Wednesday, January 11, 2012

Jambu (Janji Busuk)

Jambuuuu....Janji janjimu janji busuk..busuk..busuk....

Sepenggal lirik di atas diambil dari lagu dangdut yang pernah saya dengar di suatu tempat. Sebenarnya gak ada yang istimewa dari lagu itu ketika pertama kali saya dengar. Tetapi entah mengapa hari ini lagu itu mengingatkan saya akan suatu janji yang memang akhirnya akan membusuk.

Janji busuk itu sepertinya memang sudah menjadi trend di Indonesia. Bukan hanya oleh para perayu andal yang menjanjikan ini itu pada pasangannya, bukan hanya oleh para petinggi yang menjanjikan ini itu saat kampanye, bahkan oleh beberapa mahasiswa yang berjanji ini itu hanya untuk memuaskan ambisinya.

Tidak sebut merk, tetapi hanya kecewa saja. Bahkan seorang mahasiswa yang seharusnya masih memiliki idealisme yang tinggi mengucapkan "jambu" itu dengan gampangnya.

Akhir tahun ini, jujur saya menunggu sesuatu yang akan hadir sebagai "bingkisan akhir tahun." Saya berharap dapat menilai produk akhir tahun itu dan menjadikan produk tersebut progres dari berlangsungnya program yang dijanjikan. Namun, hingga detik ini saya belum menerima satupun produk akhir tahun itu. Sungguh mengecewakan. Tadinya saya berharap dapat mengubur kekecawaan saya sebelumnya, tetapi ternyata saya salah.

Kalau begitu pilihannya, saya lebih memilih untuk tidak mempercayai apa yang tidak saya percaya dan tidak membiarkannya merusak semua sistem yang telah saya bangun. Lebih baik tak menjanjikan apa-apa daripada kehilangan kepercayaan.

Thursday, December 8, 2011

Cerita Tentang Rangin

Ceritanya semalam gw kelaparan. Kebetulan salah seorang teman yang nun jauh disana ngajak chatting. Padahal waktu itu gw lebih memilih buat tidur ketimbang chatting. Alasan lain menghindari chatting adalah biar gak ngomongin makanan dan membawangkan betapa enaknya makan makanan anget dan berkuah di malem yang dingin itu. Tapi ternyata percakapan tentang makanan gak bisa dihindari dan muncullah makanan yang udah lama gak gw makan. Rangin. Sebutan lain dari makanan ini adalah Bandros, Gandos, Serabi angin.

Ini adalah makanan yang udah lama banget gak gw makan. Terakhir gw makan rangin itu adalah masa-masa gw masih sekolah dulu, entah SMP atau SMA. Makanan ini juga jarang gw temuin di Jogja. Akhirnya, karena penasaran (atau saking putus asanya) gw googling makanan ini. Ketemu juga satu tulisan di kuniler kompasiana yang kebetulan ngasih informasi dimana tempat si rangin berada. Gw mengakhiri malem dengan berharap esok paginya bisa bangun pagi dan meluncur ke Jalan Suryodiningratan.

Jadi, pagi ini berjalan sempurna, seperti yang udah direncanain, sampai akhirnya sampai di jalan paris hujan deres. Perjalanan tetap berlanjut, gw menerobos hujan hanya berbekal atasan mantel andalan. Sampai di depan hotel Brongto Jl. Suryodiningratan ternyata bapak si penjual rangin gak ada. Sebenernya gw juga gak ngerasa heran, karena tulisan sumber informasi gw itu dibuat sekitar januari 2011, wajar kalo keadaan udah berubah dan si bapak gak jualan lagi di situ. Ditambah lagi hujan yang deras, mungkin aja bapak penjual rangin itu memutuskan untuk tidak berjualan. Hampir gw memutuskan buat puter balik dan pulang, sekilas gw liat ada penjual berteduh karena ujan di deket pos kamling bersebrangan dengan SD kanisius pugeran.

And this is it. Gw duduk menikmati 2 sisir rangin dengan keadaan celana jins basah kuyup dan badan kedinginan. Yummy. Lebih nikmat lagi kalo di nikmati sama teh anget. Gw bayangin duduk di teras rumah, nikmatin pemandangan hujan + teh anget + beberapa sisir rangin. Aish, salah satu nikmatnya hidup.

Gw sempet ngobrol sama si bapak, beliau bilang biasa jualan di depan Hotel Brongto sampai jam 8 pagi, trus biasanya muter lagi dan jualan di puskesmas Mantri Jeron sampai sekitar jam 11 siang.

Jadi, mari lestarikan makanan Indonesia :p


sumber informasi : http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/01/11/alkisah-gandos-rangin-suryodiningratan/

Saturday, November 19, 2011

Sementara

Ini lirik lagunya float yang kebetulan dinyanyiin temen gw barusan, walaupun suara rada putus2 and kresek2 gara2 koneksi parah gw, tapi paling gak bisa gw denger dan bisa sedikit meredakan kegalauan malming kelabu gw.
Thx udah mau nyanyi + maen gitar buat gw, walaupun koneksi gw parahnya ampun2an sampe2 bikin kesel. And thank's for singing this song and make ​​me realize that we just not yet find the right person


Here's the lyrics.


Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini


Song : Sementara by Float

Wednesday, October 26, 2011

Arem-arem Isi Penasaran

Suatu pagi pada saat pelatihan speak up

Teman : "Ini isinya apa ya?" Sambil memungut isi dari dus snack yang diberikan
Gw : "Paling arem2, klo gak ayam ya sayur"

Satu gigitan dia makan, tetapi si arem2 belum menunjukkan isi dalemannya. Gw yang tadinya gak tertarik menjadi penasaran dengan isi si arem-arem (karena kebetulan saaat itu perut gw juga sudah bernyanyi)

Gw : "Gigit lagi, keknya isinya masih di dalem tuh,"
Gigitan kedua juga belum menampakkan tanda-tanda isi si arem-arem. Gw terus ngeliatin dan ngasih semangat temen gw buat makan arem-arem itu. Sampai akhirnya pada gigitan keempat.

Teman : "Ini gigitan terakhir, lu mau bilang isinya masih di bawah lagi. Habis ini yang ada cuman daonnya,"
Ternyata memang benar arem-arem temen gw gak ada isinya. Sepertinya memang sang pembuat arem-arem lupa menaruh isinya, karena temen yang lain menunjukkan isi arem-aremnya.

Arem-arem gw? Gw tinggalin di atas meja, karena gw pergi sebelum sempet makan arem-arem itu.

Soal speak upnya, gw suka pembicaranya cuman pemandunya bikin bosen, panitianya gak bisa bikin acara itu lebih menarik.

Sunday, October 16, 2011

Belajar Memimpin

Gw percaya tiap orang ditakdirkan menjadi pemimpin. Tiap orang wajib memimpin dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dalam hidupnya.

Jadi pemimpin itu gak gampang. Apalagi mimpin orang lain, memimpin diri sendiri gw rasa juga cukup berat. Mulai dari mendisiplinkan diri, tau mana yang menjadi prioritas dan menjalankannya. Gw terkadang masih suka bandel dengan aturan-aturan hidup yang gw bikin sendiri.

Kalo jadi pemimpin buat orang lain idealnya orang tersebut udah isa memimpin dirinya dengan baik dulu. Tapi seperti teori lain, keadaan ideal itu sangat jarang ditemui atau bahkan nyaris gak mungkin terjadi. Seorang pemimpin harus mampu menilai mana yang lebih prioritas, mengambil keputusan dengan cepat dan satu hal lagi bisa bersikap profesional. Salah satu sikap profesional yang isa terlihat dari seorang pemimpin adalah isa mengontrol diri baik ucapan maupun berbuatan.

Harusnya seorang pemimpin isa dengan lugas memilih mana yang baik dan mana yang salah. Bisa dengan cepat mengambil keputusan dan meraih kesempatan yang jarang ada. Seorang pemimpin juga harusnya isa bersikap optimis dan memberikan semangat pada anak buahnya ketika mereka terjatuh. Gw pikir hal itu harus dimulai dari sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila dia masih belum tau mana yang menjadi prioritas untuk dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa mengambil kesempatan yang mungkin ada.
Bagaimana mungkin seseorang dihaapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa menyemangati dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dan hanya pasrah dengan keadaan
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila kata-kata "ya memang tidak mampu" kerap keluar dari mulutnya tanpa usaha untuk memperbaiki diri.
Dan terahir, bagaimana mungkin seseorang yang tak tahan kritik diharapkan untuk menjadi payung bagi anggotanya.

Gw pikir, gw masih termasuk salah satu di antaranya. Gak pernah ada salahnya sesekali bercermin dan menilai diri sendiri, "sudah mampukah gw untuk menjadi pemimpin buat diri gw sendiri?"

Saturday, October 15, 2011

Kenapa Takut?

Kenapa takut kalau memang benar. Dalam kasus yang bakal gw ceritain kali ini lebih cocok kalo kalimat tadi gw ganti dengan "kenapa takut kalo emang ngerasa mampu".

Kita ambil contoh mudah, ketika kamu memang merasa mampu di bidang matematika, ujian matematika tentunya bukan suatu hal yang menakutkan. Tidak akan pernah ada kata "kenapa mesti ada ujian matematika? Ini tidak adil buatku," akan terucap dari mulut seseorang yang memang mampu di bidang matematika.

Suatu kompetisi menjadi tidak fair ketika seseorang yang bukan di bidang matematika ditandingkan di bidang matematika tanpa sepengatahuannya. Kompetisi menjadi tidak fair ketika seorang anak SD disuruh berlomba dengan anak SMA dengan materi yang baru disampaikan di SMA.

Jadi, kenapa mesti takut dikompetisikan kalau memang mampu. Kenapa mesti harus mengandalkan menjadi calon tunggal. Kenapa mesti harus takut untuk bertanding. Gw rasa orang yang bilang "ini gak fair buat kami" adalah orang yang takut melihat kekalahannya. Dengan kata lain dia tidak bisa menerima kekurangannya. Orang tersebut adalah seorang pengecut, dan biasanya seorang pengecut tak lebih dari seorang pencundang. Jadi, Kenapa Takut?

Saturday, October 8, 2011

Curcol Saya Hari Ini

Memahami perbedaan makna mungkin agak sulit bagi sebagian orang. Saya sendiri terkadang mengalaminya. Contohnya, tidak menyiarkan bukan berarti menutupi. Anggaplah keluarga anda sendiri memiliki suatu cacat, bukankah cacat tersebut tak perlu ditutupi ataupun di siarkan pada semua yang tak berkepentingan. Sebuah organisasi juga teradang memiliki kekurangan, tetapi jika kita akan melalukan promosi tentang suatu organisasi bukankah tak perlu untuk menyebarluaskan kekurangan organisasi tersebut? Logikanya adalah jika kita melukan suatu promosi, kita akan mengajak seseorang dengan memperlihatkan daya tarik yang dimiliki organisasi tersebut, bukan malah menyebarkan kekurangan organisasi yang bersangkutan. Kekurangan tersebut seharusnya hanya menjadi problem anggotanya untuk diselesaikan dan dicari jalan keluar yang terbaik.

**ungkapan kekecewaan seorang 'mantan' anggota organisasi tersebut**