Sejauh apa aku melayangkan perasaanku maka sedalam itu aku terluka. Luka yang hanya akan menjadi borok lain dalam hatiku. Aku kembali memendam perih ketika melihat apa yang hanya akan menjadi anganku. Seketika itu juga aku lumpuh menghadapi kenyataan.
Astaga...Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Ini terjadi lagi. Padahal aku telah ingatkan berkali-kali untuk tidak terjatuh kembali. Apa yang salah padaku??
Ketika aku mendapatkan kesempatan bertemu dan bercanda, aku yakin sepenuhnya kunci itu akan ku dapatkan. Tetapi begitu aku membuka lebar mata dan otakku, sepenuhnya aku sadar dia tak pernah merasa memegang kunci itu. Lalu bagaimana aku harus memintanya untuk menyerahkan kunci itu. Kunci dari pintu yang selama ini menjadi sumber penyakitku.
Rasanya aku ingin menyerah saja. Aku tak tau kapan pastinya aku bisa terlepas darinya. Kapan aku bisa meruntuhkan pintu itu tanpa membukanya...
No comments:
Post a Comment