Ceritanya semalam gw kelaparan. Kebetulan salah seorang teman yang nun jauh disana ngajak chatting. Padahal waktu itu gw lebih memilih buat tidur ketimbang chatting. Alasan lain menghindari chatting adalah biar gak ngomongin makanan dan membawangkan betapa enaknya makan makanan anget dan berkuah di malem yang dingin itu. Tapi ternyata percakapan tentang makanan gak bisa dihindari dan muncullah makanan yang udah lama gak gw makan. Rangin. Sebutan lain dari makanan ini adalah Bandros, Gandos, Serabi angin.
Ini adalah makanan yang udah lama banget gak gw makan. Terakhir gw makan rangin itu adalah masa-masa gw masih sekolah dulu, entah SMP atau SMA. Makanan ini juga jarang gw temuin di Jogja. Akhirnya, karena penasaran (atau saking putus asanya) gw googling makanan ini. Ketemu juga satu tulisan di kuniler kompasiana yang kebetulan ngasih informasi dimana tempat si rangin berada. Gw mengakhiri malem dengan berharap esok paginya bisa bangun pagi dan meluncur ke Jalan Suryodiningratan.
Jadi, pagi ini berjalan sempurna, seperti yang udah direncanain, sampai akhirnya sampai di jalan paris hujan deres. Perjalanan tetap berlanjut, gw menerobos hujan hanya berbekal atasan mantel andalan. Sampai di depan hotel Brongto Jl. Suryodiningratan ternyata bapak si penjual rangin gak ada. Sebenernya gw juga gak ngerasa heran, karena tulisan sumber informasi gw itu dibuat sekitar januari 2011, wajar kalo keadaan udah berubah dan si bapak gak jualan lagi di situ. Ditambah lagi hujan yang deras, mungkin aja bapak penjual rangin itu memutuskan untuk tidak berjualan. Hampir gw memutuskan buat puter balik dan pulang, sekilas gw liat ada penjual berteduh karena ujan di deket pos kamling bersebrangan dengan SD kanisius pugeran.
And this is it. Gw duduk menikmati 2 sisir rangin dengan keadaan celana jins basah kuyup dan badan kedinginan. Yummy. Lebih nikmat lagi kalo di nikmati sama teh anget. Gw bayangin duduk di teras rumah, nikmatin pemandangan hujan + teh anget + beberapa sisir rangin. Aish, salah satu nikmatnya hidup.
Gw sempet ngobrol sama si bapak, beliau bilang biasa jualan di depan Hotel Brongto sampai jam 8 pagi, trus biasanya muter lagi dan jualan di puskesmas Mantri Jeron sampai sekitar jam 11 siang.
Jadi, mari lestarikan makanan Indonesia :p
sumber informasi : http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2011/01/11/alkisah-gandos-rangin-suryodiningratan/
Thursday, December 8, 2011
Saturday, November 19, 2011
Sementara
Ini lirik lagunya float yang kebetulan dinyanyiin temen gw barusan, walaupun suara rada putus2 and kresek2 gara2 koneksi parah gw, tapi paling gak bisa gw denger dan bisa sedikit meredakan kegalauan malming kelabu gw.
Thx udah mau nyanyi + maen gitar buat gw, walaupun koneksi gw parahnya ampun2an sampe2 bikin kesel. And thank's for singing this song and make me realize that we just not yet find the right person
Here's the lyrics.
Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini
Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini
Song : Sementara by Float
Thx udah mau nyanyi + maen gitar buat gw, walaupun koneksi gw parahnya ampun2an sampe2 bikin kesel. And thank's for singing this song and make me realize that we just not yet find the right person
Here's the lyrics.
Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini
Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini
Song : Sementara by Float
Wednesday, October 26, 2011
Arem-arem Isi Penasaran
Suatu pagi pada saat pelatihan speak up
Teman : "Ini isinya apa ya?" Sambil memungut isi dari dus snack yang diberikan
Gw : "Paling arem2, klo gak ayam ya sayur"
Satu gigitan dia makan, tetapi si arem2 belum menunjukkan isi dalemannya. Gw yang tadinya gak tertarik menjadi penasaran dengan isi si arem-arem (karena kebetulan saaat itu perut gw juga sudah bernyanyi)
Gw : "Gigit lagi, keknya isinya masih di dalem tuh,"
Gigitan kedua juga belum menampakkan tanda-tanda isi si arem-arem. Gw terus ngeliatin dan ngasih semangat temen gw buat makan arem-arem itu. Sampai akhirnya pada gigitan keempat.
Teman : "Ini gigitan terakhir, lu mau bilang isinya masih di bawah lagi. Habis ini yang ada cuman daonnya,"
Ternyata memang benar arem-arem temen gw gak ada isinya. Sepertinya memang sang pembuat arem-arem lupa menaruh isinya, karena temen yang lain menunjukkan isi arem-aremnya.
Arem-arem gw? Gw tinggalin di atas meja, karena gw pergi sebelum sempet makan arem-arem itu.
Soal speak upnya, gw suka pembicaranya cuman pemandunya bikin bosen, panitianya gak bisa bikin acara itu lebih menarik.
Teman : "Ini isinya apa ya?" Sambil memungut isi dari dus snack yang diberikan
Gw : "Paling arem2, klo gak ayam ya sayur"
Satu gigitan dia makan, tetapi si arem2 belum menunjukkan isi dalemannya. Gw yang tadinya gak tertarik menjadi penasaran dengan isi si arem-arem (karena kebetulan saaat itu perut gw juga sudah bernyanyi)
Gw : "Gigit lagi, keknya isinya masih di dalem tuh,"
Gigitan kedua juga belum menampakkan tanda-tanda isi si arem-arem. Gw terus ngeliatin dan ngasih semangat temen gw buat makan arem-arem itu. Sampai akhirnya pada gigitan keempat.
Teman : "Ini gigitan terakhir, lu mau bilang isinya masih di bawah lagi. Habis ini yang ada cuman daonnya,"
Ternyata memang benar arem-arem temen gw gak ada isinya. Sepertinya memang sang pembuat arem-arem lupa menaruh isinya, karena temen yang lain menunjukkan isi arem-aremnya.
Arem-arem gw? Gw tinggalin di atas meja, karena gw pergi sebelum sempet makan arem-arem itu.
Soal speak upnya, gw suka pembicaranya cuman pemandunya bikin bosen, panitianya gak bisa bikin acara itu lebih menarik.
Sunday, October 16, 2011
Belajar Memimpin
Gw percaya tiap orang ditakdirkan menjadi pemimpin. Tiap orang wajib memimpin dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dalam hidupnya.
Jadi pemimpin itu gak gampang. Apalagi mimpin orang lain, memimpin diri sendiri gw rasa juga cukup berat. Mulai dari mendisiplinkan diri, tau mana yang menjadi prioritas dan menjalankannya. Gw terkadang masih suka bandel dengan aturan-aturan hidup yang gw bikin sendiri.
Kalo jadi pemimpin buat orang lain idealnya orang tersebut udah isa memimpin dirinya dengan baik dulu. Tapi seperti teori lain, keadaan ideal itu sangat jarang ditemui atau bahkan nyaris gak mungkin terjadi. Seorang pemimpin harus mampu menilai mana yang lebih prioritas, mengambil keputusan dengan cepat dan satu hal lagi bisa bersikap profesional. Salah satu sikap profesional yang isa terlihat dari seorang pemimpin adalah isa mengontrol diri baik ucapan maupun berbuatan.
Harusnya seorang pemimpin isa dengan lugas memilih mana yang baik dan mana yang salah. Bisa dengan cepat mengambil keputusan dan meraih kesempatan yang jarang ada. Seorang pemimpin juga harusnya isa bersikap optimis dan memberikan semangat pada anak buahnya ketika mereka terjatuh. Gw pikir hal itu harus dimulai dari sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila dia masih belum tau mana yang menjadi prioritas untuk dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa mengambil kesempatan yang mungkin ada.
Bagaimana mungkin seseorang dihaapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa menyemangati dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dan hanya pasrah dengan keadaan
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila kata-kata "ya memang tidak mampu" kerap keluar dari mulutnya tanpa usaha untuk memperbaiki diri.
Dan terahir, bagaimana mungkin seseorang yang tak tahan kritik diharapkan untuk menjadi payung bagi anggotanya.
Gw pikir, gw masih termasuk salah satu di antaranya. Gak pernah ada salahnya sesekali bercermin dan menilai diri sendiri, "sudah mampukah gw untuk menjadi pemimpin buat diri gw sendiri?"
Jadi pemimpin itu gak gampang. Apalagi mimpin orang lain, memimpin diri sendiri gw rasa juga cukup berat. Mulai dari mendisiplinkan diri, tau mana yang menjadi prioritas dan menjalankannya. Gw terkadang masih suka bandel dengan aturan-aturan hidup yang gw bikin sendiri.
Kalo jadi pemimpin buat orang lain idealnya orang tersebut udah isa memimpin dirinya dengan baik dulu. Tapi seperti teori lain, keadaan ideal itu sangat jarang ditemui atau bahkan nyaris gak mungkin terjadi. Seorang pemimpin harus mampu menilai mana yang lebih prioritas, mengambil keputusan dengan cepat dan satu hal lagi bisa bersikap profesional. Salah satu sikap profesional yang isa terlihat dari seorang pemimpin adalah isa mengontrol diri baik ucapan maupun berbuatan.
Harusnya seorang pemimpin isa dengan lugas memilih mana yang baik dan mana yang salah. Bisa dengan cepat mengambil keputusan dan meraih kesempatan yang jarang ada. Seorang pemimpin juga harusnya isa bersikap optimis dan memberikan semangat pada anak buahnya ketika mereka terjatuh. Gw pikir hal itu harus dimulai dari sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila dia masih belum tau mana yang menjadi prioritas untuk dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa mengambil kesempatan yang mungkin ada.
Bagaimana mungkin seseorang dihaapkan menjadi seorang pemimpin apabila dia masih belum bisa menyemangati dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dan hanya pasrah dengan keadaan
Bagaimana mungkin seseorang diharapkan menjadi pemimpin apabila kata-kata "ya memang tidak mampu" kerap keluar dari mulutnya tanpa usaha untuk memperbaiki diri.
Dan terahir, bagaimana mungkin seseorang yang tak tahan kritik diharapkan untuk menjadi payung bagi anggotanya.
Gw pikir, gw masih termasuk salah satu di antaranya. Gak pernah ada salahnya sesekali bercermin dan menilai diri sendiri, "sudah mampukah gw untuk menjadi pemimpin buat diri gw sendiri?"
Saturday, October 15, 2011
Kenapa Takut?
Kenapa takut kalau memang benar. Dalam kasus yang bakal gw ceritain kali ini lebih cocok kalo kalimat tadi gw ganti dengan "kenapa takut kalo emang ngerasa mampu".
Kita ambil contoh mudah, ketika kamu memang merasa mampu di bidang matematika, ujian matematika tentunya bukan suatu hal yang menakutkan. Tidak akan pernah ada kata "kenapa mesti ada ujian matematika? Ini tidak adil buatku," akan terucap dari mulut seseorang yang memang mampu di bidang matematika.
Suatu kompetisi menjadi tidak fair ketika seseorang yang bukan di bidang matematika ditandingkan di bidang matematika tanpa sepengatahuannya. Kompetisi menjadi tidak fair ketika seorang anak SD disuruh berlomba dengan anak SMA dengan materi yang baru disampaikan di SMA.
Jadi, kenapa mesti takut dikompetisikan kalau memang mampu. Kenapa mesti harus mengandalkan menjadi calon tunggal. Kenapa mesti harus takut untuk bertanding. Gw rasa orang yang bilang "ini gak fair buat kami" adalah orang yang takut melihat kekalahannya. Dengan kata lain dia tidak bisa menerima kekurangannya. Orang tersebut adalah seorang pengecut, dan biasanya seorang pengecut tak lebih dari seorang pencundang. Jadi, Kenapa Takut?
Kita ambil contoh mudah, ketika kamu memang merasa mampu di bidang matematika, ujian matematika tentunya bukan suatu hal yang menakutkan. Tidak akan pernah ada kata "kenapa mesti ada ujian matematika? Ini tidak adil buatku," akan terucap dari mulut seseorang yang memang mampu di bidang matematika.
Suatu kompetisi menjadi tidak fair ketika seseorang yang bukan di bidang matematika ditandingkan di bidang matematika tanpa sepengatahuannya. Kompetisi menjadi tidak fair ketika seorang anak SD disuruh berlomba dengan anak SMA dengan materi yang baru disampaikan di SMA.
Jadi, kenapa mesti takut dikompetisikan kalau memang mampu. Kenapa mesti harus mengandalkan menjadi calon tunggal. Kenapa mesti harus takut untuk bertanding. Gw rasa orang yang bilang "ini gak fair buat kami" adalah orang yang takut melihat kekalahannya. Dengan kata lain dia tidak bisa menerima kekurangannya. Orang tersebut adalah seorang pengecut, dan biasanya seorang pengecut tak lebih dari seorang pencundang. Jadi, Kenapa Takut?
Labels:
myroom
Saturday, October 8, 2011
Curcol Saya Hari Ini
Memahami perbedaan makna mungkin agak sulit bagi sebagian orang. Saya sendiri terkadang mengalaminya. Contohnya, tidak menyiarkan bukan berarti menutupi. Anggaplah keluarga anda sendiri memiliki suatu cacat, bukankah cacat tersebut tak perlu ditutupi ataupun di siarkan pada semua yang tak berkepentingan. Sebuah organisasi juga teradang memiliki kekurangan, tetapi jika kita akan melalukan promosi tentang suatu organisasi bukankah tak perlu untuk menyebarluaskan kekurangan organisasi tersebut? Logikanya adalah jika kita melukan suatu promosi, kita akan mengajak seseorang dengan memperlihatkan daya tarik yang dimiliki organisasi tersebut, bukan malah menyebarkan kekurangan organisasi yang bersangkutan. Kekurangan tersebut seharusnya hanya menjadi problem anggotanya untuk diselesaikan dan dicari jalan keluar yang terbaik.
**ungkapan kekecewaan seorang 'mantan' anggota organisasi tersebut**
**ungkapan kekecewaan seorang 'mantan' anggota organisasi tersebut**
Tuesday, September 27, 2011
Our 'Little' Problem
Beberapa hari yang lalu saya diminta oleh salah satu teman membantunya mengerjakan penelitian untuk thesis S2-nya. Singkatnya bantuan yang diminta darinya adalah menghitung jumlah kendaraan yang melintas selama 1 jam. Tak perlu saya sebutkan bagaimana cara menghitungnya. Yang menarik bagi saya adalah percakapan yang terjadi antara saya dan bapak polisi yang kebetulan lewat di tempat saya bekerja.
"Mbak, saya mau tanya. Kenapa sih yang dihitung selalu volume kendaraannya, bukan kapasitas jalannya" Tanya pak polisi itu.
"Saya kurang tau, Pak. Ini bukan penelitian saya. Disini saya hanya membantu," jawab saya waktu itu.
"Menurut mbak, gimana nih caranya biar mengurasngi kemacetan? Yah, menurut mbaknya aja," tanya pak polisi.
"Pembatasan jumlah kendaraan sekaligus peningkatan fasilitas kendaraan umum." Jawab saya.
"Tapi mbak, orang beli kendaraan itukan pake duit sendiri-sendir, seharusnya pemerintah gak boleh ngelarang yang seperti itu. Gimana kalo solusinya pembedaan waktu. Misalnya waktu masuk sekolah jam 7, terus waktu masuk kantor jam 8, kan itu juga bisa mengurangi kemacetan" kata pak polisi itu.
Nah dari percakapan singkat itu, saya kembali memikirkan pertanyaan pak polisi itu. Kemacetan sekarang merupakan salah satu dari masalah bukan? Bagi yang tinggal (sebut saja) di Jakarta, mungkin sudah terbiasa dengan macet. Berangkat lebih awal sebagai salah satu cara 'menghindari' kemacetan, tetapi bukan solusi untuk mengurangi kemacetan bukan? Apa bedanya dengan perbedaan jam kantor dan jam sekolah? Apa itu bukan cara lain untuk menghindari kemacetan?
Saya pikir, sebenarnya pembatasan jumlah kendaraan di jalan bisa dilakukan. Misalnya dengan pelarangan penggunaan BBM bersubsidi. Namun, hal itu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan transportasi umum. Hal itu dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum lagi daripada kendaraan pribadi.
Kenyataannya, sekarang ini keamanan dalam kendaraan umum sangat kecil, ditambah lagi beberapa fasilitas lain yang tak mengenakan. Tempat duduk gak nyaman, kendaraan kotor, mesin tak terawat adalah beberapa dari 'fasilitas' yang kurang menyenangkan di kendaraan umum.
"Masalah Kecil" ini bisa jadi besar nantinya, tetapi masih ada kemungkinan 'masalah kecil' ini bisa teratasi, kalau kita sama-sama peduli.
"Mbak, saya mau tanya. Kenapa sih yang dihitung selalu volume kendaraannya, bukan kapasitas jalannya" Tanya pak polisi itu.
"Saya kurang tau, Pak. Ini bukan penelitian saya. Disini saya hanya membantu," jawab saya waktu itu.
"Menurut mbak, gimana nih caranya biar mengurasngi kemacetan? Yah, menurut mbaknya aja," tanya pak polisi.
"Pembatasan jumlah kendaraan sekaligus peningkatan fasilitas kendaraan umum." Jawab saya.
"Tapi mbak, orang beli kendaraan itukan pake duit sendiri-sendir, seharusnya pemerintah gak boleh ngelarang yang seperti itu. Gimana kalo solusinya pembedaan waktu. Misalnya waktu masuk sekolah jam 7, terus waktu masuk kantor jam 8, kan itu juga bisa mengurangi kemacetan" kata pak polisi itu.
Nah dari percakapan singkat itu, saya kembali memikirkan pertanyaan pak polisi itu. Kemacetan sekarang merupakan salah satu dari masalah bukan? Bagi yang tinggal (sebut saja) di Jakarta, mungkin sudah terbiasa dengan macet. Berangkat lebih awal sebagai salah satu cara 'menghindari' kemacetan, tetapi bukan solusi untuk mengurangi kemacetan bukan? Apa bedanya dengan perbedaan jam kantor dan jam sekolah? Apa itu bukan cara lain untuk menghindari kemacetan?
Saya pikir, sebenarnya pembatasan jumlah kendaraan di jalan bisa dilakukan. Misalnya dengan pelarangan penggunaan BBM bersubsidi. Namun, hal itu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan transportasi umum. Hal itu dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum lagi daripada kendaraan pribadi.
Kenyataannya, sekarang ini keamanan dalam kendaraan umum sangat kecil, ditambah lagi beberapa fasilitas lain yang tak mengenakan. Tempat duduk gak nyaman, kendaraan kotor, mesin tak terawat adalah beberapa dari 'fasilitas' yang kurang menyenangkan di kendaraan umum.
"Masalah Kecil" ini bisa jadi besar nantinya, tetapi masih ada kemungkinan 'masalah kecil' ini bisa teratasi, kalau kita sama-sama peduli.
Subscribe to:
Posts (Atom)