Friday, July 5, 2019

Pukul 2 Pagi

Waktu menunjukkan pukul 6 petang. Aku berjalan gontai ke parkiran motor dimana Si Butut senantiasa menungguku. Siapa lagi temanku saat aku kesepian selain motorku? Pagi, siang bahkan tengah malam, hanya dia yang bersedia menemaniku membunuh waktu menikmati panas atau dinginnya udara saat itu. Malam ini, kita akan istirahat saja, aku lelah, pikirku. 

Aku mencoba merebahkan badanku sembari memejamkan mata seusai mandi sore. Berharap ada sedikit ide, ilham, wangsit, atau apapun namanya itu masuk ke dalam kepala kecilku. Aku butuh ide untuk menulis lagi. Seandainya inspirasi semudah itu datangnya. 

HPku bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Sebetulnya aku agak malas untuk mebukanya. Aku takut, pesan itu adalah pesan tagihan untuk semua hutang-hutangku.

"Sudah selesai? Mau kutemani mengerjakan?" 

Ternyata pesan darimu. Sebetulnya aku masih malas mengerjakan pekerjaan itu. Tapi, meluangkan waktu bersamamu entah mengapa selalu menjadi godaan tersendiri untukku. 
"Ok" balasaku. Segera aku mengganti bajuku dengan jeans dan jaket yang siap menghangatkanku sebelum kamu datang menjemputku. Tak perlu waktu lama untuk kita menemukan satu tempat yang cocok yang menurutmu baik untukku mencari inspirasi untuk menulis. 

Waktu perjalan cepat. Aku sendiri belum bisa menyelesaikan tulisanku. 

"Maaf, Mas, Mbak. Kami jam 2 sudah mau tutup, masih ada yang mau diorder lagi?" tanya seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri meja kita. Sejenak, aku melepaskan pandanganku dari laptop yang dengan kursor yang berkedip menanti huruf-huruf perangkai kata. Aku memandang sekitarku, memang tinggal beberapa gelintir orang yang masih tertinggal di kafe ala mahasiswa itu. 

"Sudah, Mbak. Kami sebentar lagi selesai kok," jawabku dan dijawan dengan anggukan sopan pramusaji itu.

"Udah kelar?" tanyamu.
"Belum. Sedikit lagi. Pulang aja yuk, ini aku kelarin di kosan aja," ajakku. Kemudian aku menghabiskan minuman yang kau pesankan untukku. Walaupun sudah dingin, minuman itu masih mampu menghangatkan di udara malam yang dingin. Sudah hampir pukul 2 pagi ternyata. 

Beberapa malam kemudian, hal yang sama terjadi lagi. Kamu selalu ada di saat aku memang membutuhkan teman dalam merangkai kata. Kali itu, kita sudah mulai biasa untuk diusir jam 2 pagi, seolah ada kesepakatan kita akan pulang jam 2 kurang 15 menit. Memaksimalkan waktu yang diperbolehkan untuk menggunakan listrik kafe tanpa harus diusir secara halus karena karyawan kafe butuh pulang dan tidur. Dalam hati aku berterima kasih padamu karna membuat malam-malamku yang tadinya hampir tidak produktif sama sekali menjadi sedikit lebih produktif. Entah karena ada kamu yang membantuku atau karena memang ide datang ada karena kamu ada.

Lepas beberapa tahun setelah aku menyelesaikan semua drama di dunia perkuliahan, aku mulai tidak terbiasa dengan kehidupan malam. Aku bukan lagi orang yang bisa terjaga hingga pagi. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Suatu kebetulan, pekerjaan yang kamu kerjakan ternyata berkaitan dengan pekerjaan yang aku lakukan. Bertemu sahabat lama, pikirku saat itu. 

"Aku mau konsultasi. Pekerjaanku belum selesai buat presentasi besok. Please bantuin, udah nggak tau harus gimana" isi pesanmu yang masuk ke HPku.
"Boleh, mau dimana?" jawabku.

Tak berapa lama kamu sudah menungguku di depan hotel tempat aku menginap. Sembari mencari tempat untuk mengerjakan presentasi besok, kamu menceritakan ketidaksiapanmu untuk presentasi besok. Kamu berharap, aku tidak terlalu membantaimu dalam presentasi besok. Dunia ini lucu, kamu yang selalu mengajariku banyak hal, tetapi sekarang kamu harus presentasi hasil pekerjaanmu kepada timku. Jika aku bisa bertindak tidak profesional, aku hanya akan bilang, "lanjutkan saja, kamu lebih berpengalaman dariku. Aku tahu kamu tahu yang terbaik," tetapi atasanku pasti tidak akan memaklumi hal tersebut.

Kamu memilih restoran cepat saji di seberang hotel. Selain dekat, tidak ada kemungkinan kita untuk diursir, ujarmu. Rupanya pengalaman kita diusir jam 2 pagi masih melekat di benakmu. Aku tertawa mendengar penjelasanmu. Banyak hal yang terjadi diantara kita, tetapi ternyata hal tersebut masih ada dalam ingatanmu.

Malam berlalu. Entah berapa orang yang sudah duduk di samping kita. Sedang kita masih asyik berdiskusi untuk kemungkinan-kemungkinan yang besok terjadi. Mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak. Mana yang bisa membantumu dan mana yang akan menjebakmu. Harusnya aku tak boleh membantumu, karena keesokan harinya, harusnya aku yang akan bertanya padamu mengenai yang kau jelaskan padaku malam ini. 

"Permisi, selamat malam, Ibu, Bapak. Maaf, ruangan ini akan ditutup jam 2 pagi" kata seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri.
"Bukanya ini buka 24 jam?" tanyamu.
"Iya betul, Pak. Ruangan yang dibuka 24 jam ada di lantai 2, Pak," jawab pramusaji itu.
"Outdoor?" tanyamu kembali.
"Betul, Pak," jawab pramusaji itu sambil berlalu. Outdoor berarti tidak ada stopkontak yang bisa kita gunakan untuk menjaga laptopmu tetap menyala. Laptop tidak menyala berarti tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama berdiskusi tentang pekerjaan untuk besok.

Kita berdua saling pandang dan tersenyum. Mungkin menertawakan betapa kamu dan aku selalu dibatasi waktu sampai jam 2 jika mau bertemu. 

"Jadi, mau minum apa?" tanyamu. Aku melihat jam tangan yang selalu melingkar di tanganku. Pukul 2 pagi.
"Ini, kita nggak bakal diusir kan?" tanyaku.
"Kalau diusir ya kita bungkus aja, kita bawa pulang, minum di rumah" jawabmu sambil tersenyum.

Kali ini, tidak ada huruf yang perlu dirangkai menjadi kata. Tidak ada lagi paparan yang butuh untuk dijelaskan esok pagi. Tidak ada batasan jam 2 pagi. Kamu, aku dan dua buah minuman yang kita pesan adalah akhir bahagia dari kisah kita hari ini hingga akhirnya kita memejamkan mata sebelum tidur.

 

Monday, May 27, 2019

Coretan hati

Tenanglah, badai tidak akan selamanya. Bahkan matahari pun punya waktu untuk tenggelam, untuk bersinar kembali esok. 
Mungkin, ini waktunya untuk sedikit mereda memberi kesempatan untuk beristirahat supaya esok kembali mencerahkan dunia.

Tak semua akan berjalan sesuai rencana, bahkan terkadang siang terguyur hujan, tapi setelahnya petichor yang menenangkan akan menguak. Bersabarlah.

Kadang, aku merindukan masa lalu, dimana aku bisa menulis dengan mudahnya, ah mungkin kini aku yang kelewat sinis untuk menceritakan hidup.

Tenanglah, masa itu akan berlalu, segera. Dan hidup terus berjalan.

Thursday, August 16, 2018

Senyum Tulus dari Natsepa


Ada satu saat dimana saya berkesempatan menginjakan kaki di tanah Ambon. Indonesia bagian timur memang menyimpan sesuatu yang lain dari pada yang biasa saya dapat di tempat biasa saya tinggal. Panasnya luar biasa menyengat. Alamnya luar biasa memikat. Dalam kesempatan perjalanan wisata dinas ke Ambon kemarin saya sempat mampir sebentar ke Pantai Natsepa.

Sampai di sana, saya disambut senyum anak-anak usia sekolah yang menjajakan dagangannya berupa pisang dan sukun goreng. Saya sudah lupa berapa harga tiap buahnya, tetapi yang saya ingat tidak mahal, karena sukun dan pisang masih mudah ditemui di sana.


by Huisvanvie

Namun, yang paling saya ingat adalah senyum bahagia mereka ketika dagangannya laris. Dan ketika kami memintanya mengambil lagi dagangannya untuk kami bungkus, dia berlari dengan semangat dan ceria. Dan, sebari bercanda memberi tahu temannya "andai kamu datang lebih awal, daganganmu juga bakal laris seperti daganganku. Kakak-kakak ini beli banyak."

Senyuman itu sedikit dari senyuman indah yang saya jumpai di tengah senyum basa basi orang-orang. Konon, itu adalah senyum tulus yang hanya bisa hadir dari hati yang juga masih tulus.

Tuesday, January 2, 2018

Happy New Year 2018

Hurraaaayyy... Satu tahun telah berlalu.. dan parahnya saya sudah jarang sekali menulis di tahun lalu.

Harapan untuk tahun ini semoga setiap hari bisa menulis, walaupun isinya cuma cerita sampah di kantor (ini usulan si Mas yang sebel denger saya uring2an terus), atau hal2 menyenangkan yang terjadi di hidup saya, hehehe...

Setikdaknya, selama 1 tahun ke depan (semoga) blog ini ramai dengan tulisan saya lagi. Happy New Year, semoga tahun ini berjalan lebih baik setiap harinya dan semoga hari-hari kita menyenangkan..

Wednesday, November 22, 2017

Cerita Tentang Teman

Teman bisa jadi siapa saja. Teman bisa datang dari mana saja. Pertemanan bisa terjadi kapan saja. Saya punya sedikit cerita tentang teman. 

Saya "bertemu" dengannya sekitar tahun 2010. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa (yang nyaris abadi) sedangkan dia sudah bekerja. Saya "bertemu" dengannya dalam satu forum chatting. Kala itu Yahoo Messenger masih menyediakan fasilitas room untuk sekedar mengobrol dengan siapa saja yang kebetulan sedang online dan masuk ke forum yang sama. Dari situ obrolan berlanjut tentang siapa saya dan siapa dia, apa yang kami kerjakan saat itu. Pertemanan berlanjut dengan pertemanan di facebook.

Hari berganti. Kami mulai meninggalkan forum tersebut dan mulai sibuk dengan urusan masing-masing yang lebih penting daripada sekedar mengobrol. Tiga tahun lalu, saya kembali bertemu dengannya. Kala itu kebetulan saya sedang online di facebook begitupun dengannya. Lama tak mengobrol, kami pun bertukar kabar. Kala itu, saya sudah lulus dan masih On Job Training di Lampung. Sedangkan dia sedang melanjutkan kuliahnya setelah mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya. Saya sudah hijrah ke Jakarta kemudian untuk sementara waktu harus tinggal di Lampung, sedangkan dia masih betah tinggal di Bandung. Janji untuk bertemu mulai terucap saat itu. "Kalau sudah pulang ke Jakarta, kapan-kapan main ke Bandung" atau "kalau saya sudah di Jakarta, kapan-kapan mailah ke Jakarta."

Waktu berlalu hingga akhirnya masa On Job Training saya berakhir dan dia selesai sekolah. Saya sudah kembali ke Jakarta dan dia sudah kembali bekerja dan masih betah di Bandung. Padahal saat itu saya sudah sering bolak balik ke Bandung, karena kebetulan kantor saya ada yang di Bandung. Baru satu tahun belakangan ini kami bertukar nomor HP. Janji-janji bertemu pun berulang diucapkan. Saya bolak-balik ke Bandung tapi tak juga punya kesempatan bertemu dengannya secara langsung, bukan lewat FB, line ataupun whatsapp. 

Akhirnya, setelah sekian kali gagal, baru hari ini saya bertemu dengannya secara langsung. Janji bertemu di tempat nongkrong yang oke berujung di warung makan Ampera (tempatnya juga nggak kalah asyik!). Tak apalah kami banyak mengobrol tadi. Sedikit mengenang masa lalu saat masih sama-sama suka ngobrol ngalor ngidul dengan orang entah siapa hingga cerita tentang hari ini cukuplah untuk "perkenalan" kami di dunia nyata. 

Akhirnya, setelah 7 tahun, saya bisa bertemu dengannya. 

Hai teman, salam kenal dari termanmu yang cerewet ini.




Bandung, 22 November 2017

Buat Nia, sukses untuk semua progress tulisannya :)

Wednesday, May 18, 2016

Surat Untuk Jono

Hai Jono, untuk kesekian kalinya aku mengirimu kabar.

Bertanya tentang kabarmu ku rasa tak lagi perlu, karena aku tahu, aku mendengar cerita tentangmu kini. Kamu banyak kehilangan orang-orang baik di sekitarmu. Aku, tak bisa berkata apapun, karena ku rasa sekedar kata-kata tak akan cukup mengobati lukamu.

Di sisi lain, aku akan sedikit bercerita tentangku. Tentangku yang tak pernah kau dengar dari mulut siapapun. Aku tak pernah berkata dengan benar-bener jujur padamu. Ada hal lain yang aku sembunyikan darimu, sama seperti kau menyembunyikan hal lain dariku. Di sini, aku akan mengatakan itu, karena aku tahu aku tak akan bisa menghadapimu ketika kau tahu hal ini.

Aku tetaplah seorang perempuan. Aku tahu kau lebih mengerti sifatku daripada siapapun termasuk diriku. Maafkan aku atas kekuranganku itu. Aku merasa aku tak akan pernah bisa sepenuhnya masuk dalam hidupmu. Kamu memiliki duniamu sendiri, tanpa aku. Selama kita berpisah, aku tak pernah tau sedikitpun tentang kamu. Berbeda dengan mereka yang ada di duniamu. Percaya padaku, bukan aku menarik diri, aku hanya tak ada di dalam kenanganmu, dan aku merasa kamu masih hidup dalam kenangan itu. 

Aku tak bisa mengungkapkan itu karena aku berjanji aku akan selalu ada untukmu. Hanya saja aku berada di luar lingkaran itu. Aku tak bisa menjagamu dalam lingkaran itu. Aku hanya ada di kehidupanmu yang lain. Aku tak pernah bermaksud memaksamu keluar, kemudian mengoyak lingkaran itu. Mengertilah, ketidakmampuanku untuk menjagamu. Dan itu melukaiku.  

Dan aku tak kuasa mengatakan ini karena aku tak pernah mau membebanimu, seperti yang kurasa selama ini aku lakukan padamu. Bersabarlah padaku.



Yuka

Monday, February 22, 2016

Cowok Pinter VS Cewek Pinter

Ada satu hal yang aku pelajari akhir-akhir ini. Oke sebenarnya ini adalah kasus yang umum dan sepertinya mulai di-iya-kan oleh hampir semua kaum adam, "Cewek itu adalah makhluk paling ribet sedunia". Mau tau ribetnya cewek? Banyak! Banyak banget malah. Aku sebagai cewek merasa ribet juga? Hmm aku jawab, kadang iya! Ribet kan kalau mikirin aku maunya seperti apa, tapi usaha yang aku jalankan untuk menjadi seperti yang aku inginkan malah berbuah sebaliknya. Setiap cewek itu pengen terlihat sempurna, cantik apalagi di depan cowoknya. Itu salah satu yang bikin cewek itu ribet. Mereka (kadang termasuk aku sendiri) sibuk memikirkan apa yang dia ingin orang lain lihat dari dirinya.

Hasil perenungan aku beberapa hari ini menyimpulkan bahwa cewek itu suka cowok yang pinter. Pernah gak sih kita (sebagai cewek) dan kalian (sebagai cowok) tanya ke cewek, kenapa dia suka ama seorang cowok. Jawabannya, biasanya selain baik pasti ada pinternya. Entah pinter itu dalam kategori apa. 

Tapi emang bener, menurut analisis yang aku lakukan terhadap diri sendiri dan beberapa sosok cewek baik di kantor ataupun di rumah, cowok pinter itu menarik. Pinter disini bisa macem-macem. Pinter dalam artian sesungguhnya di bidang akademis misalnya, atau pinter ngibul dan pinter bikin cewek sakit hati :P (yang disebutkan terakhir hanya ada pada kasus tertentu).

Jadi nih, saran aja buat para cowok yang sedang mencari cewek, jadilah cowok yang pinter. Walaupun kalian itu cuman pinter ngibul, karena percayalah sesungguhnya cewek itu mudah di jatuhkan hatinya oleh lelaki yang pintar, pintar menjatuhkan hati wanita tentunya. 

Karena tulisanku ini, aku gak pernah bermaksud bilang bahwa cewek itu gampang di kibulin ya. Cewek juga punya kepintarannya sendiri. Pintar dandan, jadi cowoknya betah lama-lama makan malem berdua. Pinter ngerayu, jadi cowoknya gak sadar berapa banyak duit di dompetnya berpindah tangan ke si cewek, (yaps, dua kepintaran ini sayangnya ga pernah ada di diriku :P) Pinter masak, jadi cowoknya bisa ngirit selalu makan masakan si cewek. Tapi ada juga cewek yang pinter bikin cowoknya nyaman dan akhirnya sering jadi tempat curhat dan kemudian mereka pun terjebak dalam zona pertemanan saja, tapi 'gak semua. Dalam cerita pasti ada happy endingnya sendiri-sendiri, meskipun tidak semua cerita ber-ending happy.  

Well, inilah yang aku lakukan di tengah kebosanan rutinitas kantor yang itu-itu aja :P
Semoga mencerahkan :D

Lantai 3 suatu gedung yang tidak terlalu tinggi di Jakarta Selatan
Saat makan siang.