat pada hidupnya.
Ingatanku kemudian beralih pada Dila, Anggi (atau Angun?!)dan Sufyan. Ketiganya adalah adik angkatku. Memang di acara ospek ini setiap mahasiswa baru harus mempunyai 4 kakak angkat dari panitia. Dan panitia mempunyai adik angkat maksimum 5. Adik angkatku yang lain adalah Ajeng dan Anggun. Sebagai kakak angkat seharusnya mempunyai suatu kewajiban untuk mendukung adik-adiknya dalam kehidupan barunya. Menceritakan pengalaman, saran demi kemajuan mereka. Bukan hanya sekedar untuk menjadi seorang kakak yang seusai acara cuek terhadap apa yang telah disepakati.
Menjadi kakak adalah menjadi panutan, menjadi contoh yang baik. TIap orang memang tidak pernah sempurna dan memiliki kesalahan. Namun, kesalahan itu tdak perlu dicontohkan yang membuat si adik menjadi bersikap sama dan mengulangi kesalahan kakaknya. Dan mungkin petuah itu adalah satu kado lain untuk renungan adik-adikku menjadi dewasa.
No comments:
Post a Comment