Memahami perbedaan makna mungkin agak sulit bagi sebagian orang. Saya sendiri terkadang mengalaminya. Contohnya, tidak menyiarkan bukan berarti menutupi. Anggaplah keluarga anda sendiri memiliki suatu cacat, bukankah cacat tersebut tak perlu ditutupi ataupun di siarkan pada semua yang tak berkepentingan. Sebuah organisasi juga teradang memiliki kekurangan, tetapi jika kita akan melalukan promosi tentang suatu organisasi bukankah tak perlu untuk menyebarluaskan kekurangan organisasi tersebut? Logikanya adalah jika kita melukan suatu promosi, kita akan mengajak seseorang dengan memperlihatkan daya tarik yang dimiliki organisasi tersebut, bukan malah menyebarkan kekurangan organisasi yang bersangkutan. Kekurangan tersebut seharusnya hanya menjadi problem anggotanya untuk diselesaikan dan dicari jalan keluar yang terbaik.
**ungkapan kekecewaan seorang 'mantan' anggota organisasi tersebut**
Saturday, October 8, 2011
Tuesday, September 27, 2011
Our 'Little' Problem
Beberapa hari yang lalu saya diminta oleh salah satu teman membantunya mengerjakan penelitian untuk thesis S2-nya. Singkatnya bantuan yang diminta darinya adalah menghitung jumlah kendaraan yang melintas selama 1 jam. Tak perlu saya sebutkan bagaimana cara menghitungnya. Yang menarik bagi saya adalah percakapan yang terjadi antara saya dan bapak polisi yang kebetulan lewat di tempat saya bekerja.
"Mbak, saya mau tanya. Kenapa sih yang dihitung selalu volume kendaraannya, bukan kapasitas jalannya" Tanya pak polisi itu.
"Saya kurang tau, Pak. Ini bukan penelitian saya. Disini saya hanya membantu," jawab saya waktu itu.
"Menurut mbak, gimana nih caranya biar mengurasngi kemacetan? Yah, menurut mbaknya aja," tanya pak polisi.
"Pembatasan jumlah kendaraan sekaligus peningkatan fasilitas kendaraan umum." Jawab saya.
"Tapi mbak, orang beli kendaraan itukan pake duit sendiri-sendir, seharusnya pemerintah gak boleh ngelarang yang seperti itu. Gimana kalo solusinya pembedaan waktu. Misalnya waktu masuk sekolah jam 7, terus waktu masuk kantor jam 8, kan itu juga bisa mengurangi kemacetan" kata pak polisi itu.
Nah dari percakapan singkat itu, saya kembali memikirkan pertanyaan pak polisi itu. Kemacetan sekarang merupakan salah satu dari masalah bukan? Bagi yang tinggal (sebut saja) di Jakarta, mungkin sudah terbiasa dengan macet. Berangkat lebih awal sebagai salah satu cara 'menghindari' kemacetan, tetapi bukan solusi untuk mengurangi kemacetan bukan? Apa bedanya dengan perbedaan jam kantor dan jam sekolah? Apa itu bukan cara lain untuk menghindari kemacetan?
Saya pikir, sebenarnya pembatasan jumlah kendaraan di jalan bisa dilakukan. Misalnya dengan pelarangan penggunaan BBM bersubsidi. Namun, hal itu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan transportasi umum. Hal itu dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum lagi daripada kendaraan pribadi.
Kenyataannya, sekarang ini keamanan dalam kendaraan umum sangat kecil, ditambah lagi beberapa fasilitas lain yang tak mengenakan. Tempat duduk gak nyaman, kendaraan kotor, mesin tak terawat adalah beberapa dari 'fasilitas' yang kurang menyenangkan di kendaraan umum.
"Masalah Kecil" ini bisa jadi besar nantinya, tetapi masih ada kemungkinan 'masalah kecil' ini bisa teratasi, kalau kita sama-sama peduli.
"Mbak, saya mau tanya. Kenapa sih yang dihitung selalu volume kendaraannya, bukan kapasitas jalannya" Tanya pak polisi itu.
"Saya kurang tau, Pak. Ini bukan penelitian saya. Disini saya hanya membantu," jawab saya waktu itu.
"Menurut mbak, gimana nih caranya biar mengurasngi kemacetan? Yah, menurut mbaknya aja," tanya pak polisi.
"Pembatasan jumlah kendaraan sekaligus peningkatan fasilitas kendaraan umum." Jawab saya.
"Tapi mbak, orang beli kendaraan itukan pake duit sendiri-sendir, seharusnya pemerintah gak boleh ngelarang yang seperti itu. Gimana kalo solusinya pembedaan waktu. Misalnya waktu masuk sekolah jam 7, terus waktu masuk kantor jam 8, kan itu juga bisa mengurangi kemacetan" kata pak polisi itu.
Nah dari percakapan singkat itu, saya kembali memikirkan pertanyaan pak polisi itu. Kemacetan sekarang merupakan salah satu dari masalah bukan? Bagi yang tinggal (sebut saja) di Jakarta, mungkin sudah terbiasa dengan macet. Berangkat lebih awal sebagai salah satu cara 'menghindari' kemacetan, tetapi bukan solusi untuk mengurangi kemacetan bukan? Apa bedanya dengan perbedaan jam kantor dan jam sekolah? Apa itu bukan cara lain untuk menghindari kemacetan?
Saya pikir, sebenarnya pembatasan jumlah kendaraan di jalan bisa dilakukan. Misalnya dengan pelarangan penggunaan BBM bersubsidi. Namun, hal itu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan transportasi umum. Hal itu dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum lagi daripada kendaraan pribadi.
Kenyataannya, sekarang ini keamanan dalam kendaraan umum sangat kecil, ditambah lagi beberapa fasilitas lain yang tak mengenakan. Tempat duduk gak nyaman, kendaraan kotor, mesin tak terawat adalah beberapa dari 'fasilitas' yang kurang menyenangkan di kendaraan umum.
"Masalah Kecil" ini bisa jadi besar nantinya, tetapi masih ada kemungkinan 'masalah kecil' ini bisa teratasi, kalau kita sama-sama peduli.
Saturday, August 6, 2011
Only Time
Gw inget satu pertanyaan yang terlontar dari mulut gw ke temen gw "kalo emang Tuhan menciptakan rasa sayang itu buat kebahagiaan, kenapa gw mesti sakit karena sayang sama orang lain?"
Jawaban dari temen gw "Yah, itu sih karna apes aja, kayak gw, lu. Yang namanya orang yang pernah sakit itu pasti ninggalin bekas, dan bekas itu kalo dikorek masih tetep sakit."
Saat jawaban dari temen gw terlontar gw gak tau apa yang harus gw lakuin. Gw gak tau apa jawaban itu bener apa engga. Secara tiba-tiba gw ngerasa ngilu sendiri, gw ngerasain lagi sakit yang sempet gw lupain.
Ah, sudahlah. Toh luka itu makin lama akan mengering dengan sendirinya. Jaringan kulit akan membentuk sel-sel baru yang akan menggantikan sel lama yang telah mati. Yang dibutuhkan hanyalah waktu. Ada saatnya nanti rasa sayang itu terbalaskan, walaupun bukan dengan orang yang kita sayang saat ini. Mungkin memang harus begini dahulu, mungkin memang belom saatnya.
Jawaban dari temen gw "Yah, itu sih karna apes aja, kayak gw, lu. Yang namanya orang yang pernah sakit itu pasti ninggalin bekas, dan bekas itu kalo dikorek masih tetep sakit."
Saat jawaban dari temen gw terlontar gw gak tau apa yang harus gw lakuin. Gw gak tau apa jawaban itu bener apa engga. Secara tiba-tiba gw ngerasa ngilu sendiri, gw ngerasain lagi sakit yang sempet gw lupain.
Ah, sudahlah. Toh luka itu makin lama akan mengering dengan sendirinya. Jaringan kulit akan membentuk sel-sel baru yang akan menggantikan sel lama yang telah mati. Yang dibutuhkan hanyalah waktu. Ada saatnya nanti rasa sayang itu terbalaskan, walaupun bukan dengan orang yang kita sayang saat ini. Mungkin memang harus begini dahulu, mungkin memang belom saatnya.
Thursday, August 4, 2011
selingkuh
Ada sesuatu hal yang gw bingung dengan satu kata ini : "Selingkuh". Selingkuh itu apa sih? Yang dimaksud selingkuh itu yang seperti apa?
Dalam satu relationship banyak orang punya pendapat tentang selingkuh.
1. Selingkuh itu ketika lu jalan ma orang lain padahal lu masih punya pacar.
2. Selingkuh itu ketika lu punya pacar lain selain pacar lu
3. Selingkuh itu ketika lu ngelakuin hubungan badan ma orang lain selian pasangan lu.
4. Selingkuh itu ketika hati lu dah gak buat pacarlu.
Kalau buat gw sendiri, gw gak tau gw termasuk yang mana dalam memaknai kata selingkuh, karena saat ini gw sedang sendiri, gak ada satu ikatan apapun sama orang lain. Dan selingkuh itu terkadang hanyalah suatu kedok dari ketidaknyamanan suatu hubungan.
Dalam satu relationship banyak orang punya pendapat tentang selingkuh.
1. Selingkuh itu ketika lu jalan ma orang lain padahal lu masih punya pacar.
2. Selingkuh itu ketika lu punya pacar lain selain pacar lu
3. Selingkuh itu ketika lu ngelakuin hubungan badan ma orang lain selian pasangan lu.
4. Selingkuh itu ketika hati lu dah gak buat pacarlu.
Kalau buat gw sendiri, gw gak tau gw termasuk yang mana dalam memaknai kata selingkuh, karena saat ini gw sedang sendiri, gak ada satu ikatan apapun sama orang lain. Dan selingkuh itu terkadang hanyalah suatu kedok dari ketidaknyamanan suatu hubungan.
Wednesday, June 29, 2011
Then, so?
Apa yang bakalan kamu lakukan ketika bertemu dengan seseorang yang kamu kagumi? teriak histeris, ngejar dia minta tanda tangan, atau mungkin foto bareng?
Kalau saya...saya juga tak pernah memikirkan apa yang saya akan lakukan ketika bertemu dengan orang yang saya kagumi. Tapi itu terjadi pagi ini.
Lepas berenang saya makan di salah satu tempat makan dan bertemu dengan seseorang yang saya kagumi. Apa yang saya lakukan? saya hanya menyapanya menyebutkan nama dan berjabat tangan. Sekedar basa-basi dia bertanya : "sudah selesai makan?" Saya hanya menjawab "baru pesan" sambil tersenyum lalu berlalu ke meja saya.
Simple, tapi tak sesuai yang saya harapkan. Setelah kejadian singkat itu saya berandai-andai jika saja saya tadi sempat mengobrol atau apapun yang membuat saya bisa mengenal lebih dekat dirinya, pasti menyenangkan. Tetapi apa yang telah saya lakukan tidak bisa membuat dia bahkan mengingat wajah saya nantinya.
Kami begitu berbeda melihat satu sama lain. Buat saya, dia adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang saya kagumi, sedangkan buat dia saya hanyalah orang asing yang kebetulan mengenalnya.
So, ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu kagumi, apa yang akan kamu lakukan? Karena apapun yang kadang terlintas dipikiranmu tidak selalu sejalan dengan apa yang kamu lakukan saat situasi itu datang padamu.
Kalau saya...saya juga tak pernah memikirkan apa yang saya akan lakukan ketika bertemu dengan orang yang saya kagumi. Tapi itu terjadi pagi ini.
Lepas berenang saya makan di salah satu tempat makan dan bertemu dengan seseorang yang saya kagumi. Apa yang saya lakukan? saya hanya menyapanya menyebutkan nama dan berjabat tangan. Sekedar basa-basi dia bertanya : "sudah selesai makan?" Saya hanya menjawab "baru pesan" sambil tersenyum lalu berlalu ke meja saya.
Simple, tapi tak sesuai yang saya harapkan. Setelah kejadian singkat itu saya berandai-andai jika saja saya tadi sempat mengobrol atau apapun yang membuat saya bisa mengenal lebih dekat dirinya, pasti menyenangkan. Tetapi apa yang telah saya lakukan tidak bisa membuat dia bahkan mengingat wajah saya nantinya.
Kami begitu berbeda melihat satu sama lain. Buat saya, dia adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang saya kagumi, sedangkan buat dia saya hanyalah orang asing yang kebetulan mengenalnya.
So, ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu kagumi, apa yang akan kamu lakukan? Karena apapun yang kadang terlintas dipikiranmu tidak selalu sejalan dengan apa yang kamu lakukan saat situasi itu datang padamu.
Friday, June 17, 2011
Budayakan Sopan Yuk
Kejadian kemarin di salah satu tempat makan membuat saya menjadi ingat tentang nasihat mama untuk bersikap sopan dimanapun.
1. Kalo ada orang lain lagi duduk dan saya harus lewat di depannya, saya harus berkata permisi.
2 Ketika saya ingin mengambil sesuatu di depan orang lain saya juga harus berkata permisi dan menyapa entah itu, pak, bu, mbak, mas, oom, tante dan sebagainya.
Selain itu cerita dari seorang kakak angakatan saat awal datang ke Jogja juga selalu mengingatkan saya untuk menjaga kesopanan jika berbicara dengan orang lain.
Bukan saya gila hormat atau apapun sebutannya, saya hanya merasa masih ada norma kesopanan yang berlaku di masyarakat Indonesia. Atau mungkin saya yang terlalu berposistif thinking bahwa semua penduduk Indonesia masih ingat sopan santun dan adabnya. Tapi ternyata kemarin saya menemukan seorang perempuan Indonesia yang tiba-tiba mengambil sesuatu dari depan saya tanpa mengucapkan permisi atau apapun.
Entah saya yang sedang sensitif atau ada kesalahan lain pada otak saya, saya merasa jengah dengan sikapnya. Setidaknya jagalah kesopanan di tempat umum.
1. Kalo ada orang lain lagi duduk dan saya harus lewat di depannya, saya harus berkata permisi.
2 Ketika saya ingin mengambil sesuatu di depan orang lain saya juga harus berkata permisi dan menyapa entah itu, pak, bu, mbak, mas, oom, tante dan sebagainya.
Selain itu cerita dari seorang kakak angakatan saat awal datang ke Jogja juga selalu mengingatkan saya untuk menjaga kesopanan jika berbicara dengan orang lain.
Bukan saya gila hormat atau apapun sebutannya, saya hanya merasa masih ada norma kesopanan yang berlaku di masyarakat Indonesia. Atau mungkin saya yang terlalu berposistif thinking bahwa semua penduduk Indonesia masih ingat sopan santun dan adabnya. Tapi ternyata kemarin saya menemukan seorang perempuan Indonesia yang tiba-tiba mengambil sesuatu dari depan saya tanpa mengucapkan permisi atau apapun.
Entah saya yang sedang sensitif atau ada kesalahan lain pada otak saya, saya merasa jengah dengan sikapnya. Setidaknya jagalah kesopanan di tempat umum.
Friday, May 20, 2011
14 mei
Sudah lama aku tak menulis. Bahkan sekedar mengotori buku catatan kecil yang kupunya. Entahlah, bukan tak ada yang ingin ku katakan untuk ku ingat nantinya, hanya mungkin aku masih tak tau pasti apa yang kuinginkan.
Aku ingin bisa kembali berpuisi, sekedar mengatakan sesuatu dengan lebih indah. Hanya akhir-akhir ini aku merasa hambar, perasaanku nyaris mati.
Ada satu cerita yang terjadi beberapa hari ini. Sesuatu yang sebenarnya ingin aku tuliskan, ingin aku ceritakan. Masih kembali tentang dia.
2 Minggu yang lalu ketika aku datang ke rumahnya ada sedikit harapanku untuk bisa melihatnya lagi 1 minggu kemudian. Harapan yang aku tau itu kosong. Saat itu aku sadar sepenuhnya aku tak pernah jadi bagian dari hidupnya, sedangkan dia, aku yang memaksanya masuk dalam hidupku.
Pertemuan kami tak pernah lama, setidaknya bagiku waktu berjalan terlalu cepat. Saat terakhir aku berkata padanya "So, haruskah sekarang atau aku bilang happy b'day minggu depan?"
Sambil tersenyum kamu bilang "jangan bikin aku inget tentang itu."
Hari ini, nyaris 1 minggu lepas dari ulang tahunmu. Sesuai janjiku, aku tak mengingatkanmu tentang bertambahnya usiamu. Aku tak pernah mengucapkannya karna aku tak pernah berani.
AKu tak pernah lagi bisa menuliskan kata2 puitis atau sesuatu yang indah. Bagiku saat ini keindahan, ketenangan ada padamu. Betapa kata-katamu terlalu mempengaruhi hidupku. Aku mulai takut tentang itu.
And finaly, Selamat hari lahir lebih 1 minggu. Good luck.
Aku ingin bisa kembali berpuisi, sekedar mengatakan sesuatu dengan lebih indah. Hanya akhir-akhir ini aku merasa hambar, perasaanku nyaris mati.
Ada satu cerita yang terjadi beberapa hari ini. Sesuatu yang sebenarnya ingin aku tuliskan, ingin aku ceritakan. Masih kembali tentang dia.
2 Minggu yang lalu ketika aku datang ke rumahnya ada sedikit harapanku untuk bisa melihatnya lagi 1 minggu kemudian. Harapan yang aku tau itu kosong. Saat itu aku sadar sepenuhnya aku tak pernah jadi bagian dari hidupnya, sedangkan dia, aku yang memaksanya masuk dalam hidupku.
Pertemuan kami tak pernah lama, setidaknya bagiku waktu berjalan terlalu cepat. Saat terakhir aku berkata padanya "So, haruskah sekarang atau aku bilang happy b'day minggu depan?"
Sambil tersenyum kamu bilang "jangan bikin aku inget tentang itu."
Hari ini, nyaris 1 minggu lepas dari ulang tahunmu. Sesuai janjiku, aku tak mengingatkanmu tentang bertambahnya usiamu. Aku tak pernah mengucapkannya karna aku tak pernah berani.
AKu tak pernah lagi bisa menuliskan kata2 puitis atau sesuatu yang indah. Bagiku saat ini keindahan, ketenangan ada padamu. Betapa kata-katamu terlalu mempengaruhi hidupku. Aku mulai takut tentang itu.
And finaly, Selamat hari lahir lebih 1 minggu. Good luck.
Subscribe to:
Posts (Atom)