Wednesday, December 23, 2020

22 Desember

Hari itu feedku dipenuhi banyaknya ucapan untuk ibu. Ah benar, itu adalah hari ibu. Terbesit dibenakku ingin mengucapkannya nanti setelah aku sampai di kantor. Berbahaya terlalu sering melihat hp saat berkendara. 

Hari itu entah kenapa pekerjaan di kantor menumpuk. Belum selesai yang satu ada yang lain datang. Rencana makan siang terlewatkan begitu saja. Beberapa pesan dari ibu menanyakan kabar dan mengingatkan makan siang pun tak bisa aku tanggapi. Semua rencana yang awalnya ada di benak, terlupakan begitu saja. Hari itu adalah hari yang sibuk. 

Malamnya beberapa kawan mengajak hang out untuk sekedar melepas penat. "Kenapa tidak?" batinku. Aku mengikuti mereka menuju tempat makan untuk memuaskan perut yang sedari siang tidak terurus dan bergossip ini dan itu. 

"Eh, ini hari ibu ya? Kalian-kalian ada tradisi ngucapin ke emak-emak kalian nggak sih?" tanya salah seorang temanku. 

"Gue udah ngucapin dong, ke nyokap gue sama sekalian calon mertua," timpal temanku yang lain. 

Seketika itu aku teringat rencanaku tadi pagi. Perlahan aku melihat pesan yang hari ini ibuku kirim. Beliau memang rajin mengirimi aku pesan hanya sekedar menanyakan kegiatanku dan mengingatkan aku makan. 

"Bentar ya, gue telp nyokap gue dulu. Jadi kepikiran," kataku sembari beranjak dari teman-temanku. 

Pukul 9 lebih malam itu. Sebetulnya aku ragu ibuku belum terlelap. Beliau biasa bangun pagi dan tidur lebih cepat malam harinya. Nada sambung terdengar di ponselku. "Ah, pasti udah tidur," pikirku.

"Halo.." Suara yang sangat membuatku nyaman terdengar di ujung telepon. 

"Mah, udah tidur ya?" tanyaku ragu

"Belum. Ini dimana, Dek? Belum pulang?" tanyanya.

"Belum mah, masih nongkrong sama anak-anak kantor. Mah, selamat hari ibu ya. Doa terbaik buat Mamah," kataku.

"Emang ini tanggal berapa? Mamah sih nggak penting hari ibu itu, yang penting Mamah tau kabarmu aja udah ayem" jawab ibuku. 

Telepon berlanjut sekitar 10 menit. Beliau tidak suka menganggu waktuku bersama teman-temanku atau pekerjaanku. Katanya beliau sudah cukup tenang dengan hanya membaca jawaban pesanaku dan mendengarkan suaraku 5 sampai 10 menit sudah membuatnya yakin anaknya baik-baik saja di negeri orang. Sejak itu, kupikir tidak ada lagi hari ibu. Setiap hari harusnya adalah menjadi harinya. Hari dimana kita nggak boleh bikin beliau khawatir, kita mendoakan beliau untuk semua kebaikannya, kita memanjakan beliau, harusnya terjadi setiap hari. Bukan hanya tiap tanggal 22 Desember dan kemudian besoknya kita lupa. 

Memang sih, terkadang ada saja pendapatku yang  nggak sesuai dengan pendapatnya. Sering kali beliau juga kesal dengan segala pemikiran dan keegoisanku. Namun, kupikir terkadang beliau juga lupa bahwa caranya mungkin berbeda dengan cara kita mendapatkan kebahagiaan. Tapi yang pasti beliau ingin kita bahagia bukan. 

Aku percaya tidak ada satu ibupun di dunia ini yang ingin anaknya tidak bahagia, dan tidak ada seorang anakpun di dunia ini yang ingin menyakiti ibunya. Terkadang jika keduanya tidak akur, mereka hanya lupa untuk melihat dari sisi satu sama lain, mereka terlalu fokus untuk melihat dari sisinya masing-masing.

Friday, July 5, 2019

Pukul 2 Pagi

Waktu menunjukkan pukul 6 petang. Aku berjalan gontai ke parkiran motor dimana Si Butut senantiasa menungguku. Siapa lagi temanku saat aku kesepian selain motorku? Pagi, siang bahkan tengah malam, hanya dia yang bersedia menemaniku membunuh waktu menikmati panas atau dinginnya udara saat itu. Malam ini, kita akan istirahat saja, aku lelah, pikirku. 

Aku mencoba merebahkan badanku sembari memejamkan mata seusai mandi sore. Berharap ada sedikit ide, ilham, wangsit, atau apapun namanya itu masuk ke dalam kepala kecilku. Aku butuh ide untuk menulis lagi. Seandainya inspirasi semudah itu datangnya. 

HPku bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Sebetulnya aku agak malas untuk mebukanya. Aku takut, pesan itu adalah pesan tagihan untuk semua hutang-hutangku.

"Sudah selesai? Mau kutemani mengerjakan?" 

Ternyata pesan darimu. Sebetulnya aku masih malas mengerjakan pekerjaan itu. Tapi, meluangkan waktu bersamamu entah mengapa selalu menjadi godaan tersendiri untukku. 
"Ok" balasaku. Segera aku mengganti bajuku dengan jeans dan jaket yang siap menghangatkanku sebelum kamu datang menjemputku. Tak perlu waktu lama untuk kita menemukan satu tempat yang cocok yang menurutmu baik untukku mencari inspirasi untuk menulis. 

Waktu perjalan cepat. Aku sendiri belum bisa menyelesaikan tulisanku. 

"Maaf, Mas, Mbak. Kami jam 2 sudah mau tutup, masih ada yang mau diorder lagi?" tanya seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri meja kita. Sejenak, aku melepaskan pandanganku dari laptop yang dengan kursor yang berkedip menanti huruf-huruf perangkai kata. Aku memandang sekitarku, memang tinggal beberapa gelintir orang yang masih tertinggal di kafe ala mahasiswa itu. 

"Sudah, Mbak. Kami sebentar lagi selesai kok," jawabku dan dijawan dengan anggukan sopan pramusaji itu.

"Udah kelar?" tanyamu.
"Belum. Sedikit lagi. Pulang aja yuk, ini aku kelarin di kosan aja," ajakku. Kemudian aku menghabiskan minuman yang kau pesankan untukku. Walaupun sudah dingin, minuman itu masih mampu menghangatkan di udara malam yang dingin. Sudah hampir pukul 2 pagi ternyata. 

Beberapa malam kemudian, hal yang sama terjadi lagi. Kamu selalu ada di saat aku memang membutuhkan teman dalam merangkai kata. Kali itu, kita sudah mulai biasa untuk diusir jam 2 pagi, seolah ada kesepakatan kita akan pulang jam 2 kurang 15 menit. Memaksimalkan waktu yang diperbolehkan untuk menggunakan listrik kafe tanpa harus diusir secara halus karena karyawan kafe butuh pulang dan tidur. Dalam hati aku berterima kasih padamu karna membuat malam-malamku yang tadinya hampir tidak produktif sama sekali menjadi sedikit lebih produktif. Entah karena ada kamu yang membantuku atau karena memang ide datang ada karena kamu ada.

Lepas beberapa tahun setelah aku menyelesaikan semua drama di dunia perkuliahan, aku mulai tidak terbiasa dengan kehidupan malam. Aku bukan lagi orang yang bisa terjaga hingga pagi. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Suatu kebetulan, pekerjaan yang kamu kerjakan ternyata berkaitan dengan pekerjaan yang aku lakukan. Bertemu sahabat lama, pikirku saat itu. 

"Aku mau konsultasi. Pekerjaanku belum selesai buat presentasi besok. Please bantuin, udah nggak tau harus gimana" isi pesanmu yang masuk ke HPku.
"Boleh, mau dimana?" jawabku.

Tak berapa lama kamu sudah menungguku di depan hotel tempat aku menginap. Sembari mencari tempat untuk mengerjakan presentasi besok, kamu menceritakan ketidaksiapanmu untuk presentasi besok. Kamu berharap, aku tidak terlalu membantaimu dalam presentasi besok. Dunia ini lucu, kamu yang selalu mengajariku banyak hal, tetapi sekarang kamu harus presentasi hasil pekerjaanmu kepada timku. Jika aku bisa bertindak tidak profesional, aku hanya akan bilang, "lanjutkan saja, kamu lebih berpengalaman dariku. Aku tahu kamu tahu yang terbaik," tetapi atasanku pasti tidak akan memaklumi hal tersebut.

Kamu memilih restoran cepat saji di seberang hotel. Selain dekat, tidak ada kemungkinan kita untuk diursir, ujarmu. Rupanya pengalaman kita diusir jam 2 pagi masih melekat di benakmu. Aku tertawa mendengar penjelasanmu. Banyak hal yang terjadi diantara kita, tetapi ternyata hal tersebut masih ada dalam ingatanmu.

Malam berlalu. Entah berapa orang yang sudah duduk di samping kita. Sedang kita masih asyik berdiskusi untuk kemungkinan-kemungkinan yang besok terjadi. Mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak. Mana yang bisa membantumu dan mana yang akan menjebakmu. Harusnya aku tak boleh membantumu, karena keesokan harinya, harusnya aku yang akan bertanya padamu mengenai yang kau jelaskan padaku malam ini. 

"Permisi, selamat malam, Ibu, Bapak. Maaf, ruangan ini akan ditutup jam 2 pagi" kata seorang pramusaji yang tiba-tiba menghampiri.
"Bukanya ini buka 24 jam?" tanyamu.
"Iya betul, Pak. Ruangan yang dibuka 24 jam ada di lantai 2, Pak," jawab pramusaji itu.
"Outdoor?" tanyamu kembali.
"Betul, Pak," jawab pramusaji itu sambil berlalu. Outdoor berarti tidak ada stopkontak yang bisa kita gunakan untuk menjaga laptopmu tetap menyala. Laptop tidak menyala berarti tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama berdiskusi tentang pekerjaan untuk besok.

Kita berdua saling pandang dan tersenyum. Mungkin menertawakan betapa kamu dan aku selalu dibatasi waktu sampai jam 2 jika mau bertemu. 

"Jadi, mau minum apa?" tanyamu. Aku melihat jam tangan yang selalu melingkar di tanganku. Pukul 2 pagi.
"Ini, kita nggak bakal diusir kan?" tanyaku.
"Kalau diusir ya kita bungkus aja, kita bawa pulang, minum di rumah" jawabmu sambil tersenyum.

Kali ini, tidak ada huruf yang perlu dirangkai menjadi kata. Tidak ada lagi paparan yang butuh untuk dijelaskan esok pagi. Tidak ada batasan jam 2 pagi. Kamu, aku dan dua buah minuman yang kita pesan adalah akhir bahagia dari kisah kita hari ini hingga akhirnya kita memejamkan mata sebelum tidur.

 

Monday, May 27, 2019

Coretan hati

Tenanglah, badai tidak akan selamanya. Bahkan matahari pun punya waktu untuk tenggelam, untuk bersinar kembali esok. 
Mungkin, ini waktunya untuk sedikit mereda memberi kesempatan untuk beristirahat supaya esok kembali mencerahkan dunia.

Tak semua akan berjalan sesuai rencana, bahkan terkadang siang terguyur hujan, tapi setelahnya petichor yang menenangkan akan menguak. Bersabarlah.

Kadang, aku merindukan masa lalu, dimana aku bisa menulis dengan mudahnya, ah mungkin kini aku yang kelewat sinis untuk menceritakan hidup.

Tenanglah, masa itu akan berlalu, segera. Dan hidup terus berjalan.

Thursday, August 16, 2018

Senyum Tulus dari Natsepa


Ada satu saat dimana saya berkesempatan menginjakan kaki di tanah Ambon. Indonesia bagian timur memang menyimpan sesuatu yang lain dari pada yang biasa saya dapat di tempat biasa saya tinggal. Panasnya luar biasa menyengat. Alamnya luar biasa memikat. Dalam kesempatan perjalanan wisata dinas ke Ambon kemarin saya sempat mampir sebentar ke Pantai Natsepa.

Sampai di sana, saya disambut senyum anak-anak usia sekolah yang menjajakan dagangannya berupa pisang dan sukun goreng. Saya sudah lupa berapa harga tiap buahnya, tetapi yang saya ingat tidak mahal, karena sukun dan pisang masih mudah ditemui di sana.


by Huisvanvie

Namun, yang paling saya ingat adalah senyum bahagia mereka ketika dagangannya laris. Dan ketika kami memintanya mengambil lagi dagangannya untuk kami bungkus, dia berlari dengan semangat dan ceria. Dan, sebari bercanda memberi tahu temannya "andai kamu datang lebih awal, daganganmu juga bakal laris seperti daganganku. Kakak-kakak ini beli banyak."

Senyuman itu sedikit dari senyuman indah yang saya jumpai di tengah senyum basa basi orang-orang. Konon, itu adalah senyum tulus yang hanya bisa hadir dari hati yang juga masih tulus.

Tuesday, January 2, 2018

Happy New Year 2018

Hurraaaayyy... Satu tahun telah berlalu.. dan parahnya saya sudah jarang sekali menulis di tahun lalu.

Harapan untuk tahun ini semoga setiap hari bisa menulis, walaupun isinya cuma cerita sampah di kantor (ini usulan si Mas yang sebel denger saya uring2an terus), atau hal2 menyenangkan yang terjadi di hidup saya, hehehe...

Setikdaknya, selama 1 tahun ke depan (semoga) blog ini ramai dengan tulisan saya lagi. Happy New Year, semoga tahun ini berjalan lebih baik setiap harinya dan semoga hari-hari kita menyenangkan..

Wednesday, November 22, 2017

Cerita Tentang Teman

Teman bisa jadi siapa saja. Teman bisa datang dari mana saja. Pertemanan bisa terjadi kapan saja. Saya punya sedikit cerita tentang teman. 

Saya "bertemu" dengannya sekitar tahun 2010. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa (yang nyaris abadi) sedangkan dia sudah bekerja. Saya "bertemu" dengannya dalam satu forum chatting. Kala itu Yahoo Messenger masih menyediakan fasilitas room untuk sekedar mengobrol dengan siapa saja yang kebetulan sedang online dan masuk ke forum yang sama. Dari situ obrolan berlanjut tentang siapa saya dan siapa dia, apa yang kami kerjakan saat itu. Pertemanan berlanjut dengan pertemanan di facebook.

Hari berganti. Kami mulai meninggalkan forum tersebut dan mulai sibuk dengan urusan masing-masing yang lebih penting daripada sekedar mengobrol. Tiga tahun lalu, saya kembali bertemu dengannya. Kala itu kebetulan saya sedang online di facebook begitupun dengannya. Lama tak mengobrol, kami pun bertukar kabar. Kala itu, saya sudah lulus dan masih On Job Training di Lampung. Sedangkan dia sedang melanjutkan kuliahnya setelah mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya. Saya sudah hijrah ke Jakarta kemudian untuk sementara waktu harus tinggal di Lampung, sedangkan dia masih betah tinggal di Bandung. Janji untuk bertemu mulai terucap saat itu. "Kalau sudah pulang ke Jakarta, kapan-kapan main ke Bandung" atau "kalau saya sudah di Jakarta, kapan-kapan mailah ke Jakarta."

Waktu berlalu hingga akhirnya masa On Job Training saya berakhir dan dia selesai sekolah. Saya sudah kembali ke Jakarta dan dia sudah kembali bekerja dan masih betah di Bandung. Padahal saat itu saya sudah sering bolak balik ke Bandung, karena kebetulan kantor saya ada yang di Bandung. Baru satu tahun belakangan ini kami bertukar nomor HP. Janji-janji bertemu pun berulang diucapkan. Saya bolak-balik ke Bandung tapi tak juga punya kesempatan bertemu dengannya secara langsung, bukan lewat FB, line ataupun whatsapp. 

Akhirnya, setelah sekian kali gagal, baru hari ini saya bertemu dengannya secara langsung. Janji bertemu di tempat nongkrong yang oke berujung di warung makan Ampera (tempatnya juga nggak kalah asyik!). Tak apalah kami banyak mengobrol tadi. Sedikit mengenang masa lalu saat masih sama-sama suka ngobrol ngalor ngidul dengan orang entah siapa hingga cerita tentang hari ini cukuplah untuk "perkenalan" kami di dunia nyata. 

Akhirnya, setelah 7 tahun, saya bisa bertemu dengannya. 

Hai teman, salam kenal dari termanmu yang cerewet ini.




Bandung, 22 November 2017

Buat Nia, sukses untuk semua progress tulisannya :)

Wednesday, May 18, 2016

Surat Untuk Jono

Hai Jono, untuk kesekian kalinya aku mengirimu kabar.

Bertanya tentang kabarmu ku rasa tak lagi perlu, karena aku tahu, aku mendengar cerita tentangmu kini. Kamu banyak kehilangan orang-orang baik di sekitarmu. Aku, tak bisa berkata apapun, karena ku rasa sekedar kata-kata tak akan cukup mengobati lukamu.

Di sisi lain, aku akan sedikit bercerita tentangku. Tentangku yang tak pernah kau dengar dari mulut siapapun. Aku tak pernah berkata dengan benar-bener jujur padamu. Ada hal lain yang aku sembunyikan darimu, sama seperti kau menyembunyikan hal lain dariku. Di sini, aku akan mengatakan itu, karena aku tahu aku tak akan bisa menghadapimu ketika kau tahu hal ini.

Aku tetaplah seorang perempuan. Aku tahu kau lebih mengerti sifatku daripada siapapun termasuk diriku. Maafkan aku atas kekuranganku itu. Aku merasa aku tak akan pernah bisa sepenuhnya masuk dalam hidupmu. Kamu memiliki duniamu sendiri, tanpa aku. Selama kita berpisah, aku tak pernah tau sedikitpun tentang kamu. Berbeda dengan mereka yang ada di duniamu. Percaya padaku, bukan aku menarik diri, aku hanya tak ada di dalam kenanganmu, dan aku merasa kamu masih hidup dalam kenangan itu. 

Aku tak bisa mengungkapkan itu karena aku berjanji aku akan selalu ada untukmu. Hanya saja aku berada di luar lingkaran itu. Aku tak bisa menjagamu dalam lingkaran itu. Aku hanya ada di kehidupanmu yang lain. Aku tak pernah bermaksud memaksamu keluar, kemudian mengoyak lingkaran itu. Mengertilah, ketidakmampuanku untuk menjagamu. Dan itu melukaiku.  

Dan aku tak kuasa mengatakan ini karena aku tak pernah mau membebanimu, seperti yang kurasa selama ini aku lakukan padamu. Bersabarlah padaku.



Yuka