Friday, February 17, 2012

It’s Called Letters

Zaman memang sudah berubah. Teknologi semakin maju yang memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan lebih cepat dan murah. Tetapi ada tak pernah ada salahnya kita mengingat zaman sebelum ada telepon seluler, blackberry, ataupun iphone. We have letters to communicate with others.

Beberapa hari yang lalu gw menemukan beberapa surat lama. Rata-rata ditulis tahun 2000. Kebanyakan dari surat itu sebenarnya adalah kartu ucapan lebaran yang dikirim beberapa teman. Yang lain adalah surat dari oom dan tante gw yang waktu itu masih kuliah di Yogyakarta. Ah, ada lagi 1 surat yang sebenarnya bukan ditujukan buat gw, tetapi buat teman duduk gw. Surat ucapan valentine. Surat itu ada di tangan gw karena temen duduk gw nitipin surat itu ke gw. Dulu, dia ngerasa bahwa surat itu adalah ‘penembakan’ secara tidak langsung. Tapi karena temen gw itu nggak suka sama si cowok, dia menolak surat itu dan nitipin ke gw.

Surat-surat itu udah ada di kantong serba guna gw selama 12 tahun. Waktu yang sangat lama buat menyimpan benda-benda kenangan. Bandingkan dengan sms atau instan message ataupun bbm. Biasanya kita menyimpan beberapa pesan yang menarik atau mungkin pesan dari beberapa orang yang kita suka. Namun, pesan itu tidak akan bertahan selama lebih dari 3 tahun. Kalaupun ada biasanya terbatas.

Beberapa surat yang gw temuin itu bikin gw sadar bahwa ada beberapa hal yang gak bisa tergantikan dari surat-menyurat.
1. Kita gak akan pernah bisa lupa siapa yang ngirim surat itu.
2. Kita akan inget apa yang pernah kita lakukan pada saat kita terima surat itu.
3. Surat itu suatu yang isa disimpen sampe bertahun-tahun.

Sebenernya masih ada lagi sih seninya dalam surat-menyurat. Gw seneng kalau tiba-tiba ada surat datang dari seorang temen lama. Setelah kirim balasan gw pasti bakal ngecek ada surat balasan lagi atau tidak.

So, gak pernah ada salahnya kita kembali pake teknologi dulu, surat-menyurat. Setidaknya di mulai dari kirim kartu ucapan. Karena sebenarnya (ini pendapat pribadi gw) kartu ucapan bakal terasa lebih mengena ketimbang sms atau bahkan instan message ataupun BBM.
Let’s write a letter :)

Tuesday, January 24, 2012

Gadgetsyndrom

Ada suatu fenomena yang kian menjadi di Jogja. Karena saya bukan psikolog yang tau apa nama fenomena ini, saya mengistilahkan fenomena ini dengan istilah saya sendiri, yaitu gadgetsyndrom. Kenapa gadgetsyndrom? Karena fenomena ini melanda para pengguna gadget.

Suatu ketika saat saya sedang suntuk dan butuh mengobrol bersama seorang teman, pergilah kami ke sebuah tempat makan 24 jam yang menyediakan tempat yang nyaman untuk mengobrol. Di situ kami mengobrol dari jam 9 malam hingga sekitar jam 12. Kami berdua mengobrol sembari membalas sms yang masuk ke hp masing-masing. Sebenarnya sedikit mengganggu, ketika seorang teman butuh ditemani mengobrol dan diselingi membalas sms. Ketika sms itu merupakan hal yang penting, it's ok saya bisa mengerti, tetapi jika sms itu tak ubahnya mengobrol via message. Bukankah sama juga kita harus membagi pikiran untuk 2 orang yang berbeda dengan masalah yang berbeda pula?

Kemudian saya melihat sekeliling saya. Di sofa sebelah ada 3 orang laki-laki, masih muda yang sibuk dengan gadgednya masing-masing. Anggaplah mereka si A, B, C. Si A sibuk dengan BBnya. Si B sibuk dengan HP touchscreennya dan si C sibuk dengan notebooknya. Kombinasi yang sangat luar biasa hingga membuat saya berfikir buat apa mereka hangout bareng tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Mereka tidak mengobrol tetapi sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Hal ini membuat saya bertanya apakah memang keluar bersama teman itu bukan lagi untuk mengobrol dan tertawa bersama, tetapi hanya sekedar bertemu, makan bersama sambil bersibuk ria dengan gadget masing-masing.

Jika memang begitu menurut saya tidak lagi ada gunanya makan bersama teman karena itu hanya seperti suatu rangkaian acara yang biasa disebut formalitas. Sebenarnya saya sangat menyanyangkan hal itu. Saya sangat menikmati malam yang saya habiskan dengan mengobrol dan tertawa bersama teman-teman saya. Jangan sampai hal seperti itu hilang hanya karena gadgetsyndrom yang saya sebut tadi. So, kapan lagi kita mengobrol, tertawa sembari menikmati hangatnya kopi untuk mengusir dinginnya malam? How about tonight?

Wednesday, January 11, 2012

Jambu (Janji Busuk)

Jambuuuu....Janji janjimu janji busuk..busuk..busuk....

Sepenggal lirik di atas diambil dari lagu dangdut yang pernah saya dengar di suatu tempat. Sebenarnya gak ada yang istimewa dari lagu itu ketika pertama kali saya dengar. Tetapi entah mengapa hari ini lagu itu mengingatkan saya akan suatu janji yang memang akhirnya akan membusuk.

Janji busuk itu sepertinya memang sudah menjadi trend di Indonesia. Bukan hanya oleh para perayu andal yang menjanjikan ini itu pada pasangannya, bukan hanya oleh para petinggi yang menjanjikan ini itu saat kampanye, bahkan oleh beberapa mahasiswa yang berjanji ini itu hanya untuk memuaskan ambisinya.

Tidak sebut merk, tetapi hanya kecewa saja. Bahkan seorang mahasiswa yang seharusnya masih memiliki idealisme yang tinggi mengucapkan "jambu" itu dengan gampangnya.

Akhir tahun ini, jujur saya menunggu sesuatu yang akan hadir sebagai "bingkisan akhir tahun." Saya berharap dapat menilai produk akhir tahun itu dan menjadikan produk tersebut progres dari berlangsungnya program yang dijanjikan. Namun, hingga detik ini saya belum menerima satupun produk akhir tahun itu. Sungguh mengecewakan. Tadinya saya berharap dapat mengubur kekecawaan saya sebelumnya, tetapi ternyata saya salah.

Kalau begitu pilihannya, saya lebih memilih untuk tidak mempercayai apa yang tidak saya percaya dan tidak membiarkannya merusak semua sistem yang telah saya bangun. Lebih baik tak menjanjikan apa-apa daripada kehilangan kepercayaan.

Thursday, December 8, 2011

Cerita Tentang Rangin

Ceritanya semalam gw kelaparan. Kebetulan salah seorang teman yang nun jauh disana ngajak chatting. Padahal waktu itu gw lebih memilih buat tidur ketimbang chatting. Alasan lain menghindari chatting adalah biar gak ngomongin makanan dan membawangkan betapa enaknya makan makanan anget dan berkuah di malem yang dingin itu. Tapi ternyata percakapan tentang makanan gak bisa dihindari dan muncullah makanan yang udah lama gak gw makan. Rangin. Sebutan lain dari makanan ini adalah Bandros, Gandos, Serabi angin.

Ini adalah makanan yang udah lama banget gak gw makan. Terakhir gw makan rangin itu adalah masa-masa gw masih sekolah dulu, entah SMP atau SMA. Makanan ini juga jarang gw temuin di Jogja. Akhirnya, karena penasaran (atau saking putus asanya) gw googling makanan ini. Ketemu juga satu tulisan di kuniler kompasiana yang kebetulan ngasih informasi dimana tempat si rangin berada. Gw mengakhiri malem dengan berharap esok paginya bisa bangun pagi dan meluncur ke Jalan Suryodiningratan.

Jadi, pagi ini berjalan sempurna, seperti yang udah direncanain, sampai akhirnya sampai di jalan paris hujan deres. Perjalanan tetap berlanjut, gw menerobos hujan hanya berbekal atasan mantel andalan. Sampai di depan hotel Brongto Jl. Suryodiningratan ternyata bapak si penjual rangin gak ada. Sebenernya gw juga gak ngerasa heran, karena tulisan sumber informasi gw itu dibuat sekitar januari 2011, wajar kalo keadaan udah berubah dan si bapak gak jualan lagi di situ. Ditambah lagi hujan yang deras, mungkin aja bapak penjual rangin itu memutuskan untuk tidak berjualan. Hampir gw memutuskan buat puter balik dan pulang, sekilas gw liat ada penjual berteduh karena ujan di deket pos kamling bersebrangan dengan SD kanisius pugeran.

And this is it. Gw duduk menikmati 2 sisir rangin dengan keadaan celana jins basah kuyup dan badan kedinginan. Yummy. Lebih nikmat lagi kalo di nikmati sama teh anget. Gw bayangin duduk di teras rumah, nikmatin pemandangan hujan + teh anget + beberapa sisir rangin. Aish, salah satu nikmatnya hidup.

Gw sempet ngobrol sama si bapak, beliau bilang biasa jualan di depan Hotel Brongto sampai jam 8 pagi, trus biasanya muter lagi dan jualan di puskesmas Mantri Jeron sampai sekitar jam 11 siang.

Jadi, mari lestarikan makanan Indonesia :p


sumber informasi : http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/01/11/alkisah-gandos-rangin-suryodiningratan/

Saturday, November 19, 2011

Sementara

Ini lirik lagunya float yang kebetulan dinyanyiin temen gw barusan, walaupun suara rada putus2 and kresek2 gara2 koneksi parah gw, tapi paling gak bisa gw denger dan bisa sedikit meredakan kegalauan malming kelabu gw.
Thx udah mau nyanyi + maen gitar buat gw, walaupun koneksi gw parahnya ampun2an sampe2 bikin kesel. And thank's for singing this song and make ​​me realize that we just not yet find the right person


Here's the lyrics.


Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini


Song : Sementara by Float

Wednesday, October 26, 2011

Arem-arem Isi Penasaran

Suatu pagi pada saat pelatihan speak up

Teman : "Ini isinya apa ya?" Sambil memungut isi dari dus snack yang diberikan
Gw : "Paling arem2, klo gak ayam ya sayur"

Satu gigitan dia makan, tetapi si arem2 belum menunjukkan isi dalemannya. Gw yang tadinya gak tertarik menjadi penasaran dengan isi si arem-arem (karena kebetulan saaat itu perut gw juga sudah bernyanyi)

Gw : "Gigit lagi, keknya isinya masih di dalem tuh,"
Gigitan kedua juga belum menampakkan tanda-tanda isi si arem-arem. Gw terus ngeliatin dan ngasih semangat temen gw buat makan arem-arem itu. Sampai akhirnya pada gigitan keempat.

Teman : "Ini gigitan terakhir, lu mau bilang isinya masih di bawah lagi. Habis ini yang ada cuman daonnya,"
Ternyata memang benar arem-arem temen gw gak ada isinya. Sepertinya memang sang pembuat arem-arem lupa menaruh isinya, karena temen yang lain menunjukkan isi arem-aremnya.

Arem-arem gw? Gw tinggalin di atas meja, karena gw pergi sebelum sempet makan arem-arem itu.

Soal speak upnya, gw suka pembicaranya cuman pemandunya bikin bosen, panitianya gak bisa bikin acara itu lebih menarik.

Sunday, October 16, 2011

Belajar Memimpin

Gw percaya tiap orang ditakdirkan menjadi pemimpin. Tiap orang wajib memimpin dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dalam hidupnya.

Jadi pemimpin itu gak gampang. Apalagi mimpin orang lain, memimpin diri sendiri gw rasa juga cukup berat. Mulai dari mendisiplinkan diri, tau mana yang menjadi prioritas dan menjalankannya. Gw terkadang masih suka bandel dengan aturan-aturan hidup yang gw bikin sendiri.

Kalo jadi pemimpin buat orang lain idealnya orang tersebut udah isa memimpin dirinya dengan baik dulu. Tapi seperti teori lain, keadaan ideal itu sangat jarang ditemui atau bahkan nyaris gak mungkin terjadi. Seorang pemimpin harus mampu menilai mana yang lebih prioritas, mengambil keputusan dengan cepat dan satu hal lagi bisa bersikap profesional. Salah satu sikap profesional yang isa terlihat dari seorang pemimpin adalah isa mengontrol diri baik ucapan maupun berbuatan.

Harusnya seorang pemimpin isa dengan lugas memilih mana yang baik dan mana yang salah. Bisa dengan cepat mengambil keputusan dan meraih kesempatan yang jarang ada. Seorang pemimpin juga harusnya isa bersikap optimis dan memberikan semangat pada anak buahnya ketika mereka terjatuh. Gw pikir hal itu harus dimulai dari sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila dia masih belum tau mana yang menjadi prioritas untuk dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa mengambil kesempatan yang mungkin ada.
Bagaimana mungkin seseorang dihaapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa menyemangati dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dan hanya pasrah dengan keadaan
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila kata-kata "ya memang tidak mampu" kerap keluar dari mulutnya tanpa usaha untuk memperbaiki diri.
Dan terahir, bagaimana mungkin seseorang yang tak tahan kritik diharapkan untuk menjadi payung bagi anggotanya.

Gw pikir, gw masih termasuk salah satu di antaranya. Gak pernah ada salahnya sesekali bercermin dan menilai diri sendiri, "sudah mampukah gw untuk menjadi pemimpin buat diri gw sendiri?"